Perombakan Kabinet Saudi, Upaya Mengurangi Tekanan Dunia
-
Putra Mahkota Arab Saud Mohammed bin Salman (MBS).
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dalam sebuah keputusan yang tidak diduga memerintahkan perombakan kabinet pemerintahannya. Sejumlah pejabat tinggi negara diganti, termasuk menteri luar negeri dan kepala garda nasional.
Perombakan kabinet Arab Saudi diumumkan pada hari Kamis, 27 Desember 2018. Ibrahim al-Assaf ditunjuk untuk menggantikan posisi Adel al-Jubeir sebagai menteri luar negeri. Al-Assaf adalah mantan menteri keuangan yang sempat ditahan saat dilakukan penindakan terhadap para terduga korupsi November 2017.
Anehnya, dalam perombakan tersebut, posisi Mohammed bin Salman (MBS) sebagai Putra Mahkota Arab Saudi sekaligus pemimpin de facto kerajaan ini tidak tersentuh sama sekali, pahadal MBS diduga kuat terlibat dalam kasus pembunuhan Jurnalis Jamal Khashoggi.
Hal itu mengindikasikan bahwa ada upaya untuk tetap mempertahankan dan membersihkan nama MBS dari kasus yang membuat heboh duia tersebut. Pergantian menlu Arab Saudi juga diyakini sebagai upaya untuk memperbaiki citra negara ini setelah tercoreng atas pembunuhan Khashoggi dan perang Yaman.
Penunjukan al-Assaf untuk mengganti al-Jubeir juga merupakan upaya untuk meyakinkan para investor asing setelah Arab Saudi didera krisis kepercayaan menyusul terungkapnya kasus pembunuhan Khashoggi.
Selain melakukan perombakan besar di kabinet, Raja Salman juga memerintahkan peninjauan kembali struktur Dewan Politik dan Keamanan yang dipimpin oleh MBS. Perombakan besar ini diyakini sejumlah pihak sebagai upaya untuk memperkuat konsolidasi kekuatan oleh MBS.
Perombakan kabinet Arab Saudi diyakini juga untuk membersihkan nama MBS demi mempersiapkannya sebagai raja mendatang. Selain itu, ada upaya untuk memunculkan keyakinan bahwa seluruh kesalahan adalah untuk mereka yang diberhentikan dan MBS tidak memiliki kesalahan dalam kasus pembunuhan Khashoggi.
Seorang pengacara dan analis politik Turki Sedghi Zilan kepada radio berbahasa Turki mengatakan, perombakan kabinet Arab Saudi adalah langkah dramatis untuk mengurangi tekanan internasional terhadap negara ini akibat kelanjutan agresi dan pembantaian terhadap rakyat Yaman serta kasus pembunuhan keji terhadap Khashoggi.
Ia menambahkan, melalui perombakan tersebut, rezim Al Saud berusaha membebaskan MBS dari tekanan opini publik atas kasus pembunuhan Khashoggi dan menegaskan ketidakterlibatanya dalam kasus ini.
Menurut Sedghi, dukungan negara-negara Barat kepada MBS dan upaya untuk menutupi kasus pembunuhan terhadap Khashoggi tidak mampu menyelamatkan rezim Al Saud, oleh karena itu tidak ada cara lain kecuali dengan perombakan kabinet.
Arab Saudi yang memiliki sumber energi yang melimpah terutama minyak selalu menjadi incaran keserakahan kekuatan-kekuatan dunia. Untuk bisa mengeruk kekayaan alam ini, kekuatan-kekuatan dunia melindungi rezim Al Saud dan menutup mata atas kejahatan dan keserakahan rezim ini, terutama menutup mata atas beragam pelanggaran HAM yang dilakukan Arab Saudi. (RA)