Menelisik Kesepakatan AS-Turki Mendirikan Pusat Operasi Bersama di Suriah
Presiden Turki mengkonfirmasikan kesepakatan negaranya dengan Amerika Serikat untuk membangun sistem pusat operasi bersama di Suriah.
Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki dalam konferensi pers bersama dengan Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina di Ankara mengatakan, "Delegasi Turki dan Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan untuk mendirikan satu pusat operasi bersama dengan tujuan kedua pihak dapat melakukan koordinasi untuk membentuk zona aman di utara Suriah."
Kedutaan besar Amerika Serikat di Ankara juga mengeluarkan pernyataan yang menekankan bahwa dua delegasi ini telah mencapai kesepakatan soal isu-isu yang diperselisihkan sebelumnya dalam perundingan untuk membentuk zona aman di utara Suriah.
Sekaitan dengan langkah Turki ini harus dikatakan bahwa Turki sejak awal krisis Suriah, selalu melihat daerah utara negara ini dan warga Kurdi yang tinggal di sana sebagai ancaman bagi negaranya. Turki meyakini bahwa milisi Kurdi Suriah tidak berbeda dengan Partai Pekerja Kurdistan Turki (PPK) dan berbagai senjata yang dikirim Amerika Serikat kepada mereka selama beberapa tahun lalu pada akhirnya akan digunakan melawan Turki.
Colin P. Clarke, pakar masalah Timur Tengah menulis, "Utara Suriah telah berubah menjadi kekhawatiran besar bagi Turki dan dukungan Amerika Serikat terhadap kelompok-kelompok militer Kurdi menjadi penghalang bagi tindakan yang ingin diambil Turki."
Mencermati kenyataan ini, Turki selalu berusaha untuk menghilangkan kendala ini dan tampaknya, dengan langkah terbaru Amerika Serikat untuk membentuk ruang komando operasi bersama akan mewujudkan harapan Ankara. Harapan Turki terwujudkan ketika pemerintah Amerika Serikat sendiri sebagai negara penjajah dan tanpa persetujuan pemerintah Suriah berada di teritorial negara ini. Dengan demikian, rencana Turki dan Amerika Serikat untuk menyerang ke timur sungai Furat (Eufrat) telah melanggar aturan internasional dan kedaulatan negara Suriah.
Dalam kondisi yang demikian, pemerintah Suriah dan sekutunya berhak untuk melindungi warga Suriah dengan mereaksi serius atas langkah Turki dan Amerika Serikat. Karena itulah, Kementerian Luar Negeri Suriah mereaksi kesepakatan Amerika Serikat dan Turki terkait utara Suriah dengan menekankan, "Kesepakatan ini merupakan agresi nyata terhadap kedaulatan dan teritorial Suriah serta pelanggaran jelas akan prinsip dan dasar hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa."
Sudah semestinya pemerintah Turki harus melihat kondisi yang ada dan dengan memanfaatkan mekanisme regional dan melakukan konvergensi dengan pemerintah Suriah sehingga dapat menyiapkan sarana demi mencegah terbentuknya zona aman bagi kelonpok-kelompok teroris, lalu para pemain asing yang hadir di negara ini tanpa izin pemerintah Damaskus segera meneinggalkan Suriah. Turki juga harus tahu bahwa bekerja sama dengan Amerika Serikat terkait masalah ini justru akan membuat situasi kawasan menjadi semakin kompleks.