Pertanyaan Penting bagi Rakyat Amerika: Mengapa Terus Memusuhi Iran
Liputan media yang luas serta narasi yang dibangun oleh media Barat dan Zionis tentang aksi-aksi berkumpulnya para penentang Republik Islam di berbagai negara, khususnya Amerika Serikat, menghadapi satu pertanyaan mendasar: apakah kebebasan berekspresi juga tersedia bagi warga negara Amerika sendiri sampai pada tingkat yang sama?
Aksi-aksi protes terbaru di Iran yang pada awalnya sepenuhnya bersifat sipil dan berfokus pada tuntutan-tuntutan profesi dan sosial, dengan campur tangan Amerika dan Israel serta infiltrasi teroris bersenjata yang berafiliasi dengan mereka, berubah menjadi kekerasan dan kerusuhan. Lebih dari 2.400 orang dari warga sipil dan aparat penjaga keamanan gugur sebagai martir akibat tindakan unsur-unsur teroris tersebut.
Ini merupakan sebuah proyek yang bertujuan, melalui penciptaan korban dan propaganda media, untuk menutupi kejahatan luas Israel di Gaza serta membuka jalan bagi intervensi (atau bahkan agresi militer) Amerika terhadap Iran.
Dalam laporan Pars Today ini, berbagai dimensi persoalan tersebut akan dibahas lebih lanjut.
Rakyat Iran, setelah menyaksikan kejahatan dan tindakan brutal unsur-unsur yang berafiliasi dengan pihak asing, pada 12 Januari turun ke jalan dan menyatakan solidaritas serta dukungan mereka terhadap sistem Republik Islam. Kehadiran massa dalam jumlah besar di seluruh Iran mengubah realitas lapangan dan keseimbangan kekuatan bagi para perancang proyek kerusuhan dan pembantaian rakyat, dan mereka menyadari bahwa kelanjutan “pertunjukan kekerasan” ini di dalam Iran tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, dengan mengubah taktik, pusat gravitasi protes diarahkan ke luar negeri, agar mungkin dengan “napas buatan”, apa yang oleh para pemimpin kerusuhan disebut sebagai “revolusi nasional” dapat dipertahankan hidupnya untuk beberapa waktu lagi.
Namun pertanyaan yang muncul adalah: revolusi macam apa ini yang sama sekali tidak mendapat dukungan dari rakyat di dalam Iran? Bahkan sebaliknya, rakyat di seluruh Iran dengan kehadiran jutaan orang justru menyatakan penolakan terhadap para pelaku dan pemimpin tindakan-tindakan tersebut. Namun sebagaimana disebutkan, propaganda media yang sebagian besar berafiliasi dengan Barat dan rezim Zionis, melalui rekayasa narasi dan pembalikan fakta, berusaha menyesatkan opini publik dunia terhadap Iran.
Dalam konteks ini, salah satu isu yang disorot oleh media-media anti-Iran dalam beberapa hari terakhir adalah terbentuknya aksi-aksi berkumpul sporadis yang menentang Republik Islam di sejumlah kota dunia. Sebagai contoh, situs web Iran International, yang salah satu kantornya berlokasi di Tel Aviv, melaporkan penyelenggaraan pawai di berbagai kota di Amerika Serikat, Kanada, Jerman, dan Inggris.
Tampaknya demonstrasi di Amerika lebih ramai, dan kota-kota seperti Los Angeles, Washington DC, San Francisco, Sacramento, Atlanta, dan Austin menjadi tuan rumah para demonstran penentang Republik Islam. Aksi-aksi yang diklaim dihadiri oleh beberapa ribu orang di masing-masing lokasi tersebut.
Penelusuran redaksi Pars Today menunjukkan bahwa banyak dari aksi-aksi berkumpul ini diselenggarakan oleh kelompok teroris Mujahidin Khalq yang di Iran dikenal dengan nama Munafikin (MKO), dan dilakukan dengan jumlah massa yang kecil. Aksi-aksi semacam ini dalam budaya populer masyarakat Iran dikenal sebagai aksi yang “jumlah fotonya lebih banyak daripada jumlah pesertanya.”
Rekam jejak rekayasa angka tanpa dasar dan penyajian statistik palsu di media yang berafiliasi dengan kelompok-kelompok penentang Republik Islam sangat banyak. Sebagai contoh, dapat disebutkan penyajian angka-angka yang saling bertentangan tentang korban tewas dalam protes Iran, dari 6.000 hingga 60.000 orang, sementara pemerintah Iran pada hari Minggu menerbitkan daftar sekitar 3.000 nama korban lengkap dengan kode nasional identitas mereka.
Kelemahan lain dalam narasi media Barat kembali pada kecerobohan dalam penggunaan angka dan istilah kuantitatif. Misalnya, beberapa media melaporkan adanya aksi besar ribuan orang dari warga Iran penentang Republik Islam di berbagai kota Eropa, dari Siprus hingga Jerman dan Inggris. Padahal, misalnya berdasarkan sensus, jumlah warga Iran yang tinggal di kota Cologne, Jerman, sekitar 4.000 orang (bahkan lebih sedikit dari jumlah warga Afghanistan di kota yang sama).
Angka-angka yang disajikan tentang jumlah demonstran di kota dan negara lain juga memiliki kondisi serupa. Di banyak wilayah tersebut, jumlah warga Iran bahkan tidak mencapai beberapa ribu orang. Lalu bagaimana mungkin aksi puluhan ribu orang dapat diselenggarakan? Di sisi lain, apakah media Barat dan Israel memperhatikan fakta bahwa jumlah massa yang hanya di kota Teheran saja (tanpa menghitung kota-kota lain di Iran) yang turun ke jalan mendukung Republik Islam, jauh lebih besar daripada total keseluruhan jumlah penentang yang mereka klaim di seluruh dunia?
Kesaksian seorang jurnalis Iran tentang pembagian uang oleh penentang Republik Islam untuk mengajak orang ikut demonstrasi: per orang 25 euro!
Pawai rakyat Teheran dalam dukungan terhadap persatuan nasional dan kecaman terhadap aksi teror Amerika dan rezim Zionis terhadap bangsa Iran, 12 Januari.
Belum lama berlalu sejak gelombang protes besar warga Amerika terhadap pemerintahan Trump. Pusat utama protes ini adalah negara bagian Minnesota, khususnya kota Minneapolis; tempat di mana terbunuhnya dua demonstran, Rene Goude dan Alex Perty, oleh petugas imigrasi, memicu gelombang kemarahan publik. Rene Goude adalah seorang ibu muda yang baru berusia 37 tahun. Alex Perty juga seorang perawat muda. Keduanya tewas akibat tembakan langsung aparat pemerintah Amerika. Dalam kasus Alex, ia terkena 9 peluru senjata perang.
Demonstrasi warga Amerika di Minneapolis, 23 Januari
Tampaknya pertanyaan penting dan mendasar yang harus diajukan baik oleh rakyat Amerika maupun oleh audiens media Barat dan Zionis adalah ini: bagaimana mungkin demonstrasi ribuan orang menentang Republik Islam dapat diselenggarakan di berbagai kota Amerika Serikat, dengan keamanan para peserta dijamin oleh polisi Amerika dan tanpa seorang pun terluka, tetapi pada saat yang sama, jika rakyat negara itu sendiri memprotes kebijakan pemerintah mereka, mereka tanpa belas kasihan dan tanpa ragu menjadi sasaran tembakan aparat sebangsa mereka sendiri?
Mungkin jawaban atas pertanyaan ini dapat membuka simpul-simpul buta lain yang ada dalam kisah-kisah media Barat tentang dimensi protes di Iran atau tentang statistik jumlah korban tewas.(PH)