Mengapa AS Menerapkan Standar Ganda berupa Negosiasi dan Ancaman terhadap Iran?
https://parstoday.ir/id/news/world-i184976-mengapa_as_menerapkan_standar_ganda_berupa_negosiasi_dan_ancaman_terhadap_iran
Pemerintahan Trump mengikuti kebijakan ganda berupa negosiasi dan ancaman terhadap Iran.
(last modified 2026-02-03T07:55:09+00:00 )
Feb 03, 2026 14:52 Asia/Jakarta
  • Mengapa AS Menerapkan Standar Ganda berupa Negosiasi dan Ancaman terhadap Iran?

Pemerintahan Trump mengikuti kebijakan ganda berupa negosiasi dan ancaman terhadap Iran.

Menurut laporan Pars Today, pemerintahan Trump secara bersamaan menempuh kebijakan negosiasi dan ancaman terhadap Iran. Dalam konteks ini, Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, dengan merujuk pada pernyataan kontradiktif pejabat negaranya, terutama Donald Trump, terhadap Iran, mengulangi klaim bahwa Presiden AS tidak menginginkan konflik dengan Iran.

Hegseth mengklaim: “Presiden Trump berkomitmen pada perdamaian dan jika Iran benar-benar serius untuk bernegosiasi, dia juga berkomitmen untuk mencapai kesepakatan. Sekarang mari kita lihat bagaimana hasilnya.” Dengan mengulang klaim Washington tentang Iran, ia menuduh: “Presiden Trump sejak awal, dan seperti yang telah dikatakannya sebelum operasi ‘Midnight Hammer’, menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir. Oleh karena itu, mereka harus bernegosiasi dalam hal ini, atau kami memiliki opsi lain, dan itulah salah satu alasan keberadaan Departemen Pertahanan.”

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, juga mengatakan pada hari Senin di Gedung Putih: “Kami sedang melakukan pembicaraan dengan Iran; mari kita lihat bagaimana situasinya berkembang.” Ia menambahkan pernyataan kontradiktifnya: “Saat ini kami telah mengirim kapal besar ke arah Iran dan kami sedang melakukan pembicaraan dengan Iran, dan kita akan melihat bagaimana semuanya berjalan.” Trump mengklaim: “Kami sedang bernegosiasi dengan Iran, dan jika bisa mencapai kesepakatan, itu akan sangat baik; jika tidak, kemungkinan akan terjadi hal-hal buruk.”

Dalam periode kedua kepresidenan Donald Trump, kebijakan ganda Amerika terhadap Iran menjadi semakin terlihat. Kebijakan ini merupakan kombinasi dari ancaman militer dan tekanan ekonomi di satu sisi, dan undangan untuk bernegosiasi di sisi lain, dengan tujuan agar Washington dapat mencapai tuntutannya dari Teheran. Dengan demikian, ancaman militer dan perluasan sanksi ekonomi berfungsi sebagai alat bagi Amerika untuk memaksa Iran menerima syaratnya dalam setiap negosiasi.

Salah satu alasan utama kebijakan ganda Amerika terhadap Iran pada masa Trump adalah kekhawatiran yang diklaim terkait kemampuan Iran memperkuat program nuklir dan pengaruh regionalnya. Trump sangat menentang kesepakatan nuklir JCPOA dan menarik diri dari perjanjian itu secara sepihak pada tahun 2018. Keluar dari JCPOA dan penerapan kembali sanksi merupakan bentuk ancaman ekonomi dan politik terhadap Iran. Trump percaya bahwa penerapan tekanan maksimum dapat memaksa Iran untuk bernegosiasi ulang dan menerima kondisi yang lebih ketat.

Di sisi lain, meskipun ada tekanan ekonomi dan ancaman militer, termasuk penempatan militer AS yang besar di wilayah Asia Barat, Trump juga menawarkan kemungkinan negosiasi. Dualitas ini menunjukkan upaya Amerika menciptakan posisi yang menguntungkan untuk negosiasi, di mana Iran berada di bawah tekanan untuk menerima persyaratan baru. Trump telah menyatakan kesiapannya untuk bernegosiasi dengan Iran. Undangan negosiasi ini adalah bagian dari strategi pemerintah Trump untuk menciptakan peluang mencapai kesepakatan baru yang lebih sulit dan berisi tuntutan lebih banyak dari Iran. Trump kini, selain menuntut hal-hal terkait nuklir seperti pengayaan nol persen dan penghancuran atau pengeluaran cadangan 400 kilogram uranium yang diperkaya 60 persen, juga menuntut pembatasan ketat atas kemampuan rudal dan drone Iran, serta perubahan signifikan dalam kebijakan regional Teheran dengan menghentikan dukungan terhadap poros perlawanan di kawasan.

Alasan lain dari kebijakan ini, terutama pada periode kedua kepresidenan Trump, adalah perubahan dalam keseimbangan regional dan global. Trump ingin menghadapi pengaruh Iran di wilayah Asia Barat dan dalam konteks ini berusaha melalui tekanan ekonomi, politik, dan ancaman serangan militer untuk membuat Teheran menghentikan dukungannya terhadap kelompok-kelompok poros perlawanan. Dalam konteks ini, Amerika berusaha memaksa Iran melalui ancaman militer dan penguatan sanksi, terutama dengan menciptakan hambatan serius terhadap ekspor minyak, agar Iran mengubah perilaku dan kebijakan regionalnya.

Dampak dari kebijakan ganda ini terhadap Iran, khususnya dalam hubungan diplomatik, ekonomi, dan keamanan, sangat signifikan. Di satu sisi, tekanan ekonomi dan sanksi yang dimulai sejak 2018 dalam kerangka “tekanan maksimum” telah menyebabkan penurunan pendapatan minyak Iran dan meningkatnya masalah ekonomi, dengan tujuan meningkatkan ketidakpuasan internal dan menciptakan kerusuhan domestik di Iran. Namun, Teheran menanggapi tekanan ini dengan memperkuat dan memperluas program nuklir damai, melanjutkan uji coba rudal, dan meningkatkan kemampuan pertahanannya.

Di sisi lain, undangan negosiasi dari Trump memungkinkan Iran untuk memantau situasi dengan cermat dan dalam beberapa kasus, untuk meredakan ketegangan, menyatakan kesiapan bernegosiasi secara tidak langsung. Namun, setelah lima putaran negosiasi tidak langsung antara Iran dan Amerika pada 2025, ketika Teheran menantikan putaran keenam, Trump dalam kerangka kebijakan tipu muslihat memberi lampu hijau kepada rezim Zionis untuk menyerang Iran, bahkan AS memainkan peran langsung dengan membom fasilitas nuklir Iran.

Saat ini, Trump dan pejabat pemerintahannya terus mengambil sikap ganda, berupa ancaman jelas akan serangan militer terhadap Iran dengan penempatan peralatan militer di Asia Barat, sekaligus menawarkan negosiasi dengan syarat dan agenda yang ditetapkan Washington. Sebaliknya, Iran menekankan hak-hak sahnya, khususnya terkait kegiatan nuklir damai, dan menegaskan kemungkinan negosiasi dalam kerangka adil, namun menolak setiap negosiasi terkait kemampuan rudal dan dukungan terhadap poros perlawanan di kawasan.(PH)