Kekecewaan Kurdi Suriah pada AS
-
Pasukan AS dan milisi Kurdi di Suriah.
Presiden Donald Trump dalam sebuah keputusan yang mengejutkan pada 19 Desember 2018, mengumumkan penarikan pasukan Amerika dari Suriah. Keputusan ini memicu kekhawatiran pasukan Kurdi Suriah yang mengandalkan dukungan dari militer AS.
Washington sebenarnya telah memberikan peringatan tentang rencana serangan Turki ke pasukan Kurdi Suriah, tetapi mereka sekarang mengubah sikapnya dan tidak lagi memikul tanggung jawab di hadapan Kurdi.
Gedung Putih menyatakan bahwa Turki akan segera melakukan operasi militer di Suriah Utara dan AS tidak akan terlibat di dalamnya.
Juru bicara Gedung Putih, Stephanie Grisham pada Senin kemarin, mengatakan Turki akan segera melakukan serangan ke Suriah Utara yang sudah direncanakan sebelumnya. Pasukan AS tidak mendukung atau terlibat dalam operasi itu dan tidak akan lagi berada di wilayah Suriah Utara.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Donald Trump melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Ahad malam.
Saat ini ada sekitar 1.000 tentara AS di Suriah Utara, dan seorang pejabat Washington mengatakan mereka akan mundur dari wilayah tersebut dan berpotensi meninggalkan negara itu jika terjadi pertempuran besar-besaran antara pasukan Turki dan Kurdi.
Pasukan AS selama ini memiliki kerja sama yang dekat dengan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG). Namun, AS sekarang meninggalkan milisi YPG sendirian dalam menghadapi gempuran pasukan Turki. Pemerintah Ankara menganggap YPG sebagai afiliasi Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan teroris.
Pasukan yang disebut Tentara Pembebasan Suriah (FSA) menyatakan kesiapan untuk mendukung pasukan Turki dalam operasi penumpasan kelompok YPG.
Surat kabar The Washington Post dalam sebuah artikel menulis, "Milisi Kurdi akan menjadi salah satu pecundang utama jika pasukan AS meninggalkan Suriah."
Gedung Putih menyatakan bahwa setelah Daesh dikalahkan, pasukan AS sudah tidak lagi memiliki misi di Suriah.
Dalam beberapa tahun terakhir, AS menganggap milisi Kurdi Suriah sebagai sekutunya dan mempersenjatai mereka untuk menumpas teroris Daesh. Namun, sikap baru Washington menjadi sebuah pukulan yang menyakitkan bagi Kurdi.
Perubahan sikap ini membuktikan bahwa AS tidak akan pernah menjadi mitra yang dapat dipercaya bagi sekutunya di kawasan seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab atau Kurdi Suriah. AS hanya memanfaatkan mereka untuk mengejar kepentingannya.
Trump bahkan berulang kali menyebut Saudi sebagai sapi perah dan menuntut negara itu untuk membayar uang keamanan kepada AS. Padahal, AS tidak berbuat apapun untuk menjamin keamanan sekutunya itu kecuali keamanan rezim Zionis Israel. (RM)