Rebutan Pengaruh di Kawasan, Turki dan UEA Saling Serang
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i82465-rebutan_pengaruh_di_kawasan_turki_dan_uea_saling_serang
Kementerian Luar Negeri Turki menuduh Uni Emirat Arab (UEA) menyulut separatisme di Yaman dan mengobarkan konflik di negara-negara kawasan Afrika dan Arab.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jun 20, 2020 07:19 Asia/Jakarta
  • Menlu Turki, Mevlüt Çavuşoğlu
    Menlu Turki, Mevlüt Çavuşoğlu

Kementerian Luar Negeri Turki menuduh Uni Emirat Arab (UEA) menyulut separatisme di Yaman dan mengobarkan konflik di negara-negara kawasan Afrika dan Arab.

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlüt Çavuşoğlu Jumat malam (19/6/2020) mengatakan negaranya menentang upaya UEA untuk memecah-belah Yaman, dan menyulut hasutan di negara-negara Afrika.

Uni Emirat Arab merupakan pemain penting dalam agresi militer yang dilancarkan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi di Yaman.

Pernyataan ini disampaikan di saat Turki dan UEA berseteru dalam konflik di negara-negara Arab dan Afrika utara, terutama Libya, karena Abu Dhabi dan Ankara mendukung dua kubu yang berseberangan di Libya.

Sebelumnya, UEA dan sebagian negara Arab anggota Liga Arab mengecam intervensi militer Turki di Libya.

Liga Arab menilai intervensi militer Turki di Libya demi mewujudkan kepentingan Ankara di pusaran konflik Libya.

Asisten Sekretaris Jenderal Liga Arab, Hossam Zaki  menyampaikan penentangan keras terhadap kehadiran militer Turki di Libya.

"Ankara hanya mengejar kepentingan politik, militer dan ekonominya di Libya," ujar pejabat Liga Arab pekan lalu.

 

Pasukan Turki di Libya

 

Turki secara resmi mendukung Pemerintahan Persatuan Nasional Libya pimpinan Fayez al-Sarraj, yang sedang terlibat konflik dengan kubu Tentara Nasional Libya pimpinan Khalifa Haftar.

Pada 27 November 2019, Turki menandatangani dua nota kesepahaman kerja sama keamanan dan demarkasi perbatasan maritim dengan Pemerintahan Al-Sarraj demi mengeksplorasi dan mengekstraksi sumber daya energi di Laut Mediterania.

Langkah Ankara ini menuai kritik keras dari Mesir, Yunani, Siprus, dan kubu Jenderal Haftar.

Libya dilanda kekerasan dan instabilitas politik sejak revolusi 2011, yang menyebabkan tergulingnya diktator Libya Muammar Gaddafi.(PH)