Langkah Besar Rusia Menggagalkan Ambisi Barat di Suriah
-
Ilustrasi Dewan Keamanan PBB.
Negara-negara Barat yang dipimpin Amerika Serikat, bersama sekutunya dari Arab, memberikan bantuan besar-besaran kepada kelompok teroris dengan tujuan menggulingkan pemerintahan sah Suriah sejak tahun 2011. Namun upaya ini telah gagal total.
Barat sekarang berniat mendukung sisa-sisa kelompok teroris di Suriah dengan dalih membantu rakyat negara itu. Tetapi langkah ini mendapat penentangan dari Rusia dan Cina.
Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Rabu (8/7/2020) pagi, Rusia memveto resolusi usulan Barat yang bertujuan memperpanjang koridor bantuan kemanusiaan lintas perbatasan di Suriah selama satu tahun tanpa koordinasi dengan pemerintah Damaskus. Cina juga menentang resolusi yang merongrong kedaulatan Suriah ini.
Negara-negara Barat anggota Dewan Keamanan berusaha meloloskan sebuah resolusi yang memungkinkan mereka mengirim “bantuan kemanusiaan” ke semua daerah di Suriah tanpa koordinasi dengan pemerintah Damaskus. Namun dua sekutu internasional Suriah yaitu Rusia dan Cina menggagalkan upaya tersebut.
Draft resolusi itu diajukan oleh Jerman dan Belgia yang mewakili blok Barat. Mereka menyatakan penyesalan atas penggunaan hak veto oleh Rusia dan Cina.
Jerman dan Belgia dalam sebuah statemen bersama mengklaim bahwa rancangan resolusi itu merupakan "upaya besar" untuk memenuhi permintaan Sekretaris Jenderal PBB dan permintaan orang-orang yang bekerja untuk membantu pria, wanita, dan anak-anak yang membutuhkan di Suriah.
Jerman dan Belgia mengklaim bahwa mayoritas anggota Dewan Keamanan menyetujui inisiatif ini, tetapi dua anggota tetap memvetonya sehingga misi pengiriman “bantuan kemanusiaan” lintas perbatasan di Suriah tidak dapat diperpanjang.
Negara-negara Barat anggota Dewan Keamanan PBB telah lama mencari cara untuk meloloskan resolusi semacam itu, tetapi Rusia menentang keras langkah tersebut. Moskow menekankan bahwa langkah apapun yang ingin diambil harus melibatkan pemerintah Damaskus agar tidak merusak upaya memerangi terorisme.
Bahkan menurut berbagai laporan, negara-negara Barat memasok semua jenis bantuan logistik kepada para teroris yang mereka dukung di Suriah dengan kedok bantuan kemanusiaan.
Rusia sebagai salah satu sekutu utama Suriah, memiliki pendekatan yang sama sekali berbeda dan menolak klaim-klaim tak berdasar Barat. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Selasa lalu, mengatakan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Suriah harus disesuaikan dengan realitas di lapangan dan menjaga norma-norma hak asasi manusia, di mana semua kegiatan ini membutuhkan koordinasi dengan pemerintah Suriah.
Rusia berulang kali menekankan bahwa negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika, merupakan penghalang utama untuk mengakhiri krisis di Suriah. Pemerintah Damaskus juga sudah sering mengkritik peran negatif Barat di Suriah terutama kebijakan AS untuk mempertahankan konflik.
Seorang pengamat politik Rusia, Ivan Ipolitov menuturkan, AS dalam beberapa tahun terakhir selalu menggunakan terorisme dan ekstremisme sebagai alat untuk memajukan kebijakan luar negerinya. Langkah ini akan memperlemah negara-negara Asia Barat serta menyuburkan terorisme dan ekstremisme.
Meski demikian, tindakan militer Suriah dan sekutunya terutama di Provinsi Idlib – basis terakhir para teroris – menunjukkan bahwa Damaskus memiliki tekad yang bulat untuk membebaskan seluruh wilayahnya dari pendudukan teroris. Mereka akan terus melakukan operasi pembebasan wilayah Suriah tanpa takut akan ancaman atau tekanan Barat.
Rusia juga menentang keras segala bentuk dukungan Barat kepada kelompok-kelompok teroris dengan alasan membantu rakyat Suriah. Moskow berulang kali telah memveto resolusi yang diajukan Barat untuk mendukung teroris di Suriah. (RM)