Dampak Perang Iran: Bensin Amerika Makin Mahal, Warga Menjerit
https://parstoday.ir/id/news/world-i189588-dampak_perang_iran_bensin_amerika_makin_mahal_warga_menjerit
Pars Today - Laporan Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) menunjukkan bahwa harga satu galon bensin di negara tersebut naik 31 sen dalam pekan terakhir, mencapai rata-rata 4,48 dolar AS per galon, angka yang mencerminkan kenaikan 50 persen sejak dimulainya perang Amerika-Israel terhadap Iran.
(last modified 2026-05-07T05:19:58+00:00 )
May 07, 2026 12:18 Asia/Jakarta
  • Harga Bensin di AS
    Harga Bensin di AS

Pars Today - Laporan Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) menunjukkan bahwa harga satu galon bensin di negara tersebut naik 31 sen dalam pekan terakhir, mencapai rata-rata 4,48 dolar AS per galon, angka yang mencerminkan kenaikan 50 persen sejak dimulainya perang Amerika-Israel terhadap Iran.

Dilansir IRNA Rabu petang dari Al-Jazeera, 6 Mei 2026, situs Asosiasi Otomotif Amerika mempertahankan harga bensin pada level tersebut hingga hari ini. Padahal, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, baru saja menghentikan operasi militer bertajuk "Project Freedom" (Proyek Kebebasan) pada Selasa malam, dengan dalih membuka kembali Selat Hormuz.

Krisis energi global akibat perang Amerika dan Israel terhadap Iran telah memicu lonjakan tajam harga minyak mentah, bahan baku utama produksi bensin. Selat Hormuz, jalur sempit di Teluk Persia yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia, praktis tertutup sejak konflik dimulai akhir Februari 2025, membuat kapal-kapal tanker terhenti dan tidak mampu mengantarkan muatan.

Pengumuman gencatan senjata pada awal April serta tanda-tanda meredanya ketegangan sempat menurunkan harga bensin harian selama hampir dua minggu berturut-turut, memberi harapan bagi banyak pengemudi Amerika. Namun, seiring berlanjutnya ketegangan, harga bensin kembali mendaki.

Rob Smith, Direktur Ritel Bahan Bakar Global di S&P Global Energy, menyatakan kepada Associated Press, "Kelangkaan mendasar yang masih terasa secara global, atau tantangan serius dalam memenuhi permintaan, akan terus mendorong harga naik. Tidak peduli apa yang dikatakan pemerintah atau apa yang dipikirkan pelaku pasar, selama Selat Hormuz tetap terbatas atau terganggu, tekanan kenaikan harga akan terus berlaku."

Lonjakan tajam harga energi telah memicu inflasi dan ketidakstabilan ekonomi, sekaligus memperburuk masalah politik Trump. Survei terkini menunjukkan bahwa tingkat popularitas dan kepuasan terhadap Presiden Amerika telah mencapai titik terendah, dipicu oleh ketidakpuasan publik terhadap perang melawan Iran.

Sejak awal konflik Iran, Trump dan sekutunya berupaya menggambarkan kenaikan harga bensin sebagai biaya sementara yang dapat ditoleransi demi mencapai tujuan kampanye militer Washington terhadap Tehran.

Namun, harga minyak tidak serta-merta turun setelah konflik berakhir. Meski gencatan senjata diumumkan pada 7 April, harga bensin di Amerika tetap menunjukkan tren kenaikan.

Menurut Smith, "Semakin lama pembatasan aliran minyak dari Selat Hormuz berlangsung, semakin tinggi harga akan naik, dan pemulihan ke kondisi normal juga akan memakan waktu lebih lama."

Ia menambahkan, "Dalam industri minyak, premi risiko terkait transit (kapal tanker) melalui kawasan ini masih tetap berlaku. Dalam bulan-bulan terakhir, terbukti sulit meyakinkan perusahaan pelayaran dan asuransi untuk menurunkan level risiko ke tingkat sebelum Februari, yakni sebelum perang dimulai."

Secara sederhana, meski perang usai, kekhawatiran dan kehati-hatian di industri ini akan tetap ada, dan sikap hati-hati inilah yang menghambat penurunan harga bensin.(Sail)