Badai Krisis Politik Rezim Zionis
Gelombang protes terhadap Perdana Menteri rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu terus berlanjut ketika partai Likud menghadapi krisis internal.
Netanyahu saat ini berada dalam himpitan tekanan protes yang berlangsung selama 25 pekan terakhir. Para pengunjuk rasa memprotes kondisi ekonomi yang semakin terpuruk, terutama di tengah merebaknya Covid-19.
Pada saat yang sama, para pengunjuk rasa percaya bahwa korupsi merajalela di tubuh struktur pemerintahan. Persoalannya, Netanyahu terus berambisi untuk tetap berkuasa yang menyebabkan kabinet kurang memperhatikan kondisi perekonomiannya yang terpuruk.
Masalah ini menyulut gelombang protes yang telah berlangsung selama 25 pekan untuk menuntut pengunduran diri Netanyahu dari jabatan Perdana Menteri Israel. Aksi protes ini berlangsung meskipun menghadapi penyebaran pandemi virus Corona.
Masalah lain Netanyahu mengenai eskalasi perpecahan dalam kabinet rezim Zionis. Sejak April 2020, ketika Netanyahu dan Benny Gantz setuju untuk membentuk kabinet koalisi dengan perdana menteri bergilir, muncul ketidakpercayaan yang telah menjadi ciri khas kabinet, karena Gantz, pemimpin Partai Biru dan Putih, skeptis terhadap pengunduran diri Netanyahu setelah 18 bulan menjabat. Skeptisisme ini meningkat terutama setelah sengketa anggaran, karena Netanyahu menekankan anggaran satu tahun, sedangkan Gantz menekankan anggaran dua tahun.
Gantz meyakini persetujuan anggaran satu tahun yang diusulkan Netanyahu bermotif pembubaran kabinet, dan memerintahkan pemilu parlemen dini sebelum masa jabatan 18 bulannya sebagai perdana menteri berakhir. Oleh karena itu, Gantz mengambil inisiatif mengangkat masalah pembubaran parlemen yang juga disetujui pada tahap pertama, dan kemungkinan untuk menggelar pemilu parlemen keempat. Masalah ini juga meningkatkan tekanan politik terhadap Netanyahu, yang terpaksa membatalkan kunjungannya ke UEA, karena menghadapi isu santer pembubaran parlemen. Padahal lawatan ini sangat penting bagi Netanyahu untuk menunjukkan prestasi politiknya di panggung internasional.
Masalah ketiga yang melilit Benjamin Netanyahu mengenai friksi internal partai Likud yang meningkat belakangan ini. Sebelumnya pada Desember 2019, pemilu sela partai Likud diadakan sebagai reaksi kritik terhadap zig-zag Netanyahu, tetapi ia berhasil menyisihkan rivalnya, Gideon Saar.
Kini friksi mereka semakin meruncing, karena Gideon Saar dan sekutunya telah berpisah dari partai Likud. Saar menyebut langkahnya meninggalkan partai sebagai mosi tidak percaya terhadap kabinet Netanyahu, dan mengumumkan, jika partai Likud masih memenangkan mayoritas suara pada pemilu parlemen, maka ia akan bergabung di barisan oposisi melawan Netanyahu.
Menyikapi situasi ini, tampaknya pemilu parlemen dini tidak sejalan dengan kepentingan pribadi Netanyahu. Sebab, meskipun partai Likud akan memenangkan pemilu, Netanyahu harus bersaing dengan tiga rival utamanya yaitu; Avigdor Lieberman, Benny Gantz dan Gideon Saar untuk menjabat sebagai perdana menteri. Masalahnya semakin rumit ketika sekutu Netanyahu dulu justru menjadi musuh utamanya hari ini.(PH)