Transformasi Asia Barat 25 Desember 2020
-
Pembakaran bendera rezim Zionis
Transformasi Asia Barat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai posisi Israel di tahun 2020 sebagai rezim paling dibenci di dunia.
Selain itu tentang keberhasilan militer Suriah menangkis serangan udara rezim Zionis, pemerintah Arab Saudi memenjarakan puluhan ulama Syiah negaranya, putera mahkota Abu Dhabi menggunakan pengaruhnya di bank asing untuk menekan perekonomian Qatar, Irak menangkap pelaku serangan roket ke Kedubes AS dan polisi Kuwait menangkap enam remaja anggota Daesh.

Tahun 2020, Rezim Zionis Paling Dibenci di Dunia
Televisi Aljazeera menyebut Israel sebagai rezim yang paling dibenci di dunia di tahun 2020.
Rezim Zionis dikecam tiga kali lebih banyak dari negara lain mana pun di dunia oleh PBB pada tahun 2020.
Al Jazeera juga menulis bahwa Majelis Umum PBB mengadopsi sebanyak 17 resolusi terhadap Israel pada tahun 2020, sementara di negara lain hanya enam resolusi yang dikeluarkan oleh PBB.
Meningkatnya kejahatan yang dilakukan rezim Zionis di tahun 2020 terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan Kesepakatan Abad pada 28 Januari 2020, dan beberapa negara Arab telah menjalin normalisasi hubungan dengan Israel.

Militer Suriah Tangkis Serangan Udara Rezim Zionis
Pertahanan udara militer Suriah berhasil menangkis serangan rudal rezim Zionis di wilayah barat negaranya.
Kantor berita resmi Suriah, Sanaa melaporkan, pertahanan udara pasukan Suriah berhasil mencegat dan menghancurkan beberapa rudal di langit kota Musayyaf di provinsi Hama.
Rudal-rudal tersebut ditembakkan oleh jet tempur Israel dari arah utara kota Tripoli di Lebanon.
Rezim Zionis melancarkan serangan ke Suriah untuk mengincar posisi militer dan infrastruktur Suriah demi mendukung para teroris yang semakin melemah.
Krisis Suriah dimulai pada tahun 2011 dengan serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh Arab Saudi, Amerika Serikat, dan sekutunya untuk mengubah perimbangan regional yang menguntungkan rezim Zionis.
Rezim Al Saud Penjarakan Puluhan Ulama Syiah Saudi
Para aktivis dan lembaga pemantau HAM mencatat bahwa 16 ulama Syiah Arab Saudi ditahan di penjara-penjara rezim Al Saud.
Radio al-Nour Lebanon menyebutkan bahwa Sayid Hashim al-Shuks, Hussein al-Radhi, Muhammad al-Habib, Sayid Jakfar al-Alawi, Muhammad al-Ibad, Hussein al-Nimr (putra Syeikh Nimr Baqir al-Nimr) dan sepuluh ulama Syiah lainnya ditahan di penjara Saudi dan penahanan ini dikonfirmasi oleh rezim Al Saud.
Kebanyakan dari ulama tersebut berasal dari daerah berpenduduk Syiah, Provinsi Qatif dan al-Ahsa di timur Arab Saudi.
Radio al-Nour menyatakan bahwa penindasan ulama dan aktivis HAM oleh rezim Al Saud terus berlanjut. Kasus terbaru penangkapan ulama Syiah dilakukan oleh petugas keamanan Kerajaan, di mana Hussein al-Nimr, putra Ayatullah Syahid Baqir al-Nimr diculik di bagian timur Saudi.
Sebelum Hussein al-Nimr ditangkap, rezim Saudi telah menghancurkan Masjid Imam Husein as di selatan kota al-Awamiyah beberapa hari sebelumnya.
Lembaga-lembaga HAM menekankan bahwa Saudi telah meningkatkan kebijakan penangkapan besar-besaran dan kejam terhadap ulama di daerah berpenduduk Syiah. Riyadh juga sedang mengejar kebijakan diskriminatif atas dasar keyakinan.
Tekan Ekonomi Qatar, Putera Mahkota Abu Dhabi Gunakan Pengaruhnya di Bank Asing
Putra Mahkota Abu Dhabi menggunakan pengaruhnya di bank asing untuk memukul pasar keuangan Qatar dan melemahkan perekonomiannya.
Bloomberg baru-baru ini mengungkapkan adanya hubungan antara putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed dengan David Rowland, investor utama Highland Bank di Luxembourg.
Sejumlah dokumen menunjukkan sejumlah layanan yang diberikan oleh Rowland dan banknya kepada Mohammed bin Zayed.
Qatar mengajukan gugatan terhadap Highland Bank ke pengadilan Inggris tahun lalu, dan menuduh bank tersebut mengorganisir kampanye untuk melemahkan mata uangnya terhadap dolar AS.
Jaksa Agung AS Robert Mueller juga mengatakan bahwa Bin Zayed berupaya meyakinkan Presiden AS Donald Trump supaya mendukung embargo terhadap Qatar.
Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada 5 Juni 2017, dan memblokade perbatasan darat, laut, dan udaranya dengan menuding Doha mendukung terorisme.
Irak Tangkap Pelaku Serangan Roket ke Kedubes AS
Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi, mengatakan beberapa terduga pelaku serangan roket ke Zona Hijau Baghdad pada Minggu lalu telah ditangkap.
Al-Kadhimi dalam konferensi pers pada Senin (21/12/2020) malam, menyebut serangan roket ke Zona Hijau Baghdad sebagai tindakan terorisme dan pengecut.
"Pemerintahan saya sama sekali tidak mendukung serangan ke misi perwakilan asing di Irak," tegasnya.
Al-Kadhimi menuturkan bahwa beberapa pejabat keamanan juga ditahan setelah serangan roket tersebut.
Kedutaan Besar AS di Baghdad menjadi sasaran serangan roket pada Minggu lalu. Kedutaan dan pangkalan pasukan teroris Amerika di Irak berulang kali diserang oleh roket dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut masyarakat Irak, Kedubes AS di Baghdad tidak menjalankan fungsi normal sebagai misi diplomatik seperti kedutaan negara lain di dunia. AS mengubah kedutaan menjadi pangkalan militer dengan menyebarkan sistem pertahanan rudal dan kekuatan militer, yang mengancam keamanan warga Baghdad dan Irak.
Mayoritas warga dan kelompok-kelompok Irak mendesak penarikan pasukan teroris Amerika dari Irak, dan parlemen Irak telah menyetujui sebuah resolusi tentang penarikan mereka
Polisi Kuwait Tangkap Enam Remaja Anggota Daesh
Dinas keamanan Kuwait mengumumkan penangkapan enam remaja yang bergabung dengan kelompok teroris Daesh.
Surat kabar Kuwait Al-Qabas melaporkan, aparat keamanan Kuwait menangkap enam remaja yang bergabung dengan daesh di wilayah Al-Ahmadi.
Selama penyelidikan, remaja yang ditahan mengaku bahwa seseorang menghubunginya melalui permainan elektronik dan kemudian melalui media sosial, untuk mendorongnya bergabung dengan Daesh.
Orang ini juga meyakinkan lima temannya supaya bergabung dengan kelompok teroris.
Menurut laporan tersebut, aparat keamanan Kuwait menyita senjata api dan beberapa komputer serta laptop yang berisi bukti korespondensi dengan Daesh di rumah mereka.(PH)