Friksi Turki dan Rusia dalam Masalah Suriah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i93818-friksi_turki_dan_rusia_dalam_masalah_suriah
Berlanjutnya kehadiran militer Turki di wilayah Suriah menyulut konflik berkepanjangan antara Ankara dengan negara-negara yang terlibat dalam urusan Suriah, terutama Rusia.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Mar 25, 2021 17:18 Asia/Jakarta
  • Pasukan Turki di Suriah
    Pasukan Turki di Suriah

Berlanjutnya kehadiran militer Turki di wilayah Suriah menyulut konflik berkepanjangan antara Ankara dengan negara-negara yang terlibat dalam urusan Suriah, terutama Rusia.

Terkait hal ini, Kementerian Luar Negeri Turki mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan pemanggilan duta besar Rusia untuk Ankara. Pemanggilan tersebut berkaitan dengan situasi saat ini di Suriah.

Alexei Yerkhov, Duta Besar Rusia untuk Ankara dipanggil kemenlu Turki karena Moskow dianggap memperburuk situasi di zona de-eskalasi di Idlib, Suriah.

Pemanggilan ini memperkeruh hubungan antara Turki dan Rusia yang sempat tegang, meskipun ada kerja sama militer yang luas dan pembelian senjata Turki baru-baru ini dari Rusia. Tampaknya keduanya bukan sekutu strategis. Banyak perselisihan antara Turki dan Rusia dalam masalah Suriah.

Kubu oposisi pemerintah Ankara, menilai saat ini Turki telah tumbuh dari negara tanpa masalah dengan tetangganya menjadi negara dengan 100 persen masalah dengan tetangganya di bawah kepemimpinan Erdogan.

Dalam situasi saat ini, militer Turki yang tidak berhasil mencapai tujuannya di Suriah, berusaha keras untuk mengumumkan diri sebagai pihak yang menang.

Isu ini tampaknya tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah Rusia. Sebab, Moskow memandang klaim kemenangan militer Turki di Suriah demi kepentingan internal kubu Erdogan saja. Apalagi, partai oposisi Turki mencoba kembali menantang pemerintahan Erdogan dengan mengajukan posisi baru.

Partai-partai oposisi Erdogan berusaha untuk menarik keluar pemerintahan Turki dari Suriah sejak awal krisis meletus di negara tetangganya itu. Secara khusus, para pakar Asia Barat di Turki menggambarkan kehadiran militer negaranya di wilayah utara Suriah memiliki banyak konsekuensi negatif bagi pemerintah Ankara. Mereka menilai banyak korban dari pihak tentara Turki di Suriah bisa menimbulkan tantangan dan risiko serius bagi masa depan politik Erdogan.

Pada saat yang sama, partai-partai oposisi pemerintah Ankara menggunakan masalah tersebut untuk merusak suara kubu pendukung Erdogan.

 

Presiden Turki dan Rusia

 

Bagaimanapun, berlanjutnya kehadiran militer Turki di wilayah Suriah menjadikan hubungan renggang Ankara dan Moskow akan terus berlanjut selama beberapa tahun mendatang.

Berkaitan dengan hal ini, Hakam Amhaz, pakar Asia Barat menyoroti aksi pendudukan sebagian wilayah provinsi Idlib di Suriah oleh Turki dan reaksi Rusia, dengan mengatakan, "Turki tidak dapat memenangkan pertempuran ini, karena tidak memiliki keunggulan di bidang militer dan politik. Jika ketegangan berlanjut, masa depan politik Erdogan akan berada dalam bahaya,".

Pemerintah Turki mengejar tujuan jangka panjang di Suriah, karena posisi geografis dan geopolitik khusus Suriah di Mediterania timur.

Penguasaan wilayah utara Suriah akan memberikan kesempatan bagi Turki untuk lebih mengkonsolidasikan dominasinya di Mediterania timur dengan menjadi poros politik utama di kawasan itu. Tapi, kehadiran rival Turki di wilayah Suriah, terutama Rusia telah menggagalkan banyak rencana pemerintah Erdogan di Suriah.

Lalu, jika ambisi Erdogan tidak tercapai di Suriah karena dihadang Rusia, mengapa kemenlu Turki melakukan pemanggilan terhadap duta besar Rusia di negaranya. Tampaknya, langkah ini dilakukan pemerintahan Erdogan untuk mengalihkan opini publik Turki dari kegagalan mencapai targetnya di wilayah Suriah. Tentu saja, Erdogan memiliki kepentingan untuk terus berkuasa dan mendapatkan dukungan dari mayoritas warga Turki, meskipun berbagai ambisi politiknya, termasuk di Suriah tidak tercapai.(PH)