Mencermati Klaim Pengulangan Menlu Saudi terhadap Iran
-
Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan dalam wawancaranya dengan Kantor Berita resmi negara ini (SPA) kembali mengulang klaim fiktif dan terencana terhadap Republik Islam Iran. Ia menuding Tehran mengintervensi urusan regional dan mengobarkan instabilitas di wilayah ini.
Bin Farhan menggulirkan statemen tak terpujinya terkait Iran dengan alasan kunjungan Sheikh Mishal Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah ke Arab Saudi Selasa (1/6/2021). Terkait klaim menlu Arab Saudi terhadap Iran ada sejumlah poin tersembunyi yang patut untuk dicermati:
Pertama, poin terkait statemen ini adalah Bin Farhan di statemennya secara terang-terangan mengaku optimis bahwa dapat diraih koordinasi lebih besar antara Arab Saudi dan Kuwait dengan pemerintah baru Amerika Serikat untuk menekan Tehran. Statemennya tersebut mengindikasikan bahwa Arab Saudi berbeda dengan klaim pejabat tinggi lainnya seperti Putra Mahkota, Mohammad bin Salman di statemen terbarunya terkait tujuan damai dan bersahabat Riyadh terkait negara-negara kawasan termasuk Iran, ternyata tidak bertindak demikian tapi berencana melancarkan konspirasi terhadap Republik Islam Iran.
Kedua, statemen Bin Farhan menunjukkan bahwa sejumlah negara lain di Teluk Persia menolak menyerahkan kehendak politik dan independensinya kepada Arab Saudi, dan Kuwait mengingat hubungan baik dengan Iran, tidak akan menyerah terhadap represi Arab Saudi.
Ketiga, statemen ini berbeda dengan statemen terbaru Pangeran Mohammad biin Salman, di mana hal ini dengan sendirinya mengindikasikan tidak adanya koordinasi dan keselarasan di kebijakan Arab Saudi terhadap negara lain. Bahkan statemen Bin Farhan sangat kontra dengan pidato Bin Salman serta terbukti tidak jujur. Selain itu, hal ini menunjukkan adanya kontradiksi di kebijakan luar negeri Riyadh.
Keempat, mungkin pentingnya masalah ini kembali ketika muqawama Palestina dengan kekuatannya mampu membalas serangan brutal Israel ke Jalur Gaza dan warga Palestina di Quds, dan kemenangan pasti ini sejatinya kemenangan bagi seluruh poros muqawama mulai dari Iran, hingga Irak, Suriah, Yaman dan Lebanon. Selain itu, selama kurun waktu tersebut juga digelar pemilu sukses di Suriah dan dengan partisipasi luas masyarakat serta berakhir dengan kemenangan Bashar al-Assad, presiden Suriah. Hal ini sepertinya menjadi bukti kekalahan lain kebijakan pendukung Daesh (ISIS) dan kelompok teroris lainnya di Suriah.
Kelima, klaim ini sejatinya statemen pertama seorang petinggi resmi Arab Saudi terkait operasi sukses dan mencengangkan terbaru militer Yaman ke dalam wilayah Saudi, di mana militer Arab Saudi dengan fasilitas dan peralatan lengkap dan canggihnya kembali mendapat penghinaan dari militer Yaman. Sejatinya itu adalah tindakan yang menunjukkan kemarahan Arab Saudi terhadap operasi ini. Kini kebijakan yang benar bagi Arab Saudi adalah mengakui kekuatan dan kemampuan pemerintah penyelamatan nasional Yaman dan menyerah pada kemauan rakyat Yaman serta mengakhiri serangan dan agresinya terhadap rakyat tak berdosa Yaman. (MF)