Amerika Tinjauan dari Dalam, 11 September 2021
-
Menlu AS, Antony Blinken
Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai lawatan Menlu dan Menhan AS ke Teluk Persia.
Isu lain tentang, sikap AS pemerintahan sementara Afghanistan, AS menghancurkan markas CIA di Kabul, mantan PM Inggris menyebut Biden bodoh karena mengumumkan penarikan pasukan dari Afghanistan, laporan NY Times bahwa sasaran bom drone AS di Kabul bukan ISIS, tapi anak-anak dan serangan 9/11 masih membayangi hubungan AS dan Arab Saudi
Menlu dan Menhan AS Melawat Teluk Persia
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken dan Menteri Pertahanan negara ini, Lloyd Austin Ahad (5/9/2021) sore dalam kunjungan terpisahnya bertolak ke Teluk Persia untuk bertemu dan berunding dengan pemimpin negara-negara sekutu dan mitranya di kawasan ini.
Kedua pejabat Amerika ini dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin negara kawasan Teluk Persia untuk membahas kemunculan ancaman baru dari Afghanistan.
Kini sekutu Amerika di kawasan termasuk di Teluk Persia mulai meragukan komitmen Washington terhadap janji keamanan terhadap mitranya. Oleh karena itu, sepertinya tujuan utama kunjungan menlu dan menhan Amerika ke wilayah ini untuk memberi jaminan kembali kepada sekutu Washington terkait masalah ini bahwa keputusan Biden untuk mengakhiri kehadiran dua dekade militer negara ini di Afghanistan dan lebih fokus pada tantangan keamanan Cina dan Rusia, bukan berarti meninggalkan sekutu dan mitranya di Asia Barat.
Lawatan ini juga membicarakan isu penerimaan pencari suaka Afghanistan dengan negara-negara seperti Arab Saudi dan juga meminta peran lebih besar Qatar menindaklanjuti krisis Afghanistan.
Amerika Serikat beberapa dekade bercokol di Teluk Persia dengan alasan menjaga keamanan sekutunya dan dalam hal ini, pusat komando Armada Kelima AL AS berada di Bahrain.
Lloyd Austin sebelum bertolak ke Teluk Persia mengatakan bahwa fokus pada ancaman terorisme berarti langkah maksimum terhadap segala bentuk ancaman terhadap rakyat Amerika dari setiap wilayah, bahkan jika Amerika fokus pada tantangan strategis oleh Cina.
Sikap ini sama halnya dengan keinginan Pentagon untuk melanjutkan kehadiran armada lautnya di Teluk Persia serta berlanjutnya aktivitas pangkalan di kawasan ini termasuk pangkalan Amerika di Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA).
Meski demikian kehadiran militer tidak mampu menjamin keamanan mitra Washington khususnya Arab Saudi dari ancaman rudal dan drone Yaman.
Walaupun ada jaminan dari petinggi Washington mengenai berlanjutnya komitmen Amerika atas janji keamanannya terhadap mitra dan sekutu regionalnya di Asia Barat khususnya di Teluk Persia. Tapi faktanya kredibilitas Amerika terpukul setelah penarikan pasukan negara ini dari Afghanistan.
AS Sikapi Pengumuman Pemerintahan Taliban di Afghanistan
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan keprihatinan atas kehadiran beberapa orang di pemerintahan baru Taliban di Afghanistan.
“Kami prihatin dengan afiliasi dan latar belakang beberapa anggota pemerintahan baru yang diumumkan oleh Taliban,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price pada konferensi pers, Selasa (7/9/2021) malam.
“Kami menilai mereka dari tindakan, bukan dari kata-kata mereka. Kami sudah memperjelas bahwa rakyat Afghanistan layak mendapatkan pemerintahan yang inklusif,” tegasnya.
Dia menekankan bahwa wilayah Afghanistan tidak boleh digunakan untuk serangan teroris.
“Kami menegaskan kembali posisi kami, Taliban harus memastikan bahwa wilayah Afghanistan tidak digunakan sebagai ancaman terhadap negara lain,” kata Price.
Bagi kami, lanjutnya, Taliban juga harus memastikan perjalanan yang aman bagi warga negara asing dan warga Afghanistan yang ingin meninggalkan negara itu.
Taliban mengumumkan pembentukan pemerintahan baru dan nama-nama beberapa menteri pada Selasa sore. Taliban mengatakan mereka akan berusaha untuk melibatkan semua lapisan masyarakat Afghanistan dalam pemerintahan berikutnya.
Sebelum ini, juru bicara Biro Politik Taliban Mohammad Naim mengatakan bahwa mereka menyerukan hubungan yang baik dengan semua negara termasuk AS.
Presiden AS Joe Biden mengatakan masih ada jalan panjang untuk mengakui pemerintah Taliban di Afghanistan.
"Presiden Biden memberi tahu saya bahwa AS tidak mengakui pemerintahan Taliban di Kabul. Itu masih jauh," katanya setelah kembali ke Gedung Putih," cuit wartawan surat kabar Bloomberg, Sophia Cai di akun Twitternya, Senin lalu.
AS Menghancurkan Markas CIA di Kabul
Kelompok Taliban menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menghancurkan semua peralatan militer di markas terbesar CIA di Kabul, ibu kota Afghanistan.
Taliban mengatakan pasukan AS menghancurkan semua peralatan militer di markas CIA di Kabul ketika mereka meninggalkan Afghanistan.
"Markas, yang dikenal sebagai Eagle Base ini, terletak di distrik Deh Sabz di Kabul. Selama ini personel intelijen AS bekerja di sana, tetapi sekarang sudah dikendalikan oleh Taliban," tambahnya.
Menurut Taliban, selain dokumen-dokumen penting, ratusan kendaraan lapis baja dan senjata canggih ikut dihancurkan dan dibakar di markas CIA itu.
Taliban mengaku tidak tahu jumlah biaya untuk menghancurkan peralatan tersebut, tetapi mereka mengatakan peralatan militer senilai ratusan juta dolar telah dimusnahkan di markas itu.
"Amerika Serikat telah menghancurkan semua yang pernah dipakai," kata Maulawi Isnain, kepala keamanan di Eagle Base.
Sejumlah laporan menyatakan bahwa Eagle Base telah dikosongkan dan dihancurkan sehari sebelum pasukan asing meninggalkan bandara Kabul.
Kritik Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan, Mantan PM Inggris Sebut Biden Bodoh
Mantan Perdana Menteri Inggris John Major menyebut penarikan pasukan Barat dari Afghanistan sebagai langkah sangat bodoh.
The Daily Express mengutip statemen John Mayor yang mengatakan bahwa penarikan pasukan AS dari Afghanistan sebagai keputusan tiba-tiba dan tidak perlu yang akan menodai citra Barat.
Mantan perdana menteri Inggris ini menyebut keputusan untuk meninggalkan Afghanistan sebagai kesalahan moral dan praktis, serta menyebut ketidakmampuan untuk menyelematkan semua orang Afghanistan yang menjadi sekutu London sebagai "langkah yang memalukan".
Ia menilai langkah Presiden AS Joe Biden tersebut secara strategis sangat bodoh, dan pasti akan tetap diingat oleh semua orang Afghanistan.
Baru-baru ini, mantan pemimpin Inggris lainnya, Tony Blair, dalam sebuah artikel tentang Afghanistan, menyebut keputusan Biden "bodoh, berbahaya dan tidak perlu," dan mengutuk langkah Amerika Serikat dan NATO.
Blair menyebut motif AS untuk meninggalkan negara itu sebagai sebuah kebodohan.
"Meninggalkan Afghanistan dan rakyatnya secara menyedihkan, berbahaya dan tidak perlu, baik bagi mereka maupun bagi kita," tulis Blair dalam artikel terbarunya.
Blair mengklaim bahwa Iran, Rusia dan Cina akan mengambil keuntungan dari situasi ini, dan negara-negara lain akan melihat komitmen Barat goyah dalam melindungi mitranya sendiri.

NY Times: Yang Dibom Drone AS di Kabul Bukan ISIS tapi Anak-Anak
Menurut hasil penyelidikan yang dilakukan media Amerika Serikat, serangan drone yang diklaim menargekan ISIS-K atau ISIS Khorasan, ternyata membunuh seorang pekerja beserta sejumlah anak-anak yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan teroris.
New York Times, Jumat (10/9/2021) melaporkan, serangan drone terakhir AS di dekat Bandara Kabul menjelang penarikan total pasukan asing dari Afghanistan, sepertinya tidak menghantam kendaraan ISIS-K tapi kendaraan seorang pekerja Afghanistan.
Zemari Ahmadi, pekerja di lembaga sosial AS dicurigai melakukan kontak dengan tempat persembunyian ISIS, tapi rekan-rekan kerja Ahmadi mengatakan saat itu ia bersama koleganya membawa makanan, dan sedang mengantarkan laptop milik atasannya.
Menurut rekan-rekannya, Ahmadi setelah mengantarkan mereka, kembali ke rumah, dan tiba-tiba sebuah rudal Hellfire menghantam mobil yang dikendarainya. Operator drone AS mengaku saat menembakan rudal, tidak ada perempuan, anak-anak atau sipil.
Akan tetapi akhirnya militer AS mengaku membunuh tiga warga sipil, padahal keluarga Ahmadi mengatakan 10 anggota keluarga termasuk tujuh anak-anak tewas dihantam rudal AS.
Serangan 9/11 Masih Membayangi Hubungan AS-Saudi
20 tahun telah berlalu sejak serangan teroris 9/11 di Amerika Serikat.
Serangan tersebut merenggut hampir 3.000 nyawa di AS. Namun warisan 9/11 terus membayangi hubungan antara Arab Saudi dan AS.
15 dari 19 pembajak adalah warga negara Saudi. Dalangnya, Osama bin Laden, adalah anggota keluarga berpengaruh di Saudi.
Keluarga korban sekarang menuntut pemerintah untuk membuka lebih banyak informasi tentang serangan tersebut.
Mereka percaya informasi tersebut menghubungkan Arab Saudi dengan serangan tersebut.
Keluarga ingin tahu apakah FBI berbohong atau menghancurkan bukti.
Presiden Biden telah menandatangani perintah eksekutif atas masalah ini. Perintah tersebut dapat mengakibatkan deklasifikasi dokumen.
Hal ini membutuhkan Jaksa Agung untuk membuat dokumen publik selama enam bulan ke depan.
Pemerintah AS berturut-turut telah menolak untuk merilis dokumen rahasia.
Beberapa anggota parlemen AS telah menyerukan pengungkapan 28 halaman penting dari penyelidikan 9/11. Halaman-halaman itu diambil dari penyelidikan Kongres 2002.(PH)