Presiden Ukraina Serukan Sanksi Uni Eropa terhadap Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i111160-presiden_ukraina_serukan_sanksi_uni_eropa_terhadap_rusia
Presiden Ukraina menyerukan supaya Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Rusia tanpa menunggu kemungkinan serangan dari Moskow.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Des 16, 2021 14:48 Asia/Jakarta
  • Presiden Ukraina Serukan Sanksi Uni Eropa terhadap Rusia

Presiden Ukraina menyerukan supaya Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Rusia tanpa menunggu kemungkinan serangan dari Moskow.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky hari Kamis (16/12/2021) menyatakan bahwa Ukraina siap untuk melakukan negosiasi dengan Rusia demi mengurangi ketegangan, tapi Presiden Rusia Vladimir Putin belum setuju untuk duduk di meja perundingan.

"Penting bagi Kiev untuk menjatuhkan sanksi sebelum konflik dimulai. Sebab, jika sanksi dijatuhkan setelah konflik, maka akan membuat sanksi tersebut tidak berarti," ujar Presiden Ukraina

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock pada hari Rabu melanjutkan propaganda Barat terhadap Rusia dengan mengklaim bahwa kemungkinan serangan Rusia ke Ukraina akan menjadi bencana besar dan mengarah pada paket sanksi ekonomi.

Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat menuduh Rusia merencanakan serangan ke Ukraina.

Rusia telah berulang kali menyatakan bahwa kehadiran militernya di perbatasan dengan Ukraina adalah tindakan militer yang normal, tetapi Amerika Serikat dan sekutunya terus berupaya untuk meningkatkan situasi di perbatasan Rusia dengan Ukraina.

Tuduhan itu muncul ketika Ukraina menerima pengiriman besar amunisi dan rudal Javelin AS pada awal 2021, dan militer Ukraina  juga memiliki mortir dan drone dari Turki.

Hubungan antara Barat dan Moskow tegang sejak 2014 pada empat sumbu pengaruh militer NATO, terutama Amerika Serikat di dekat Rusia dan di Eropa Timur, krisis Ukraina, Laut Baltik dan situasi di Suriah.

Amerika Serikat dan Uni Eropa memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi dan keuangan terhadap Rusia sejak 2014, yang memicu reaksi keras dari Moskow.(PH)