Akhirnya Rusia Resmi Keluar dari Perjanjian Open Skies
Sekaitan dengan penarikan resmi negara ini dari Perjanjian Ruang Udara Terbuka (Treaty on Open Skies), Kementerian Luar Negeri Rusia menjelaskan alasan keputusan ini dan konsekuensi serius dari situasi saat ini.
Pernyataan itu menekankan bahwa efektivitas dan pengaruh pakta keamanan internasional ini akan sangat berkurang tanpa partisipasi AS dan Rusia, dan bahwa ruang lingkupnya akan berkurang hingga 80 persen.
Rusia secara resmi menarik diri dari Perjanjian Open Skies pada 18 Desember 2021, yang berperan penting dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional di era pasca-Perang Dingin.
Langkah Moskow dipandang sebagai tanggapan langsung terhadap langkah serupa oleh Amerika Serikat untuk menarik diri dari Perjanjian Open Skies.
"Penarikan diri dari Perjanjian Open Skies telah ada di Amerika Serikat untuk waktu yang lama dan karena berbagai alasan, termasuk fakta bahwa Amerika Serikat telah memperoleh satelit yang kuat untuk spionase presisi dari seluruh dunia yang membutuhkan biaya jauh lebih sedikit daripada implementasi Perjanjian Ruang Udara Terbuka. Selain itu, Aerika Serikat percaya bahwa Rusia tidak menerapkan perjanjian itu dengan benar," kata Richard Weitz, pakar politik.
- Baca juga: Biden Tolak Kirim Pasukan AS ke Ukraina
Moskow telah berulang kali menekankan bahwa penarikan AS dari perjanjian itu karena alasan yang salah, dan bahwa keputusan ini telah mengganggu keseimbangan kepentingan negara-negara anggotanya dan sangat merusak efektivitasnya.
Oleh karena itu, Perjanjian Open Skies tidak dapat lagi dianggap sebagai mekanisme untuk membangun keamanan dan membangun kepercayaan di antara para anggotanya.
Pada kenyataannya, upaya Rusia untuk menjaga dan mempertahankan efektifitas Perjanjian Open Skies tidak akan membuahkan hasil, jika Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut.
Sekaitan dengan penarikan resmi negara ini dari Perjanjian Ruang Udara Terbuka (Treaty on Open Skies), Kementerian Luar Negeri Rusia menjelaskan alasan keputusan ini dan konsekuensi serius dari situasi saat ini.
Di sisi lain, anggota Eropa dari perjanjian ini, yang merupakan anggota NATO, juga menolak untuk memberikan jaminan bahwa informasi yang diperoleh selama penerbangan inspeksi di langit Rusia tidak diserahkan ke pihak Amerika.
Dengan demikian, Rusia menarik diri dari perjanjian penting ini untuk menjaga keamanan nasionalnya dan mencegah kebocoran rahasia militernya.
Dalam pandangan Moskow, Perjanjian Ruang Udara Terbuka telah menjadi korban persaingan politik dalam negeri di Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump memulai proses penarikan diri dari berbagai perjanjian keamanan internasional yang penting, dan setelah menarik diri dari Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF), pada langkah kedua, ia juga menarik diri dari Perjanjian Open Skies.
Meskipun Washington diharapkan untuk mempertimbangkan kembali tindakannya dengan pelantikan Presiden Demokrat Joe Biden, pendekatan Amerika Serikat untuk mengganggu perjanjian internasional utama tentang pengendalian senjata dan transparansi aksi militer tetap ada dan pemerintah Biden telah menolak untuk bergabung kembali dengan Perjanjian Open Skies.
Sikap seperti itu jelas bertentangan dengan kritik Biden sebelumnya terhadap Trump karena menarik diri dari Treaty on Open Skies.
Dengan mundurnya Rusia dari Perjanjian Ruang Udara Terbuka, konfrontasi antara Rusia dan NATO di Eropa diperkirakan akan meningkat. Karena eskalasi perbedaan antara kedua belah pihak atas Ukraina, kemungkinan konfrontasi militer antara Rusia dan NATO di Eropa Timur telah meningkat lebih dari sebelumnya.
Sekalipun demikian, bukti menunjukkan bahwa langkah Rusia sebagian besar merupakan tanggapan terhadap tindakan AS, serta penolakan anggota Eropa dari Perjanjian Open Skies untuk memberikan jaminan keamanan ke Moskow.