Amerika Tinjauan dari Dalam 12 Februari 2022
Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya mengenai pertemuan kepala staf militer AS dan Rusia membahas krisis Ukraina.
Selain itu, statemen John Bolton bahwa ancaman militer AS terhadap Iran hanya omong kosong belaka, AS akan membuka kembali kedutaan di kepulauan Solomon untuk melawan Cina, warga Suriah mengecam aksi ilegal AS di Hasakah dan Pentagon mengakui Houthi dua kali menyerang markas pasukan AS di UEA.

Kepala Staf Militer AS dan Rusia Bicarakan Krisis Ukraina
Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dan Rusia melakukan pembicaraan telepon, membahas krisis yang terjadi di Ukraina.
Departemen Pertahanan AS, Pentagon mengonfirmasi pembicaraan telepon Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS dan Rusia tersebut.
Gedung Kremlin, Jumat (11/2/2022) malam mengumumkan, Presiden AS Joe Biden dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, hari Sabtu akan melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pembicaraan telepon ini dilakukan di puncak kegaduhan yang dibuat media-media Barat terkait kemungkinan serangan Rusia ke Ukraina. Media AS, Bloomberg mengklaim bahwa serangan militer Rusia ke Ukraina kemungkinan akan dilakukan pada hari Selasa (15/2/2022).
Pejabat AS yang dikutip Bloomberg mengatakan, langkah yang dilakukan Rusia mungkin saja mencakup pergerakan di wilayah Donbass atau bahkan serangan ke ibu kota Ukraina, Kiev.
Penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, Jumat malam meminta seluruh warga AS di Ukraina untuk segera meninggalkan negara itu dalam waktu 24-48 jam ke depan.
John Bolton: Ancaman Militer AS terhadap Iran, Omong Kosong Belaka !
John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS selama kepresidenan Donald Trump mengkritik kebijakan pemerintah Biden terhadap Iran, dan menggambarkan ancaman militer terhadap Tehran sebagai omong kosong belaka.
John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS kepada majalah Newsweek hari Selasa (8/2/2022) mengatakan,“Pemerintahan Biden pada akhirnya akan mencapai kesepakatan untuk bergabung dengan JCPOA, karena ambisinya sendiri,”.
"Selama setahun terakhir, pemerintahan Biden telah mempermalukan dirinya sendiri dan memberikan konsesi berturut-turut untuk menghidupkan kembali perjanjian ini," ujar Bolton.
Bolton adalah salah satu pendukung paling keras dari kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran ketika dia berada di Gedung Putih sebagai penasihat keamanan nasional Donald Trump.
Kebijakan ini, menurut banyak analis dan pejabat pemerintahan AS saat ini telah gagal dalam mencapai tujuannya, terutama untuk membujuk Iran merundingkan kesepakatan selain JCPOA.
Pemerintah AS saat ini yang dipimpin oleh Joe Biden mengklaim bahwa mereka bermaksud untuk membawa Amerika Serikat kembali ke JCPOA melalui pembicaraan Wina, tetapi dalam praktiknya belum mundur dari mengejar kebijakan tekanan maksimum.
Pemerintah AS telah berulang kali mengatakan selama pembicaraan Wina bahwa semua opsi, termasuk aksi militer, ada di meja, jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
“Saya tidak berpikir [opsi militer] ini benar-benar ada di layar radar mereka. Menurut pendapat saya, [ancaman militer] ini adalah ancaman kosong lainnya. Saya tidak berpikir itu akan berdampak pada penilaian Iran terhadap situasi tersebut. Saya tidak berpikir mereka takut dengan ancaman ini," ujar Bolton.
Mantan Presiden AS Donald Trump menarik negara keluar dari perjanjian JCPOA pada Mei 2018 dan menjalankan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran dalam agendanya.
Utusan khusus AS untuk Iran, Robert Malley, baru-baru ini mengatakan kepada televisi MSNBC bahwa tujuan kampanye tekanan maksimum pemerintahan Trump untuk menghentikan program nuklir Iran menjadi bumerang bagi AS sendiri.

Lawan Cina, AS akan Buka Kembali Kedutaan di Kepulauan Solomon
Amerika Serikat akan membuka kembali kedutaan di Kepulauan Solomon untuk melawan pengaruh Cina.
AS menutup kedutaan besarnya di ibu kota Pulau Solomon, Honiara pada 1993 dan sekarang diwakili oleh konsulat jenderal. Kepulauan Solomon adalah salah satu negara di Pasifik, yang bersama dengan pemerintah Cina, menentang kemerdekaan Taiwan.
Pentagon sebelumnya mengumumkan rencana untuk memperluas pangkalan militer AS di Pulau Guam dan Australia untuk memperkuat pertahanan melawan Cina.
Dalam sebuah pernyataan kepada Kongres AS, Departemen Luar Negeri meminta para legislator untuk menyetujui pembukaan kembali kedutaan di Kepulauan Solomon.
"Kepulauan Solomon memainkan peran penting dalam Perang Dunia II di samping AS. Washington tidak ingin kehilangan kontak dengan pulau itu pada saat ada ancaman dominasi Cina di kawasan," tambahnya Sabtu (12/2/2022).
Pernyataan itu menekankan bahwa pemerintah Beijing berusaha untuk terlibat secara luas dengan para pemimpin dan pejabat pemerintah di Kepulauan Solomon dengan janji akan mengalokasikan dana untuk infrastruktur dan melaksanakan proyek-proyek besar.
AS selalu menghasut Taiwan untuk melawan pemerintah Cina serta menyediakan dukungan keuangan dan militer untuk pulau tersebut.
Beijing berulang kali memperingatkan Washington agar tidak menjual senjata ke Taiwan dan melakukan intervensi. Beijing menekankan pihaknya tidak akan mentolerir kemerdekaan Taiwan dan pulau itu merupakan bagian integral dari Cina.
Warga Suriah Kecam Aksi Ilegal AS di Hasakah
Penduduk Provinsi Hasakah di Suriah memprotes penghancuran fasilitas publik dan pencurian minyak di wilayah itu oleh pasukan Amerika Serikat.
Dikutip dari Iran Press, Sabtu (12/2/2022), pasukan Amerika, yang memiliki kehadiran ilegal di timur laut Suriah, terkadang menghancurkan rumah-rumah penduduk dan fasilitas publik dengan menyerang daerah pemukiman.
Selain itu, pasukan AS terus mencuri minyak di ladang minyak Rmelan, Provinsi Hasakah.
Serangan teroris Daesh di penjara Ghuwaryran di Hasakah dan intervensi pasukan AS telah membuat warga setempat tergusur. Sejumlah warga Suriah kepada Iran Press mengatakan AS bertanggung jawab atas kesulitan mereka.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah warga berkumpul di Bundaran Presiden kota Hasakah untuk mengecam penghancuran fasilitas publik dan rumah-rumah mereka oleh pasukan AS.
Warga memprotes kehadiran ilegal pasukan AS dan mendesak mereka untuk keluar dari Suriah.
Warga Hasakah selalu mendukung integritas teritorial negara mereka dan pemerintah pusat di Damaskus.
Pentagon: Houthi Dua Kali Serang Markas Pasukan AS di UEA
Setelah serangan rudal dan drone militer Yaman ke Uni Emirat Arab, Juru bicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon mengungkap fakta bahwa markas pasukan AS di UEA dua kali diserang Yaman.
John Kirby, Rabu (9/2/2022) dalam wawancara dengan situs berita Al Hurra mengatakan, AS secara praktis telah mengambil langkah-langkah pemulihan situasi defensif dalam menghadapi serangan lintas-batas Houthi.
Ia menambahkan, "Militer Yaman sampai saat ini sudah melakukan 400 kali serangan, dan mereka menyerang pangkalan militer Al Dhafra di UEA, lokasi pasukan AS, dua kali."
Di sisi lain militer Yaman selalu mengumumkan, selama agresi Koalisi Arab Saudi terhadap Yaman berlanjut, maka posisi-posisi strategis dan sensitif negara-negara anggota koalisi akan diserang.
Terkait statemen Komandan Pusat Militer AS di Timur Tengah, CENTCOM Jenderal Kenneth McKenzie soal bantuan militer AS ke UEA, John Kirby menuturkan, "Menhan AS Lloyd Austin mengatakan bahwa kapal perang USS Cole, dan sebuah skuadron jet tempur baru F-22 akan dikirim ke UEA untuk bergabung dengan Angkatan Udara negara itu,".(PH)