Krisis Energi di Pelupuk Mata Eropa
https://parstoday.ir/id/news/world-i130944-krisis_energi_di_pelupuk_mata_eropa
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa musim dingin mendatang akan menjadi salah satu musim dingin tersulit di Eropa. Macron mengatakan, "Eropa akan menghadapi banyak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan gasnya musim dingin ini. Oleh karena itu, Eropa akan mengontak negara-negara mitra Asia untuk mengkoordinasikan dan mengintensifkan negosiasi mengenai pasokan gas,".
(last modified 2025-11-30T07:49:40+00:00 )
Okt 09, 2022 09:29 Asia/Jakarta

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa musim dingin mendatang akan menjadi salah satu musim dingin tersulit di Eropa. Macron mengatakan, "Eropa akan menghadapi banyak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan gasnya musim dingin ini. Oleh karena itu, Eropa akan mengontak negara-negara mitra Asia untuk mengkoordinasikan dan mengintensifkan negosiasi mengenai pasokan gas,".

Para kepala negara Uni Eropa dalam pertemuan tidak resmi di Praha, ibu kota Republik Ceko hari Jumat mengatakan bahwa mereka akan terus bekerja untuk memenuhi pasokan energi negara-negara anggota guna memecahkan krisis energi yang meresahkan keluarga dan perusahaan kawasan Eropa. Pada saat yang sama muncul kesenjangan antara sesama negara anggota Uni Eropa di bidang penanganan krisis energi.

Dalam sebuah pernyataan setelah KTT Praha, Perdana Menteri Ceko, Petr Fiala menegaskan kembali dukungannya terhadap solusi bersama Uni Eropa guna mengatasi krisis energi dan penentangannya terhadap solusi nasional dan individu. Sebab, menurut pendapatnya, solusi semacam ini bertentangan dengan ketentuan Uni Eropa. 

Sebelum pertemuan hari Jumat, Perdana Menteri Ceko mengkritik paket dukungan energi nasional baru-baru ini yang dikeluarkan pemerintah Jerman senilai 200 miliar euro. Fiala mengatakan, "Saya atas nama Republik Ceko berulangkali menegaskan, jika kita hanya memiliki solusi nasional, maka kita akan dirugikan oleh kebijakan beberapa negara seperti Jerman, dan kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi,". Serangkaian peringatan dan tindakan ini menunjukkan keprihatinan serius pejabat tinggi negara-negara Eropa tentang situasi bencana pasokan energi di benua ini menghadapi musim dingin akan datang.

 

 

Sejak perang di Ukraina meletus pada Februari 2022, Eropa bersama dengan Amerika Serikat menerapkan sanksi paling berat terhadap Rusia. Sanksi terhadap sektor energi Rusia dengan memutus pembelian minyak melalui laut dan pengurangan pembelian gas dari negara ini juga diajukan pertama kali oleh otoritas Eropa dalam paket keenam sanksi Eropa terhadap Rusia, dan dijalankan dengan arahan dikte Amerika Serikat.

Sebenarnya, otoritas Eropa mencoba menekan Rusia dalam perang Ukraina dengan menjatuhkan sanksi ekonomi, tetapi kebijakan Eropa tersebut sejauh ini justru membuahkan hasil sebaliknya. Penerapan sanksi Eropa yang luas terhadap Rusia dan reaksi balik Moskow dengan mengurangi atau menghentikan ekspor minyak dan gas ke negara-negara Eropa telah menciptakan situasi yang mengerikan di bidang energi bagi negara-negara ini.

Selain itu, tidak ada prediksi yang optimistik tentang situasi energi di Eropa pada tahun 2023. Mary Warlick, Kepala Badan Energi Internasional hari Rabu memperingatkan bahwa Eropa akan menghadapi krisis energi yang lebih parah tahun depan. Warlick mengatakan, “Uni Eropa membutuhkan solidaritas di antara negara-negara anggota untuk mengatasi krisis gas saat ini,".

Sebelumnya, laporan triwulanan Badan Energi Internasional menyatakan, jika negara-negara Uni Eropa benar-benar berhenti mengimpor energi dari Rusia, maka mereka harus melakukan pemangkasan energi sebesar 13 persen pada bulan-bulan musim dingin. Selain itu, dengan semakin besarnya krisis energi di Eropa, pemerintah Inggris telah menyiapkan skenario pembatasan kuota distribusi energi di musim dingin, termasuk pemadaman listrik selama empat hari  karena kurangnya pasokan gas di musim dingin yang ekstrim.

 

 

Pakar ekonomi percaya bahwa efek dan konsekuensi ekonomi dari perang Ukraina di Eropa akan bersifat jangka panjang dan akan berlanjut selama lebih dari 20 tahun. Situasi Eropa saat ini sebenarnya merupakan hasil dari keterkaitan negara-negara tersebut dengan kebijakan Amerika dalam mendukung Ukraina melawan Rusia.

Warga Eropa membayar lonjakan harga energi yang memicu konsekuensi penurunan tajam tingkat kesejahteraan, serta lonjakan inflasi yang parah dan krisis ekonomi dan sosial. Mereka dihadapkan pada pengurangan layanan sosial, ancaman krisis energi, kenaikan harga bahan bakar dan makanan, serta inflasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain itu, orang-orang Eropa pesimis menghadapi situasi dunia di tahun-tahun mendatang. Dan krisis energi yang akan dihadapi di musim dingin yang sulit sudah di pelupuk mata mereka.(PH)