Pembantaian Mitchell River; Simbol Pembunuhan Massal terhadap Penduduk Asli Australia
https://parstoday.ir/id/news/world-i180516-pembantaian_mitchell_river_simbol_pembunuhan_massal_terhadap_penduduk_asli_australia
Kolonialisme Inggris di Australia disertai kekerasan luas terhadap penduduk asli.
(last modified 2025-11-17T07:39:20+00:00 )
Nov 17, 2025 14:14 Asia/Jakarta
  • Pembantaian Mitchell River; Simbol Pembunuhan Massal terhadap Penduduk Asli Australia

Kolonialisme Inggris di Australia disertai kekerasan luas terhadap penduduk asli.

Parstoday, kedatangan orang-orang Inggris di Australia pada tahun 1788 merupakan awal dari sebuah periode kelam bagi penduduk asli benua tersebut. Dengan tibanya kelompok pertama orang Inggris, bentrokan berdarah dengan penduduk asli pun dimulai. Kaum kolonialis merebut tanah-tanah penduduk asli untuk pertanian dan peternakan serta mencabut mereka dari sumber-sumber kehidupan mereka.

Perlawanan penduduk asli mendapat balasan berupa kekerasan dan penindasan keras dari pihak Inggris. Bentrokan berdarah terjadi di seluruh benua, banyak suku yang musnah, dan gelombang pembantaian tersebar luas di Australia. Pembantaian, pengusiran, penyakit yang dibawa para pendatang, serta kebijakan sistematis menyebabkan penurunan drastis populasi penduduk asli dan upaya untuk memusnahkan mereka secara fisik maupun kultural.

Pembantaian Terorganisir

Salah satu aspek penting kejahatan Inggris adalah pembantaian massal. Kolonialis Inggris di Australia selama abad ke-18 dan ke-19 melakukan pembantaian luas terhadap penduduk asli. Kematian massal tersebut mencakup penembakan kolektif, peracunan makanan dan air, pembakaran permukiman, serta pengusiran anak-anak, yang secara keseluruhan dianggap sebagai bagian dari proses genosida.

Pembantaian penduduk asli Australia bukanlah peristiwa terpisah, melainkan bagian dari kebijakan sistematis untuk pembersihan etnis dan budaya. Kejahatan ini meninggalkan dampak mendalam pada masyarakat penduduk asli, dan hingga kini akibatnya tetap terlihat dalam diskriminasi dan keterpinggiran mereka. Penelitian sejarah menunjukkan adanya lebih dari 300 lokasi pembantaian yang telah didaftarkan di Australia, tempat penduduk asli dibunuh secara sistematis. Di negara bagian Victoria, hanya dalam dua dekade setelah kolonisasi dimulai, populasi penduduk asli menurun hingga tiga perempatnya.

Beberapa Pembantaian Paling Mencolok

Pembantaian Mitchell River (Queensland, 1860-an): Pembantaian Mitchell River merupakan salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah Australia, terjadi pada 18 Desember 1864 di Queensland utara, dan puluhan penduduk asli Australia dibunuh oleh polisi serta para pemukim Eropa. Peristiwa ini merupakan contoh penindasan brutal kolonialis terhadap komunitas penduduk asli.

Dalam serangan tersebut, polisi perbatasan dan pemukim Eropa menyerang sebuah wilayah di dekat Sungai Mitchell dengan tujuan utama menumpas dan memusnahkan kelompok penduduk asli yang menolak pendudukan tanah mereka.

Laporan menunjukkan antara 30 hingga 40 penduduk asli—termasuk perempuan dan anak-anak—dibunuh. Dampaknya sangat berat: populasi penduduk asli menurun drastis, penyintas terpaksa meninggalkan tanah leluhur, dan peristiwa ini tetap menjadi simbol ketidakadilan historis dalam ingatan kolektif penduduk asli. Para peneliti dan aktivis hak asasi manusia kini menganggapnya sebagai bagian dari sejarah kelam Australia dan contoh genosida fisik dan kultural.

Pembantaian Myall Creek (New South Wales, 1838): Sekelompok pemukim membunuh 28 penduduk asli secara massal; ini merupakan salah satu dari sedikit kasus di mana para pelakunya diadili dan dihukum mati.

Pembantaian Convincing Ground / Condah (Tasmania, 1828): Dalam “Perang Hitam” di Tasmania, puluhan penduduk asli dibunuh dan pulau tersebut hampir sepenuhnya kehilangan populasi penduduk aslinya.

Pembantaian dengan Peracunan Massal: Tercatat lebih dari sembilan kasus di mana penduduk asli dibunuh melalui makanan atau air yang dicemari racun.

Kebijakan-Kebijakan Genosida

Kekerasan fisik hanya merupakan sebagian dari pola tersebut. Inggris menjalankan kebijakan yang bertujuan memusnahkan penduduk asli secara budaya maupun fisik:

Pengusiran dan pemisahan anak-anak penduduk asli dari keluarga mereka, yang kemudian dikenal sebagai “Generasi yang Diculik”.

Pelarangan bahasa dan ritual penduduk asli serta pemaksaan budaya Eropa.

Perampasan tanah dan penghancuran cara hidup tradisional.

Keseluruhan tindakan tersebut dipandang sebagai upaya genosida budaya dan fisik.

Reaksi dan Perlawanan Penduduk Asli

Meski menghadapi kekerasan luas, penduduk asli Australia tidak pernah sepenuhnya menyerah. Mereka melawan melalui pemberontakan lokal, mempertahankan tradisi, dan meneruskan sejarah mereka secara lisan. Namun tekanan kolonial sangat keras sehingga banyak komunitas musnah atau terdorong ke pinggiran.

Dampak Jangka Panjang

Kejahatan Inggris meninggalkan dampak mendalam pada masyarakat penduduk asli:

Penurunan populasi secara drastis dan hilangnya banyak suku.

Kemiskinan, diskriminasi, dan keterpinggiran sosial yang bertahan hingga kini.

Krisis identitas kultural serta hilangnya bahasa dan tradisi.

Penduduk asli Australia hingga kini masih bergulat dengan tingginya tingkat pemenjaraan, pengangguran, serta penyakit kronis—semuanya berakar pada kebijakan kolonial.

Pengakuan dan Penyelidikan Resmi

Dalam beberapa tahun terakhir, komisi kebenaran seperti Komisi Keadilan Yoorrook secara resmi menyatakan bahwa kolonialis Inggris di Australia telah melakukan genosida dan menyerukan pembayaran ganti rugi serta reformasi sosial. Sebuah proyek yang dipimpin Lyndall Ryan, profesor sejarah di Universitas Newcastle, telah memetakan lebih dari 300 lokasi pembantaian.

Para sejarawan Australia juga terus merekam dokumen sejarah kejahatan tersebut. Bahkan sejumlah politisi Australia kini menyerukan pengakhiran ketergantungan kepada Inggris dan menuntut pengakuan penuh atas tanggung jawab sejarah.

Kesimpulan

Kejahatan Inggris di Australia merupakan contoh nyata kekerasan kolonial dan upaya untuk memusnahkan sebuah bangsa asli. Pembantaian, kebijakan budaya dan ekonomi, serta pengusiran anak-anak semuanya menunjukkan adanya proyek genosida.

Meskipun pemerintah Australia saat ini mengklaim telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki masa lalu tersebut, luka sejarah itu tidak pernah benar-benar sembuh. Mengingat kembali kejahatan ini bukan hanya penting bagi keadilan sejarah, tetapi juga untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.(PH)