Kolonialisme Berdarah Spanyol dan Portugal serta Perdagangan Budak
-
Perbudakan Barat
Pars Today – Dokumen‑dokumen sejarah menunjukkan bahwa kekaisaran Spanyol dan Portugal, dalam salah satu periode paling kelam dalam sejarah Barat, menculik jutaan manusia Afrika dari tanah mereka dan menyeret mereka ke dalam perbudakan; masa ketika manusia tidak dipandang sebagai makhluk bermartabat, melainkan sebagai barang mati yang dapat dibeli dan dijual, dan fondasi pembangunan ekonomi para penjajah dibangun di atas penderitaan serta kehancuran bangsa‑bangsa Afrika.
Di antara babak‑babak gelap sejarah Barat, era perbudakan di kekaisaran Spanyol dan Portugal merupakan salah satu contoh yang paling pahit dan menyakitkan; masa ketika jutaan orang Afrika dipisahkan dari rumah, keluarga, dan identitas mereka demi menggerakkan roda pembangunan ekonomi para penjajah. Perdagangan mematikan ini bukan hanya mengubah nasib sebuah benua, tetapi juga meninggalkan luka mendalam pada hati nurani umat manusia—luka yang hingga kini masih tampak dalam struktur sosial dan rasial dunia.
Pada abad ke‑15, ketika Portugal mengambil langkah pertama untuk memperluas pengaruhnya di pesisir Afrika Barat, motivasi utamanya tidak lain adalah keserakahan ekonomi. Kapal‑kapal Portugis satu per satu melintasi perbatasan Gurun Sahara Besar dan mencapai pelabuhan‑pelabuhan kecil maupun besar di barat benua. Dalam proses ini, perdagangan budak secara bertahap terbentuk—perdagangan yang kemudian dikenal sebagai “perdagangan budak Atlantik” dan menelan jutaan manusia.
Dokumen‑dokumen milik pedagang Portugis‑Yahudi, Manuel Bautista Perez, menunjukkan bagaimana para pemimpin suku setempat menjual manusia sebagai budak dengan imbalan barang‑barang seperti roti, batu bara, batu mulia, dan senjata api. Mereka yang dijual biasanya adalah tawanan perang antarsuku, para pengutang, atau orang‑orang yang dihukum karena pelanggaran kecil. Namun yang tidak tercermin dalam dokumen‑dokumen tersebut adalah kedalaman penderitaan dan ketakutan yang dialami para korban selama perjalanan dan kehidupan mereka di wilayah‑wilayah jajahan.
Dengan kedatangan orang‑orang Eropa ke benua Amerika, populasi penduduk asli menurun dengan sangat cepat. Penyakit‑penyakit baru yang tidak dikenal, kerja paksa, dan kekerasan para penjajah menyebabkan jutaan penduduk asli kehilangan nyawa dalam waktu singkat. Akibatnya, untuk melanjutkan kegiatan penambangan emas dan perak serta mengembangkan perkebunan tebu dan tembakau, para penjajah membutuhkan tenaga kerja baru. Kebutuhan ini mengubah perdagangan budak dari aktivitas terbatas menjadi sebuah sistem ekonomi besar.
Spanyol, yang berdasarkan Perjanjian Tordesillas (kesepakatan tahun 1494 yang membagi dunia antara Spanyol dan Portugal serta memberikan monopoli perdagangan Afrika kepada Portugal), tidak memiliki hak langsung untuk membeli budak dari Afrika. Namun melalui sistem Asiento—kontrak yang mengizinkan Spanyol membeli budak Afrika secara tidak langsung dari para pedagang Portugis dengan membayar biaya tertentu—Spanyol akhirnya dapat memperoleh budak Afrika dari para pedagang Portugal.
Kontrak‑kontrak ini tidak hanya memberikan keuntungan besar bagi Portugal, tetapi juga memungkinkan Spanyol menyediakan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tambang‑tambang di Meksiko, Peru, dan Amerika Tengah.
Namun kekejaman yang sesungguhnya tampak dalam proses pengangkutan budak dan kondisi kehidupan mereka. Di pesisir Afrika, para budak ditempatkan di gubuk‑gubuk kecil yang mudah terbakar, dalam ruang yang sempit dan pengap. Ketika waktu pengiriman tiba, ratusan orang dirantai di ruang‑ruang gelap tanpa ventilasi di dalam kapal. Jendela‑jendela ditutup untuk mencegah kemungkinan pemberontakan, dan hal ini menyebabkan banyak dari mereka mati lemas. Makanan sangat sedikit dan penyakit menyebar dengan cepat. Berdasarkan penelitian sejarah, sekitar seperempat dari para budak meninggal sebelum mencapai tujuan—kematian sunyi, tanpa nama, tanpa tanda, di tengah lautan.
Mereka yang berhasil bertahan hidup, setelah tiba di wilayah jajahan, diberi tanda layaknya barang dagangan untuk menunjukkan siapa pemiliknya. Para penjajah tidak memandang mereka sebagai manusia, melainkan sebagai “modal ekonomi,” dan memperlakukan mereka seperti kawanan hewan.
Di koloni‑koloni Spanyol dan Portugal, para budak dipaksa bekerja dalam kondisi yang paling berat. Di tambang‑tambang perak Peru dan Meksiko, ribuan orang kehilangan nyawa di dalam terowongan gelap dan mematikan. Di perkebunan tebu Brasil, kerja yang melelahkan, panas yang menyengat, dan cambuk tanpa henti menjadikan hidup mereka seperti neraka yang nyata. Seiring waktu, aturan‑aturan internal dibuat untuk mengatur pembelian dan penjualan, kepemilikan, dan hukuman bagi para budak; aturan yang tujuannya bukan melindungi budak, tetapi menjamin produktivitas ekonomi dan mencegah pemberontakan.
Perbudakan di kerajaan-kerajaan Spanyol dan Portugal bukan hanya sebuah sistem ekonomi; itu adalah sebuah proyek kolonial besar yang dibangun di atas merendahkan nilai kehidupan manusia. Jutaan orang diculik dari Afrika, ribuan orang meninggal dalam perjalanan pemindahan, dan banyak generasi hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi. Sejarah kelam ini menjadi bukti sifat kolonialisme Barat yang memandang manusia Afrika bukan sebagai manusia, tetapi sebagai sumber tenaga kerja yang tak ada habisnya.
Pada masa itu, para penjajah Spanyol dan Portugal dengan pandangan dingin dan kejam menculik jutaan orang dari tanah mereka dan mengubah mereka menjadi komoditas yang bisa dibeli dan dijual. Dalam kisah pahit ini, penjajah tidak hanya membelenggu tubuh para korban, tetapi juga merampas identitas, bahasa, keluarga, dan masa depan jutaan manusia. Sejarah ini menunjukkan bagaimana kolonialisme Barat, dengan ketidakpedulian penuh terhadap penderitaan orang‑orang Afrika, menciptakan dunia di mana manusia dapat dengan mudah diubah menjadi alat—alat yang jika rusak atau mati, cukup diganti dengan yang lain. (MF)