Trump Berhadapan dengan ‘Sisi Gelap’ Perang Iran: Peti Mati Tentara
-
Donald Trump, Presiden AS menghormat peti jenazah tentara AS
Tehran, ParsToday – Surat kabar The Washington Post melaporkan bahwa upacara penghormatan baru-baru ini terhadap jenazah enam tentara Amerika yang tewas dalam operasi agresi terhadap Iran, menjadi indikasi memburuknya perang tersebut bagi Presiden Amerika Serikat.
Dalam sebuah upacara di Pangkalan Udara Dover, negara bagian Delaware, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Sabtu (07/03/2026) bertemu dengan keluarga enam tentara cadangan AS yang tewas akibat serangan drone Iran di lokasi penempatan mereka di Kuwait.
Menurut laporan ParsToday yang mengutip ISNA, surat kabar Amerika “The Washington Post” menilai upacara penghormatan jenazah enam tentara Amerika yang tewas dalam operasi agresi terhadap Iran sebagai tanda memburuknya perang bagi Donald Trump. Surat kabar ini membunyikan alarm mengenai kelanjutan korban jiwa di pihak militer Amerika dan potensi AS terjebak dalam kubangan perang lain di Asia Barat.
The Washington Post, dalam artikel berjudul “Kembalinya Jenazah Warga Amerika yang Tewas dalam Perang dengan Iran, Tanda Konfrontasi Trump dengan Sisi Buruk Perang”, menulis, “Ini adalah babak awal dari kisah perang yang meningkat, yang mulai berbalik merugikan rakyat Amerika dan kepresidenan Trump. Belum jelas apa hasil dari perang ini.”
Surat kabar tersebut menambahkan, “Posisi Trump yang kontradiktif mengenai jalannya operasi melawan Iran menunjukkan bahwa ia sendiri tidak yakin dengan hasil perang ini. Sebagai contoh, Presiden AS pada hari Sabtu mengklaim bahwa perang ini akan menjadi pertempuran yang ‘singkat’ dan hanya berlangsung beberapa minggu, tetapi pada saat yang sama membuka kemungkinan bahwa perang ini akan berlangsung lebih lama.”
Trump dalam upacara di Pangkalan Udara Dover, di hadapan peti mati para tentara Amerika yang tewas dalam perang terhadap Iran, memberikan hormat militer sebanyak enam kali. Berdiri di samping pesawat angkut militer dan memberi hormat kepada peti mati yang diselimuti bendera Amerika, ia berkata dengan singkat, “Saya benci melakukannya, tetapi ini adalah bagian dari perang.”
Namun, adegan tersebut, menurut banyak pengamat, mengingatkan pada “sisi gelap perang”.
Kini, banyak analis dan perwakilan Kongres Amerika memperingatkan bahwa jika jalur saat ini berlanjut, ini mungkin hanyalah permulaan kembalinya peti-peti mati. Di mata para kritikus, sudah saatnya Kongres dan opini publik Amerika mengajukan pertanyaan yang lebih serius mengenai kelanjutan perang ini, sebelum biaya kemanusiaan yang ditanggung menjadi lebih berat.(sl)