IEA Panik! 400 Juta Barel Dilepas, Harga Minyak Malah Naik
https://parstoday.ir/id/news/world-i186730-iea_panik!_400_juta_barel_dilepas_harga_minyak_malah_naik
ParsToday – Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa ekspor minyak melalui Selat Hormuz telah turun hingga di bawah 10 persen dari level sebelum agresi militer AS-Israel ke Iran. Kondisi ini disebut sebagai tantangan terbesar yang pernah dihadapi pasar minyak global.
(last modified 2026-03-12T20:05:24+00:00 )
Mar 12, 2026 21:04 Asia/Jakarta
  • Fatih Birol, Kepala IEA
    Fatih Birol, Kepala IEA

ParsToday – Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa ekspor minyak melalui Selat Hormuz telah turun hingga di bawah 10 persen dari level sebelum agresi militer AS-Israel ke Iran. Kondisi ini disebut sebagai tantangan terbesar yang pernah dihadapi pasar minyak global.

Melaporkan dari ParsToday, Kamis, 12 Maret 2026, Fatih Birol, Kepala IEA, dalam laporan bulanan terbarunya menyatakan bahwa pemulihan produksi minyak dan gas yang terhenti akibat agresi ke level sebelum krisis membutuhkan waktu "minggu hingga berbulan-bulan", tergantung kompleksitas ladang minyak. IEA memperkirakan setidaknya 10 juta barel per hari produksi cairan (minyak mentah dan kondensat) di kawasan terhenti.

Birol menegaskan bahwa pasar minyak menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah dalam hal skala. Sebanyak 32 negara anggota IEA, Rabu lalu, dengan suara bulat menyetujui intervensi terbesar dalam sejarah lembaga tersebut: melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis ke pasar global. Angka ini dua kali lipat lebih besar dibanding intervensi 182,7 juta barel saat perang Ukraina.

Intervensi Terbesar Justru Tak Mampu Redam Harga

Yang mencengangkan, pasar justru bereaksi berlawanan. Tak lama setelah pengumuman pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah, harga minyak tidak turun, melainkan melonjak drastis. Harga minyak mentah Brent pada perdagangan Kamis menembus angka 100 dolar AS per barel, mencatat kenaikan lebih dari 8 persen.

Analis menyoroti fakta bahwa minyak dari cadangan strategis baru akan sampai ke pasar dalam waktu 60 hingga 90 hari. Paul Molchanov dari Raymond James memperkirakan pengiriman baru efektif diterima pembeli dalam 60–90 hari. Philip Nova juga menegaskan proses ini memakan waktu "mingguan atau bulanan".

Skenario Mencemaskan di Depan Mata

Dana internasional dan analis senior memperingatkan bahwa jika perang berkepanjangan, dunia akan menghadapi kelangkaan fisik minyak. Vivek Dhar dari Commonwealth Bank of Australia mengatakan Brent dapat dengan cepat kembali ke kisaran 120–150 dolar AS untuk menekan permintaan melalui harga.

IEA juga menegaskan kapasitas produsen non-OPEC untuk mengisi kekosongan pasokan sangat terbatas. Bahkan dengan "sinyal yang tepat", maksimal 380.000 barel minyak serpih AS dapat ditambah hingga akhir tahun. Keterlambatan perbaikan fasilitas pasir minyak Kanada hanya akan menambah 150.000 barel lagi. Angka-angka ini tak berarti apa-apa di hadapan anjloknya produksi hingga 10 juta barel per hari.

Kekhawatiran ini muncul di tengah sejumlah negara, termasuk Jepang (80 juta barel), Korea Selatan (22,46 juta barel), dan Inggris (13,5 juta barel), yang secara resmi mengumumkan partisipasi dalam pelepasan cadangan. Para pakar memperingatkan bahwa bahkan minyak dari cadangan strategis pun mengalami penundaan signifikan; artinya, dunia akan menghadapi musim semi dan panas yang penuh gejolak dan mahal, dengan mata tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz.(sl)