Masa Depan Gelap Ekonomi Global di Balik Serangan terhadap Iran
-
Situasi ekonomi saat ini di dunia
Pars Today - Seorang ekonom Amerika memperingatkan bahwa ekonomi dunia sedang memasuki krisis yang lebih dalam dari prediksi awal, menyusul agresi militer Washington dan Tel Aviv terhadap Iran serta ketegangan di Asia Barat.
Menurut laporan Pars Today yang mengutip IRNA, Mohamed El-Erian, ekonom senior Amerika, telah memperingatkan bahwa dunia akan menghadapi kelangkaan fisik sumber daya kunci, bukan hanya peningkatan sederhana harga energi.
Menurutnya, skenario minyak $200 per barrel yang sebelumnya dianggap tidak mungkin, kini mulai memasuki wilayah probabilitas realistis. Gangguan dalam rantai pasok barang seperti pupuk kimia, aluminium, bahkan helium menunjukkan bahwa krisis energi telah menjadi shock komoditas yang luas.
El-Erian menekankan, “Risiko utama mulai ketika peningkatan harga energi berubah menjadi kelangkaan barang yang nyata. Suatu peristiwa yang juga akan melibatkan ekonomi Amerika melalui meningkatnya biaya impor.”
Prediksi J.P. Morgan
Bank Amerika J.P. Morgan juga menyatakan bahwa pelepasan cadangan energi strategis hanya dapat membantu mengendalikan pasar hingga sekitar 20 April. Bank ini memperingatkan bahwa jika pembatasan di Selat Hormuz berlanjut, alat-alat pemerintah untuk menekan harga akan sangat terbatas.
Selat Hormuz, sebagai jalur yang dilalui sebagian besar minyak dunia, setiap gangguan di sana dapat mengacaukan asumsi dasar “akses berkelanjutan terhadap minyak” dalam ekonomi global. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan penyimpanan, persaingan sengit antar negara untuk membeli minyak, dan lonjakan harga yang melampaui tingkat kelangkaan sebenarnya, fenomena yang disebut “shock ekspektasi energi”.
Runtuhnya Siklus Dolar
Richard D. Wolff, ekonom Amerika, juga berpendapat bahwa struktur ekonomi dunia sedang mengalami perubahan mendasar. Menurutnya, selama beberapa dekade penjualan minyak dalam dolar telah menciptakan dasar bagi kekuatan finansial Amerika. Karena negara-negara terpaksa menyimpan dolar untuk membeli energi dan mata uang ini kembali mengalir ke ekonomi Amerika.
Wolff menegaskan, “Siklus ini kini sedang runtuh, dan sistem energi-keuangan dunia sebelumnya mungkin tidak akan kembali seperti sebelumnya.”(sl)