COP17 Mongolia: 197 Negara Bahas Daratan, Air, dan Harapan di Tengah Krisis Iklim
-
Lingkungan hidup dalam COP17 Mongolia
Pars Today - Dalam pertemuan informasi terkait keterlibatan UNESCO pada Konferensi ke-17 PBB untuk Memerangi Desertifikasi (COP17), ditekankan pentingnya peran pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebijakan dalam merehabilitasi lahan yang rusak serta memperkuat kerja sama global untuk menghadapi krisis lingkungan. Konferensi ini akan digelar di Ulan Bator, Mongolia, dengan dihadiri perwakilan dari 197 negara.
Dilansir IRNA dari Komisi Nasional UNESCO di Iran, COP17 akan berlangsung pada 17–28 Agustus 2026 (26 Mordad - 6 Shahrivar 1405 HS) di Ulan Bator, dengan tema "Merevitalisasi Tanah, Memulihkan Harapan". Konferensi ini merupakan salah satu pertemuan global terbesar di bidang lingkungan hidup, dan diperkirakan dihadiri sekitar 10.000 peserta, termasuk perwakilan dari 197 negara anggota konvensi, pemimpin pemerintahan, sektor swasta, masyarakat sipil, ilmuwan, generasi muda, masyarakat adat, penggembala, serta petani kecil.
Dalam kerangka COP17, ditekankan pentingnya kerja sama dengan UNESCO dalam meningkatkan pendidikan, memperluas literasi lingkungan, dan memperkuat hubungan antara ilmu pengetahuan dan pengambilan kebijakan. UNESCO mendukung pendekatan ilmiah dan edukatif dalam pembangunan berkelanjutan, serta memainkan peran strategis dalam memberdayakan negara-negara untuk menghadirkan solusi efektif dalam memerangi desertifikasi dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
Pertemuan ini juga menegaskan bahwa COP17 akan fokus pada solusi praktis dan layak investasi di bidang restorasi lahan, manajemen sumber daya air, serta penguatan ketahanan masyarakat. Prioritas lainnya meliputi pengambilan keputusan strategis di bidang padang rumput dan sumber daya air, pengembangan solusi berbasis alam, finalisasi kerangka kerja masa depan untuk memerangi desertifikasi dan kekeringan, serta penguatan mekanisme pendanaan dan kerja sama multilateral.
Fakta dan Target Global
Berdasarkan laporan yang disampaikan, sekitar 40 persen lahan dunia telah terdegradasi, dengan dampak luas terhadap ketahanan pangan, sumber daya air, mata pencaharian, dan stabilitas ekonomi. Target global restorasi 1,5 miliar hektar lahan terdegradasi pada 2030 kembali ditekankan. Dinyatakan bahwa setiap investasi satu dolar di bidang ini dapat menghasilkan imbal balik signifikan antara 7 hingga 30 dolar, sementara kontribusi sektor swasta saat ini masih sekitar 6 persen.
Steppe Agenda Action diperkenalkan sebagai kerangka kerja strategis untuk menyelaraskan tiga Konvensi Rio, mengintegrasikan proyek-proyek dalam skala teritorial, serta mengubah kebijakan menjadi rencana investasi operasional. Selain itu, Inisiatif Global untuk Padang Rumput dan Penggembala akan diluncurkan sebagai program sepuluh tahun yang bertujuan mengelola padang rumput secara berkelanjutan, meningkatkan investasi, mempromosikan kesadaran global, dan memperkuat sinergi kelembagaan.
Isu Lintas Sektor
Dalam pertemuan ini juga ditekankan pentingnya:
- Kesetaraan gender dan peran perempuan dalam sistem penggembalaan.
- Pemanfaatan pengetahuan dan budaya lokal dalam pengelolaan sumber daya.
- Perlindungan warisan budaya yang terkait dengan penggembalaan dan kehidupan nomaden.
- Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dengan pendekatan berbasis iklim, termasuk pendidikan multibahasa untuk melestarikan pengetahuan lokal, pemberdayaan komunitas adat, serta penguatan ketahanan sistem pendidikan terhadap perubahan iklim.
Tahun Internasional Padang Rumput
Penyelenggaraan COP17 di tahun yang dideklarasikan Majelis Umum PBB sebagai "Tahun Internasional Padang Rumput dan Komunitas Penggembala" memiliki makna khusus. Tahun ini menyoroti peran vital padang rumput dalam menopang mata pencaharian sekitar 500 juta orang serta ketahanan pangan global.
Selama dua pekan COP17, akan digelar pertemuan para pejabat tinggi, dialog antarmenteri, forum multipihak, serta sesi khusus di bidang sains, inovasi, teknologi, dan pembiayaan. Selain negosiasi formal, konferensi ini diharapkan melahirkan aksi bersama dalam restorasi padang rumput, ketahanan iklim, manajemen air, ketahanan pangan, dan kesehatan tanah.
Dengan demikian, COP17 di Ulan Bator tidak hanya akan menjadi ajang lingkungan global, tetapi juga titik balik dalam hubungan antara pembangunan, keamanan manusia, dan restorasi lahan di tingkat internasional.
40 persen lahan dunia rusak. Restorasi 1,5 miliar hektar ditargetkan pada 2030. UNESCO dan 197 negara berkumpul di Mongolia untuk mengubah kebijadi aksi. Setiap dolar investasi bisa kembali hingga 30 dolar. Ini bukan hanya soal bumi, tetapi soal harapan, dan 500 juta penggembala serta komunitas adat yang menggantungkan hidup pada padang rumput, menunggu langkah nyata, bukan sekadar deklarasi.(sl)