Kesepian Mengubah Cara Otak Membaca Jantung: Akurat tapi Negatif
-
Kesepian
Pars Today - Temuan sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang kesepian merasakan detak jantung mereka sama akuratnya dengan orang lain, tetapi otak mereka memproses sensasi ini secara berbeda dan mengevaluasinya secara lebih negatif.
Melaporkan dari IRNA, situs Medical Xpress dalam laporannya menulis:
Psikolog telah lama menggambarkan kesepian sebagai ketidaknyamanan akibat kurangnya koneksi sosial yang diinginkan. Namun penelitian baru menunjukkan bahwa kesepian memiliki dimensi yang lebih kompleks dan juga terkait dengan cara kita bereaksi terhadap emosi negatif serta kepekaan kita terhadap tanda-tanda ancaman sosial.
Peneliti dari Universitas Hiroshima, dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Biological Psychology, meneliti hubungan antara kesepian dan kemampuan otak untuk merasakan detak jantung serta sensasi internal tubuh lainnya.
Studi yang dilakukan pada 39 mahasiswa muda dan sehat ini menunjukkan bahwa orang yang kesepian mendeteksi detak jantung mereka dengan akurasi yang sama dengan orang lain, tetapi perasaan dan interpretasi mereka terhadap tanda-tanda tubuh sangat berbeda. Mereka memiliki kepercayaan yang lebih rendah pada sensasi tubuh mereka, merasa kurang mampu mengendalikan emosi mereka, dan menunjukkan respons otak yang lebih lemah terhadap detak jantung mereka, artinya mereka merespons lebih sedikit dan memprosesnya dengan lebih redup.
Kesepian; Ancaman bagi Kesehatan Fisik dan Mental
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. Dokter telah lama mengetahui bahwa kesepian kronis terkait dengan masalah kesehatan serius, termasuk stres tinggi, depresi, dan gangguan fungsi sistem kekebalan tubuh, tetapi bagaimana tepatnya kesepian menimbulkan efek ini masih belum sepenuhnya jelas.
Otak kita terus-menerus menerima sinyal dari dalam tubuh, termasuk detak jantung. Proses ini, yang membantu kita membentuk emosi dan mengatur keadaan batin kita, sampai sebelum penelitian ini tidak secara langsung dikaitkan dengan kesepian.
Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Para peneliti memeriksa 39 orang dewasa muda dalam sesi 60 menit. Para partisipan pertama-tama mengisi kuesioner tentang kesepian, isolasi sosial, kesadaran tubuh, dan gejala depresi.
Kemudian para partisipan diminta untuk melakukan dua tes di ruangan yang tenang. Dalam tes pertama, mereka duduk diam dan menghitung detak jantung mereka dalam interval waktu 25 hingga 50 detik. Dalam tes kedua, mereka mendengarkan serangkaian suara dan menentukan apakah setiap suara selaras dengan detak jantung mereka yang sebenarnya atau tidak. Pada akhirnya, para peneliti merekam aktivitas otak mereka dalam keadaan istirahat dengan alat perekam gelombang otak, dan secara bersamaan merekam aktivitas jantung mereka.
Sensasi Tubuh; Lebih Negatif dan Kurang Yakin
Hasil kuesioner menunjukkan bahwa orang yang kesepian memiliki skor yang lebih rendah dalam empat bidang kesadaran tubuh: kepercayaan pada sensasi tubuh, kemampuan mengendalikan emosi, kesadaran emosional, dan kebebasan dari kekhawatiran. Kesepian tidak terkait dengan perhatian umum pada tubuh, tetapi secara khusus terkait dengan cara mengevaluasi dan mengatur sinyal-sinyal tubuh secara emosional.
Orang yang kesepian juga menunjukkan respons gelombang otak yang lebih lemah terhadap detak jantung mereka. Para peneliti menghubungkan respons yang lemah ini dengan area otak yang berperan sentral dalam kontrol emosi dan pengaturan diri. Menariknya, respons yang lemah ini secara spesifik terkait dengan kesepian dan tidak dapat dijelaskan oleh depresi, usia, atau jenis kelamin.
Tubuh yang Selalu dalam Keadaan Siaga
Temuan penelitian ini sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa kesepian membuat tubuh berada dalam keadaan siaga yang konstan. Ketika otak tidak mampu mengendalikan sinyal-sinyal stres internal, orang yang kesepian menjadi lebih sensitif terhadap setiap kemungkinan ancaman dan selalu siap bereaksi.
Dengan kata yang lebih sederhana, orang yang kesepian tidak hanya menafsirkan sensasi tubuh mereka secara lebih negatif, tetapi otak mereka juga menunjukkan respons yang lebih lemah terhadap sensasi tersebut. Hal ini dapat menjelaskan mengapa kesepian menjaga tubuh tetap dalam keadaan siaga terus-menerus.
Pandangan Peneliti terhadap Temuan
Dr. Yoshio Nakamura, penulis utama studi dari Universitas Hiroshima, mengatakan, "Temuan kami menunjukkan bahwa kesepian tidak mengurangi kemampuan seseorang untuk mendeteksi sinyal-sinyal tubuh, tetapi mengubah cara persepsi dan evaluasi sinyal-sinyal tersebut. Orang yang kesepian mengalami sensasi tubuh mereka secara lebih negatif dan tidak pasti."
Ia menambahkan, "Perubahan dalam sikap terhadap sensasi tubuh ini dapat menjelaskan mengapa orang yang kesepian lebih rentan terhadap stres, depresi, dan masalah fisik."
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Meskipun temuan ini jelas, masih ada pertanyaan penting yang belum terjawab: apakah perubahan dalam kesadaran tubuh ini menyebabkan kesepian, merupakan akibat darinya, atau muncul bersamaan dengannya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan mungkin dilakukan melalui studi jangka panjang dan eksperimen yang lebih luas di masa depan.
"Studi dari Universitas Hiroshima menemukan bahwa orang yang kesepian tidak kehilangan kemampuan untuk merasakan detak jantung mereka secara akurat, tetapi otak mereka memproses sensasi tersebut secara berbeda, lebih lemah dan dengan evaluasi yang lebih negatif. Mereka juga memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah terhadap sensasi tubuh, kurang mampu mengendalikan emosi, dan respons gelombang otak yang lebih lemah terhadap detak jantung."(Sail)