Devaluasi Yuan tidak Masuk Agenda Pertemuan G-20
Cina menyatakan bahwa nilai tukar yuan bergerak ke arah stabilitas final dan masalah devaluasi mata uang tidak masuk dalam agenda pertemuan G-20.
Sebagaimana dikutip IRNA, media-media Barat gencar memberitakan tentang proposal untuk mendevaluasi yuan menjelang pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral anggota G-20 di Shanghai mulai Jumat (26/2/2016).
Menteri Keuangan Cina Lou Jiwei mengatakan bahwa proposal untuk mendevaluasi yuan hanya sensasi media. Tidak ada agenda seperti itu.
“Beberapa pihak sengaja membuat rumor bahwa nilai tukar yuan akan menjadi bagian dari agenda pertemuan G-20, padahal isu itu sama sekali tidak benar dan masalah yuan tidak akan dibahas dalam pertemuan,” tegasnya.
Barat termasuk Amerika Serikat menilai penurunan nilai yuan akan mendorong peningkatan ekspor Cina, namun Beijing menekankan bahwa nilai yuan sudah rasional dan kelesuan perekonomian global tidak disebabkan oleh devaluasi mata uang Cina.
Selain tujuh negara industri maju yang mencakup AS, Inggris, Perancis, Jerman, Kanada, Italia dan Jepang, anggota G-20 lainnya juga termasuk Turki, Brazil, Argentina, India, Cina, Indonesia, Meksiko, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Australia dan Rusia serta perwakilan Uni Eropa.
Negara-negara G-20 menguasai 75 persen dari perdagangan dunia. Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G-20. (RM)