Di Balik Pesan Presiden Cina kepada Trump
Presiden Cina, Xi Jinping menyampaikan ucapan selamat kepada Donald Trump atas kemenangannya dalam pemilu presiden AS, dan menegaskan urgensi penguatan kerja sama antara Washington dan Beijing demi kepentingan masing-masing negara.
Ucapan selamat yang disampaikan Xi Jinping merupakan bagian dari etika diplomasi di arena internasional, sebagaimana juga dilakukan oleh presiden Rusia, Vladimir Putin terhadap Trump.
Cina dan Rusia membedakan sosok Trump sebagai capres, dan posisinya saat ini sebagai presiden terpilih AS yang akan mulai menjabat pada Januari 2017 mendatang.
Analisis terhadap hubungan bilateral Cina dan AS setidaknya bertumpu pada tiga variabel utama yaitu: ekonomi, keamanan dan militer.
Selama beberapa tahun terakhir terjadi dinamika yang cepat di kawasan Asia dan Pasifik, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Eropa, kinerja NATO dan terjadi sejumlah masalah yang berkaitan dengan Amerika Latin, Islam, terorisme yang terkadang menjadi isu bersama yang mempersatukan kepentingan AS dan Cina, tapi juga sebagian menjadi sisi perbedaan, bahkan pemicu friksi antara Washington dan Beijing.
Dalam pesan yang disampaikan kepada Trump, Xi Jinping menyebut AS dan Cina sebagai dua negara maju yang berpengaruh di dunia, dan menyinggung tanggung jawab khusus dan penting kedua negara dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia, serta meningkatkan kemajuan dan pembangunan di tingkat global.
Dari pesan ini, Cina tampaknya tidak terpengaruh oleh slogan kampanye Trump, bahkan sebaliknya melihat Trump sebagai sosok yang bertanggung jawab sebagai pengemban jabatan presiden AS yang diharapkan akan berkiprah untuk menjaga perdamaian, dan stabilitas global, serta tidak mencampuri urusan internal negara lain.
Sebelumnya, Trump dalam kampanye pemilu berulangkali menyerang Cina, dan menyebut Beijing sebagai penyebab pengangguran di AS. Tidak hanya itu, Trump juga berjanji akan menerapkan pajak sebesar 45 persen bagi produk Cina yang masuk ke AS.
Tapi tampaknya Xi Jinping menilai statemen tersebut sebatas slogan kampanye politik Trump. Sebab kedua negara memiliki kepentingan bersama. Beijing memandang kerja sama di tingkat bilateral, regional dan internasional dengan Washington dalam koridor menentang perang, mengedepankan kompromi, saling menghargai, dan kerja sama menang-menang.
Masalah yang belum diselesaikan antara AS dan Cina harus dibicarakan di meja perundingan. Sejumlah masalah seperti semenanjung Korea dengan poros perlucutan senjata nuklir Korea Utara, menemukan formulasi yang logis dan ilmiah bagi penyelesaian masalah perdagangan bilateral, masalah dukungan AS terhadap isu keamanan Asia Pasifik dan kelompok separatis di Xinjiang, Tibet dan Taiwan, juga sekutu lain Washington di Asia yang memiliki friksi dengan Cina merupakan sebagian dari sengketa antara kedua negara.
Kebijakan AS dalam masalah kinerja NATO dan penyebarannya di kawasan timur, standar ganda AS dalam penanganan masalah terorisme, serta sepak terjang militernya di Timur Tengah, terutama Suriah, juga menjadi masalah lain yang bertolak belakang dengan kepentingan Cina.
Meskipun sebagian kebijakan AS keliru, dan tidak sejalan dengan kepentingan Cina, tapi posis AS sebagai negara yang masih diperhitungkan di dunia menjadikan Cina realistis dengan mengedepankan prinsip mengutamakan keuntungan dan kepentinganya sendiri dari hubungan tersebut, dan bertekad melanjutkan kerja sama dengan Washington.
Beberapa tahun lalu, Brzezinski, mantan penasehat keamanan nasional AS di bukunya "Second Chance: Three Presidents and the Crisis of American Superpower" menyebutkan salah satu kesalahan besar AS tidak menyiapkan sarana pengucilan Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet. Menurutnya, AS harus bermain logis untuk memisahkan Cina dari Rusia dengan mendekati Bejing.
Kini, kita tinggal menunggu apa yang akan dilakukan Trump terhadap Cina, apakah akan mendengarkan nasehat Brzezinski ataukah melanjutkan konflik terhadap Beijing dengan mewujudkan slogan kampanyenya.