Puncak Tensi Korut dan AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i36642-puncak_tensi_korut_dan_as
Bersamaan dengan peringatan hari jadi militer Korea Utara ke 85 dan masa kerja 100 hari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tensi politik antara Pyongyang dan Washington semakin intens.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Apr 25, 2017 14:31 Asia/Jakarta
  • AS-Korut
    AS-Korut

Bersamaan dengan peringatan hari jadi militer Korea Utara ke 85 dan masa kerja 100 hari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tensi politik antara Pyongyang dan Washington semakin intens.

Presiden Amerika di pertemuan dengan duta besar negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB, menilai pendekatan saat ini yang diterapkan terhadap Korut tidak dapat diterima. Ia mengklaim, Pyongyang ancaman serius bagi dunia. Trump juga meminta Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi baru kepada Korea Utara. Bersamaan dengan itu, Nikki Haley, duta besar Amerika di PBB menyatakan dirinya telah menginformasikan kepada anggota Dewan Keamanan bahwa Amerika tengah melakukan langkah praktis terhadap Korea Utara.

Sementara itu, sejumlah media memprediksikan Korea Utara akan menggelar uji coba keenam nuklirnya bertepatan dengan peringatan hari militer ke 85. Potensi ini akan membuat kondisi krisis di kawasan Asia timur semakin parah. Amerika Serikat memperingatkan akan bertindak menyikapi aksi seperti ini dan bisa jadi Washington akan terlibat perang dengan Pyongyang.

Di sisi lain, Pyongyang menilai eskalasi kehadiran militer Amerika di sekitar Semenanjung Korea, pengiriman kapal perang baru AS ke kawasan dan tudingan berkesinambungan Donald Trump sebagai pemicu krisis kondisi yang ada.

Sepertinya seiring dengan kian dekatnya masa kerja 100 hari pemerintah baru Amerika, Donald Trump berminat mengalihkan opini dari isu internal Amerika dengan mengobarkan krisis internasional dan menambah ancaman potensial perang di Asia Timur. Lebih dari 90 hari lalu, presiden Amerika dililit berbagai skandal dan kegagalan beruntun, mulai dari skandal hubungan rahasia orang-orang dekatnya dengan Rusia hingga kegagalan melaksanakan keppres anti imigran serta membatalkan undang-undang kesehatan yang dikenal dengan nama Obamacare.

Kasus ini memicu dukungan rakyat Amerika terhadap Trump semakin rendah. Jajak pendapat menunjukkan bahwa Trump di antara presiden Amerika pasca perang Dunia Kedua memiliki popularitas paling rendah selama 100 hari masa kerja. Berlanjutnya ketidakpuasan warga terhadap presiden mempengaruhi program pemerintah dan posiis Partai Republik di negara ini.

Munculnya krisis di kebijakan luar negeri dan munculnya Trump di posisi presiden yang kompeten di hadpaan apa yang diklaim sebagai ancaman keamanan terhadap Amerika, dapat merefleksikan proses anjloknya popularitas presiden negara ini. Peristiwa beberapa pekan lalu terjadi melalui instruksi serangan rudal Amerika ke Suriah dengan dalih penggunaan senjata kimia di kota Khan Shaykhun dan dukungan terhadap Trump baik di dalam maupun luar negeri.

Manipulasi krisis terkait dengan Korea Utara berbeda dengan pengobaran krisis di Suriah. Suriah mengingat enam tahun dililit perang dengan teroris dan dihadapkan pada koalisi Barat-Arab, tidak ada peluang besar bagi intervensi militer langsung Amerika. Namun Korea Utara dengan menggunakan kemampuan rudal dan nuklirnya mampu membalas setiap ancaman Amerika.

Selain itu, terlibat bentrokan militer dengan Korea Utara tanpa menghindari resiko gesekan militer dengan Cina sebagai sekutu utama Pyongyang tidak akan mungkin. Prediksi ini membuat ancaman berulang Trump terhadap Korea Utara tidak memiliki sisi praktis, kecuali presiden AS menyeret dunia ke arah perang merusak di kawasan sensitif Asia Timur melalui petualangan militernya. (MF)