Konflik Korea dan KTT ASEAN di Filipina
Pasca pertemuan tingkat menteri luar negeri negara anggota ASEAN, sidang dilanjutkan dengan konferensi tingkat tinggi yang berlangsung hari Sabtu (29/4)
Di akhir pertemuan tingkat menlu se-ASEAN disampaikan kekhawatiran mendalam mengenai kondisi krisis di semenanjung Korea, dan uji coba nuklir baru Korea Utara. Mereka menyerukan kepada semua pihak yang berselisih untuk menahan diri, dan tidak melakukan tindakan yang akan memicu meningkatnya tensi konflik. Selain itu, para menteri luar negeri negara anggota perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara menyerukan dimulainya kembali perundingan segi enam mengenai penyelesaian krisis nuklir semenanjung Korea.
Para pemimpin 10 negara anggota ASEAN yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Kamboja, Laos, Vietnam, Thailand, Brunei dan Singapura menegaskan pernyataan bersama yang dicapai para menteri luas negeri masing-masing yang berlangsung sebelumnya.
Poin penting yang menjadi perhatian, dalam pertemuan tersebut tidak dibahas masalah tentang friksi di Luat Cina Selatan, termasuk pembangunan pulau buatan oleh Cina dengan tujuan menghindari memanasnya tensi ketegangan di kawasan. Dengan mempertimbangkan perekonomian Asia Tenggara yang bertumpu pada investasi asing, keamanan yang berkelanjutan di kawasan sangat penting. Pada saat yang sama, salah satu isu penting yang menjadi perhatian negara-negara anggota ASEAN adalah masalah terorisme, terutama menghadapi kelompok teroris Daesh, dan tekad bersama negara anggota ASEAN mewujudkan keamanan perairan internasional, termasuk Sulu dan selat Malaka.
Di sisi, AS terus-menerus memanaskan tensi ketegangan di kawasan perairan Laut Cina Selatan dan semenanjung Korea. Menyikapi masalah tersebut, negara-negara anggota Asia dalam statemennya menegaskan bahwa instabilitas di semenanjung Korea secara serius berdampak negatif terhadap kawasan Asia Tenggara. Masalah ini menunjukkan kekhawatiran ASEAN mengenai sepak terjang Washington yang tidak memiliki program solutif terhadap penyelesaian krisis di kawasan, kecuali hanya memperkeruh krisis. Tampaknya, kekhawatiran tersebut beralasan. Pasalnya selama ini, AS cenderung memaksa Korea Utara supaya menghentikan program nuklirnya. Pada saat yang sama, Pyongyang memandang perlu menunjukkan kekuatannya untuk menghadapi tekanan dari AS.
Negara-negara ASEAN meminta meminta AS menghidupkan kembali perundingan segi enam untuk menyelesaikan masalah nuklir Korea Utara. Sepak terjang AS yang melanggar kesepakatan tersebut menghalangi penyelesaian krisis di semenanjung Korea melalui jalur politik. Dalam kondisi demikian, negara-negara kawasan Asia Tenggara mengkhawatirkan munculnya manuver baru di kawasan oleh AS dengan poros kekuatan Jepang, Korea Selatan dan Australia. Tampaknya, manuver Wahington tersebut alih-alih menyelesaikan masalah justru memperkeruh konflik di semenanjung Korea. Inilah yang menjadi perhatian para pemimpin negara anggota ASEAN dalam pertemuan di Manila.