Kontroversi Baru dalam Pertemuan Trump dan Lavrov
Publikasi foto pertemuan Presiden Amerika dan Menteri Luar Negeri Rusia di ruangan tertutup telah membuat masalah baru bagi pemerintah Donald Trump.
Dalam pertemuan tersebut, selain Sergeri Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia, hadir juga Sergey Kislyak, Duta Besar Rusia di Amerika dan tidak seorang wartawan pun yang diperbolehkan mengambil gambar di ruang tertutup itu. Sekalipun demikian, fotografrer khusus Menlu Amerika sempat mengambil gambar Trump yang tertawa sedang menjabat tangan Lavrov dan Kislyak. Foto ini dipublikasikan oleh Kemenlu Rusia di Moskow, sementara bagian media Gedung Putih tidak mau menerbitkan foto tersebut.
Sekalipun pertemuan pertama Trump sebagai Presiden Amerika dengan Menteri Luar Negeri Rusia sudah memunculkan banyak pertanyaan, tapi cara penyambutan Gedung Putih terhadap Lavrov dan foto pertemuan itu telah memunculkan kontroversi baru bagi pemerintah Trump. Pada saat yang sama, jabat tangan Trump dengan Kislyak, Dubes Rusia di Washington yang masuk dalam "dokumen Trump-Rusia" justru menambah daftar kritik terhadap Gedung Putih.
Padahal Washington belum pulih dari syok akibat diberhentikannya James Comey secara tiba-tiba dari jabatannya sebagai direktur FBI. Mayoritas media Amerika menyebut cara pemberitaan pertemuan Trump dan Lavrov di Gedung Putih merupakan petanda lain dari ketidakpedulian pemerintah Amerika akan kebebasan informasi dan ingin melawan media-media mainstream. Mereka yang mengritik kebijakan pemerintah, baik dari kubu Demokrat atau Republik menegaskan bahwa Trump dengan cara ini ingin menantang siapa saja yang ingin mendalami kemungkinan peran Rusia dalam proses pemilu presiden lalu.
Gedung Putih dan Kremlin berkali-kali menolak campur tangan Rusia dalam pemilu presiden Amerika tahun 2016. Namun kelompok kuat anti Rusia di Amerika tetap berusaha mencari petunjuk intervensi Rusia terkait urusan dalam negeri Amerika dan merekam kawat rahasia antara orang-orang dekat Trump dengan Rusia. Kelompok ini khawatir Trump melaksanakan janjinya untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia dan mengambil langkah untuk menghapus ketegangan dengan Vladimir Putin, timpalannya dari Rusia.
Kini dua kekuatan politik terkait interaksi dengan Rusia di Amerika tengah berhadap-hadapan. Di satu sisi ada sejumlah pemimpin partai Republik di Kongres, anggota masyarakat intelijen Amerika, anggota Demokrat di Kongres dan sebagian pejabat di masa Barack Obama yang berusaha mencari kesempatan untuk merusak hubungan Amerika dan Rusia. Sampai saat ini mereka berhasil membuat masalah bagi orang-orang dekat presiden dan pemecatan penasihat keamanan nasional, Michael Flynn.
Di sisi lain, pemerintah saat ini yang dipimpin oleh Donald Trump didukung oleh sekelompok kubu Republik di Kongres, sejumlah teorisian politik dan sebagian media. Mereka meyakini solusi atas masalah global termasuk masalah dalam negeri dengan meredam ketegangan dan kerjasama antara Washington dan Moskow. Kini dengan melengserkan James Comey, mantan Direktur FBI, kelompok ini dapat melakukan serangan balik kepada mereka yang anti Rusia.
Dalam atmosfir yang penuh ketegangan di Washington, publikasi foto Trump yang sedang tertawa dengan para pejabat senior Rusia di Gedung Putih sangat merugikan pemerintah Amerika, bahkan boleh jadi foto-foto ini akan memakan korban lebih banyak dari dokumen kontroversial "Trump-Rusia".