Jepang Ajak Rusia Bantu Penyelesaian Krisis Semenanjung Korea
https://parstoday.ir/id/news/world-i40880-jepang_ajak_rusia_bantu_penyelesaian_krisis_semenanjung_korea
Jurubicara Kementerian Luar Negeri Jepang meminta Rusia untuk membantu penyelesaian krisis di Semenanjung Korea. Permintaan itu disampaikan saat militer Amerika mulai melakukan babak baru provokasinya di kawasan untuk menciptakan kondisi yang lebih tegang.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Jul 11, 2017 14:42 Asia/Jakarta

Jurubicara Kementerian Luar Negeri Jepang meminta Rusia untuk membantu penyelesaian krisis di Semenanjung Korea. Permintaan itu disampaikan saat militer Amerika mulai melakukan babak baru provokasinya di kawasan untuk menciptakan kondisi yang lebih tegang.

Norio Maruyama, Jubir Kemenlu Jepang dalam kunjungannya ke Denmark menegaskan bahwa Rusia punya peran penting dalam transformasi Semenanjung Korea dan Jepang akan mendorong Moskow berperan aktif menciptakan Semenanjung Korea yang bersih dari nuklir.

Dalam proses transformasi kawasan ini, Jepang dan Korea Selatan berada di sisi Amerika, sementara Rusia dan Cina bersama Korea Utara. Sekalipun peran Rusia tidak begitu kental seperti Cina dalam membantu penyelesaian krisis nuklir Korea Utara, tapi baru-baru ini pemerintah Rusia mengkonfrimasikan tengah menyiapkan peta jalan guna membantu penyelesaian krisis ini. Peta jalan Rusia ini bertumpu pada dua prinsip penting, pertama krisis nuklir Korea Utara merupakan masalah bilateral antara negara ini dengan Amerika dan kedua pihak harus duduk berdialog untuk mencarikan solusinya. Kedua, sarana bagi terwujudnya pendekatan ini adalah penghentian latihan militer Amerika di kawasan dan sebaliknya penghentian uji coba nuklir Korea Utara.

Namun kenyataannya, Amerika tidak menginginkan penyelesaian krisis Semenanjung Korea dan menjadikannya kesempatan bagi kehadiran militernya di kawasan. Sementara Jepang menggunakannya untuk menekan Cina dari sisi militer dan politik. Oleh karenanya, usulan peta jalan Rusia tidak ditanggapi Amerika dan sekutunya.

Sekalipun demikian, kekhawatiran Jepang dan Korea Selatan serius terkait dampak munculnya perang di Semenanjung Korea. Karena ketika Korea Utara merasa ada ancaman, maka langung melakukan serangan preemptiv terhadap pasukan Amerika di Jepang dan Korea Selatan, begitu juga instalasi-instalasi di negara ini, dimana kerusakannya tidak dapat dibayangkan.

Dengan gambaran seperti ini, para pejabat Korea Selatan dan Jepang yang tidak punya pengaruh terhadap kebijakan Amerika di kawasan dan terpaksa mengekor AS, berharap dapat mendorong Rusia dan Cina memainkan peran proaktif membantu penyelesaian krisis Semenanjung Korea.

Zhao Huasheng, Direktur Pusat Penelitian Rusia-Asia Tengah di Universitas Fudan meyakini:

"Hanya Moskow dan Beijing yang mampu mencegah terjadinya perang di kawasan. Pemerintah Cina sangat mengkhawatirkan kondisi di Semenanjung Korea dan mengetahui dengan baik dampak buruk dari perang yang akan terjadi. Karena akan melibas semua negara. Tentu saja saling tidak percaya dari kedua pihak membuat kondisi semakin memburuk dan kemungkinan terjadinya perang sangat serius, tapi masih dapat dicegah."

Sekalipun bila dibandingkan dengan Cina, tingkat kerentanan Rusia lebih sedikit dalam krisis Semenanjung Korea, tapi Moskow berusaha agar krisis ini lebih dekat ke Cina dari satu sisi dan memanfaatkan kekhawatiran Jepang dan Korea Selatan dari sisi lain guna mengubah krisis Semenanjung Korea menjadi kesempatan. Rusia yang tengah menghadapi sanksi Amerika dan Eropa akibat masalah Ukraina dan Crimea berusaha lebih dekat dengan Cina untuk mendapatkan bantuan eknomi dan teknologi yang lebih banyak demi mengurangi tekanan sanksi.

Rusia dan Jepang punya masalah terkait Kepulauan Kuril, namun sangat mungkin Moskow berusaha mendapat konsesi dengan mengurangi kekhawatiran Jepang dan Korea Selatan terkait masalah Korea Utara. Dengan alasan ini, Tokyo meminta bantuan Rusia untuk menyelesaikan krisis nuklir di Semenanjung Korea, tapi hal itu dilakukannya dengan berhati-hati.

James Sherr, Penasihat Politik di Institut Hubungan Internasional Chatham House mengatakan:

"Kini kondisi buruk di Semenanjung Korea mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak berakhirnya perang antara Pyong Yang dan Seoul pada 1953. Tapi sebelum memprediksi babak baru perang di kawasan, harus dipahami rantai peristiwa yang memunculkan ancaman nyata atau menguranginya termasuk langkah-langkah provokatif, pernyataan ancaman atau upaya positif kedua pihak."

Bagaimanapun juga kebijakan Amerika di Semenanjung Korea di segala tingkat berusaha menciptana ketegangan. Karena Washington meyakini, bayangan perang itu sendiri pengaruhnya seperti perang. Tapi menurut pemerintah Jepang, Rusia sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB bila bekerjasama serius dengan Cina dapat mempengaruhi kebijakan Amerika terkait krisis Semenanjung Korea. Tentu saja dengan syarat bahwa negara-negara itu meletakkan kepentingan dan keamanan kawasan sebagai parameter pengambilan keputusannya.