Upaya Turki Mencari Sekutu Baru
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, membahas situasi regional Asia Barat dan kerjasama bilateral selama pertemuan mereka di Ankara, Kamis (28/9/2017). Kunjungan Putin ke Turki ditujukan untuk memperluas kerjasama bilateral dan mendiskusikan isu-isu penting regional dan internasional.
Menurut juru bicara Istana Kremlin Dmitry Peskov, Rusia dan Turki akan melakukan kerjasama erat dan perjalanan Putin ke Ankara juga sejalan dengan kepentingan Moskow.
Ketegangan serius dalam hubungan Moskow-Ankara muncul pasca penembakan pesawat tempur Rusia oleh Turki pada November 2015. Pemerintah Rusia kemudian menerapkan serangkaian sanksi terhadap Turki. Pada akhirnya, Erdogan melakukan kunjungan ke Moskow dan meminta maaf kepada Presiden Putin atas insiden tersebut, dan sekarang dunia menyaksikan sebuah era baru dalam hubungan kedua negara.
Hubungan Rusia-Turki memiliki dimensi yang sangat luas, seperti kerjasama bisnis dan ekonomi di berbagai sektor, aktivitas perusahaan-perusahaan dan bisnisman Turki di Rusia, kerjasama energi khususnya proyek pembangunan pipa gas Turkish Stream, partisipasi Rusia dalam sejumlah proyek besar di Turki, termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama Turki, ekspor produk-produk Turki ke Rusia, dan juga kontribusi besar Rusia dalam industri pariwisata Turki.
Menurut Shuaib Bahman, peneliti senior di Pusat Riset Iran-Eurasia dan komentator politik, Rusia cenderung memperluas hubungannya dengan Turki di sektor ekonomi.
Meski demikian, Turki sangat antusias untuk memanfaatkan kemajuan teknologi militer Rusia, seperti penandatanganan kontrak pembelian sistem pertahanan rudal S-400 pada awal September 2017.
Dalam menanggapi kritik Barat atas kesepakatan senjata ini, Dmitry Peskov menekankan bahwa kerjasama militer antara kedua negara sesuai dengan aturan internasional dan tidak bertentangan dengan negara ketiga manapun. Oleh karena itu, tidak ada pihak yang memiliki hak untuk mengkritik Rusia dan Turki atas kerjasama ini.
Pada dasarnya, dengan menyetujui penjualan sistem rudal S-400 ke Turki, Moskow ingin memberi penghargaan kepada Ankara yang telah mengubah kebijakan regionalnya.
Partisipasi aktif Turki dalam negosiasi untuk menyelesaikan krisis Suriah, terutama pembentukan zona de-eskalasi konflik di negara tersebut, keinginan pemerintah Ankara untuk memperluas hubungannya dengan Moskow, dan juga kedekatan posisi kedua negara terkait isu-isu regional lainnya seperti krisis Qatar, tidak hanya akan mengintensifkan dialog antara Rusia dan Turki, tapi juga mendorong peningkatan level kerjasama militer dan keamanan mereka.
Namun, tidak dapat diabaikan bahwa ketertarikan Ankara untuk memperluas hubungan dengan Moskow sampai batas tertentu sebagai respon terhadap perseteruan Turki yang terus memanas dengan sekutu tradisionalnya di Barat, terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Turki tidak lagi berharap untuk menjadi anggota Uni Eropa atau menerima bantuan-bantuan Barat, baik dari Eropa maupun Amerika. Saat ini, Turki berusaha untuk mengisi kekosongan di berbagai sektor ekonomi, bisnis dan militer mereka melalui pengembangan hubungan dengan Rusia.
Dengan demikian, dapat diprediksi bahwa perluasan dan penguatan hubungan antara Moskow dan Ankara akan terus berlanjut. (RM)