Lobi Eropa atas AS agar Pertahankan Kesepakatan Nuklir Iran
Federica Mogherini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa di Washington menekankan bahwa kesepakatan nuklir Iran atau Rencana Aksi Bersama Komprehensif, JCPOA tidak bisa dirundingkan kembali dan mengatakan, sepertinya Amerika Serikat ingin bertahan dalam kesepakatan ini.
Federica Mogherini yang baru-baru ini mengujungi Washington untuk melakukan negosiasi dengan Kongres negara itu terkait JCPOA menuturkan, diperoleh sejumlah indikasi yang menunjukkan bahwa Kongres ingin Amerika tetap bertahan dalam kesepakatan nuklir Iran.
Mogherini juga menutup kemungkinan dilakukannya perundingan baru terkait JCPOA dan mengatakan, jika ada pihak yang ingin membuka meski satu pasal JCPOA untuk dirundingkan kembali, itu berarti seluruh kesepakatan nuklir ini akan tercerai berai.
Menyusul sikap terbaru Donald Trump, Presiden Amerika bulan lalu terkait penolakannya mengakui kepatuhan Iran atas isi JCPOA, Kongres Amerika diberi waktu 60 hari untuk memutuskan apakah Washington harus melanjutkan atau mencabut sanksi nuklir Iran. Dalam JCPOA, dengan jelas Amerika berkomitmen untuk menangguhkan atau bahkan mencabut sanksi nuklir Iran, selama Tehran mematuhi dan menjalankan isi kesepakatan nuklir.
Badan Energi Atom Internasional, IAEA sebagai satu-satunya lembaga internasional paling berwenang untuk mengevaluasi substansi program nuklir Iran, delapan kali melaporkan bahwa Tehran tidak pernah melanggar isi JCPOA. Meski demikian, Trump, demi meningkatkan tekanan atas Iran, tanpa menunjukkan bukti apapun, mengumumkan bahwa Iran tidak mematuhi isi JCPOA. Oleh karena itu, pengambilan keputusan terkait nasib kesepakatan nuklir Iran, dilimpahkan dari Gedung Putih ke Kongres.
Selain Amerika, kesepakatan nuklir Iran juga melibatkan lima negara lain, tiga negara Eropa yaitu Perancis, Inggris dan Jerman, serta dua negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yaitu Rusia dan Cina. Dengan demikian, sabotase Amerika untuk menggagalkan JCPOA memunculkan ketidakpuasan pihak-pihak perundingan yang lain dan masyarakat internasional.
Sekarang, Federica Mogherini, sebagai pemangku jabatan tertinggi Uni Eropa dalam kebijakan luar negeri, sudah memulai perundingan langsung dengan para anggota Kongres Amerika di Washington dengan maksud untuk mencegah dirusaknya kesepakatan nuklir Iran oleh Washington.
Di sisi lain, sejumlah bukti menunjukkan, seiring dengan hilangnya secara perlahan kontroversi terkait pidato tak bertanggung jawab Trump soal JCPOA, sedikit demi sedikit, Gedung Putih dan Kongres mulai menerima tuntutan masyarakat dunia.
Eropa secara tegas mengumumkan komitmennya pada JCPOA dan tidak akan pernah menggelar perundingan baru untuk merevisi atau merombak kesekapatan nuklir Iran ini. Mogherini pernah mengatakan, isi kesepakatan nuklir Iran adalah bagian dari resolusi 2231 DK PBB dan seluruh negara dunia khususnya Amerika sebagai anggota tetap DK PBB, harus mematuhinya.
Sikap semacam ini secara praktis telah menutup kemungkinan Kongres Amerika untuk mengutak-atik JCPOA, sekalipun ada sejumlah kalangan di Washington yang berusaha merusak kesepakatan nuklir Iran itu. Pada akhirnya diharapkan salah satu agenda kunjungan Mogherini ke Washington adalah menggagalkan upaya tersebut. (HS)