Cendekiawan Sunni Pakistan: Kebijakan AS Bawa Negara Ini ke Isolasi
-
Pertemuan besar bertajuk "Bi'tsat ad-Dam" (Pengorbanan Darah) digelar di Karachi, Pakistan
Pars Today - Sebuah pertemuan besar bertajuk "Bi'tsat ad-Dam" (Pengorbanan Darah) digelar di Karachi, Pakistan, untuk memperingati sang Pemimpin Syahid Iran, Ayatullah Khamenei, serta syuhada perang. Acara ini dihadiri oleh para ulama, cendekiawan, santri, intelektual, dan masyarakat dari berbagai lapisan.
Dilansir Pars Today dari IRIB, 5 Mei 2026, Senator Raja Nasir Abbas Jafri, Ketua Majelis Wahdat-e-Muslimeen Pakistan, merujuk pada perkembangan terkini di kawasan, menuntut penghentian permanen serangan rezim Zionis terhadap Gaza, Lebanon, dan Iran. Ia juga menekankan perlunya mengakhiri kehadiran militer AS di kawasan serta membangun hubungan yang adil dan setara antarnegara.
Hujjatul-Islam Seyyed Javad Naqvi, Ketua Gerakan Kebangkitan Umat Mustafa Pakistan, menyoroti peran penting Pemimpin Syahid Iran dalam kelanjutan dan penyempurnaan sistem Islam. Ia menyatakan, "Ayatullah Khamenei menyelesaikan jalan yang telah dimulai oleh para ulama dunia Islam lainnya dengan kebijaksanaan, ketekunan, dan ketajaman visi. Ia tidak meninggalkan satu pun misi besar Revolusi Islam setengah jalan."
Hujjatul-Islam wal-Muslimin Seyyed Rahat Hussain Hussaini, Ketua Asosiasi Imamiyah Gilgit Pakistan, merujuk pada kondisi sulit bangsa-bangsa yang tertindas, terutama di Palestina. Ia menyebut AS sebagai penyebab utama utama segala bentuk kezaliman, agresi, dan krisis di kawasan. Ia menegaskan bahwa kebijakan hegemonik AS tidak hanya memperluas ketidakamanan dan ketidakstabilan, tetapi juga telah menempatkan negara itu dalam posisi lemah dan pasif di hadapan Republik Islam Iran.
Sementara itu, Dr. Mairaj-ul-Huda Siddiqui, seorang cendekiawan Sunni Pakistan, dalam pidatonya menekankan perkembangan geopolitik dunia Islam. Ia menyatakan, "Kebijakan intervensi AS dalam beberapa tahun terakhir secara bertahap membawa Washington keisolasi di dunia. Sebaliknya, Iran kini muncul sebagai kekuatan penting, berpengaruh, dan penentu dalam persamaan global, serta menikmati posisi khusus di panggung internasional."
Di tengah suara-suara yang terus menyudutkan Iran, para pemimpin pemikiran dan ulama Pakistan justru memberikan pembelaan paling vokal, bahkan menggelar konferensi besar untuk mengenang para pemimpin dan korban perang Iran. Dari "Bi'tsat ad-Dam" di Karachi, pesan yang jelas tertuju ke Washington dan Tel Aviv: Hentikan kekejaman atau hadapi semakin terisolasinya kalian di dunia Muslim.(Sail)