Penolakan Afghanistan Menjadi Panggung Kompetisi Kekuatan Global
Dewan Keamanan Nasional Afghanistan menepis sejumlah laporan terkait penempatan pasukan militer Cina dan pangkalannya di timur laut Afghanistan.
Kantor Dewan Keamanan Nasional Afghanistan dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa pembangunan pangkalan militer Cina di provinsi Badakhshan tidak benar dan tidak dapat diterima jika tanpa keputusan Presiden Afghanistan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, Jenderal Daulat Wazir, sebelumnya mengumumkan bantuan senjata dan pelatihan dari Cina dalam membentuk unit tentara khusus di provinsi Badakhshan.
Di sisi lain, Gul Mohammad Bidar, Wakil Gubernur Badakhshan, menyinggung sejumlah laporan tentang kehadiran pasukan militer Cina di Afghanistan, dan mengatakan bahwa kehadiran militer Cina tidak termasuk dalam perjanjian keamanan bilateral Beijing dan Kabul.
Disebutkan bahwa peningkatan aktivitas etnis Muslim Uighur Cina di daerah perbatasan Afghanistan dan Cina telah menjadi perhatian pemerintah Beijing.
Penolakan kehadiran pasukan militer Cina di Afghanistan dan pembangunan pangkalan militer oleh Beijing di wilayah negara mengemuka menyusul terbitnya sejumlah laporan yang menekankan perlunya klarifikasi hubungan militer antara Cina dan Afghanistan kepada rakyat negara ini dan negara-negara yang memainkan peran dalam perkembangan di Afghanistan.
Di mata pemerintah Afghanistan, pihak yang menyebarkan berita tidak realistis tentang kehadiran militer Cina di Afghanistan mencoba untuk memancing kepekaan domestik dan reaksi kekuatan adidaya termasuk Amerika Serikat.
Amerika Serikat, yang telah menduduki Afghanistan sejak 2001 dengan dalih memerangi terorisme, sangat menentang perluasan dan pengokohan hubungan politik dan militer Kabul dengan para pesaing Washington, termasuk Cina dan Rusia, serta mencoba menghalangi hubungan dengan pemerintah Afghanistan dengan cara tekanan dan ancaman.
Terlepas dari tekanan AS, Afghanistan menurut pertimbangan nasional, telah menekankan perluasan kerjasama dengan negara-negara regional sebagai prioritas kebijakan luar negeri Kabul, dan berdasarkan pengamatan dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Afghanistan dengan Cina meningkat cukup signifikan.
Selain itu Afghanistan telah berulang kali menentar jika kedaulatan Afghanistan enjadi ajang kompetisi bagi kekuatan adidaya dunia. Pemerintah Afghanistan telah memperingatkan bahwa persaingan kekuatan adidaya di Afghanistan di sektor militer, akan berdampak dampak negatif terhadap keamanan negara ini.
Wahid Mojdeh, seorang pakar politik Afghanistan, mengatakan bahwa kebangkitan Daesh di Afghanistan, dan terutama di wilayah utara, disebabkan oleh persaingan kekuatan besar dan negara ini telah menjadi panggung kompetisi mereka.
Menurut pendapat para pejabat Afghanistan, perluasan hubungan militer dengan negara-negara lain untuk membangun pangkalan militer mereka di Afghanistan bertentangan dengan kepentingan negara dan keamanan nasional, yang jelas akan menyediakan platform bagi kekuatan besar untuk bersaing.(MZ)