Mundurnya AS dari Perang Dagang Lawan Cina
-
Amerika dan Cina
Menteri Keuangan Amerika Serikat mengabarkan kemungkinan dilaksanakannya perundingan dagang negara itu dengan pejabat tinggi Cina.
Menteri Keuangan Amerika, Steven Mnuchin di sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional, IMF dan Bank Dunia di Washington kepada wartawan mengatakan, kami sedang mengkaji kemungkinan lawatan ke Cina.
Padahal sebagaimana digembar-gemborkan sebelumnya, Amerika dan Cina sedang berada di ambang perang dagang. Pemerintah Gedung Putih dengan dalih menghadapi dampak negatif defisit neraca perdagangan dengan Cina, menerapkan tarif impor baru bagi ratusan produk dan jasa dari Cina.
Jika tarif impor baru ini mulai diterapkan, maka sekitar 150 milyar dolar volume ekspor Cina ke Amerika akan terkena dampaknya. Beijing membalas langkah Amerika tersebut dan mengumumkan, produk dan jasa Amerika yang masuk ke Cina juga akan dikenakan tarif impor yang sama.
Dengan kata lain, kemungkinan perang dagang antara Amerika dan Cina itu akan memakan biaya sekitar 300 milyar dolar, angka terbesar sepanjang sejarah perang dagang yang pernah terjadi di dunia ini. Akan tetapi karena langkah balasan tegas Cina, pemerintah Amerika sampai batas tertentu meninjau ulang sikap awalnya.
Beijing memperingatkan bahwa pihaknya akan melanjutkan perang dagang dengan Amerika hingga akhir dan siap mengeluarkan biaya berapapun besarnya. Langkah Cina menerapkan tarif barang impor baru Amerika, mengindikasikan tekad Beijing untuk mempengaruhi kebijakan internal negara itu.
Salah satu contohnya, jika impor kedelai dan daging babi Amerika ke Cina dikenakan tarif baru sebesar 25 persen, maka ribuan petani dan peternak babi Amerika, akan kehilangan pekerjaan. Di saat yang sama, salah satu basis suara Presiden Amerika, Donald Trump dalam pemilu presiden tahun 2016 lalu adalah daerah-daerah pedesaan dan wilayah pertanian.
Sementara kabar lain mengatakan, pecahnya perang dagang Amerika dan Cina mengancam ratusan ribu lapangan pekerjaan di berbagai industri barang dan jasa di Amerika, dan seiring dengan melambungnya harga-harga barang dan jasa impor, kehidupan warga Amerika khususnya kalangan menengah ke bawah, akan semakin sulit.
Masalah ini bahkan telah membangkitkan kecemasan rekan-rekan separtai Donald Trump sendiri. Paul Ryan, Ketua DPR Amerika dari Partai Republik mengatakan, saya bukan pendukung tarif luas dan menyeluruh, karena menurut saya jika sampai diterapkan, maka anda akan menyaksikan banyak dampak yang tidak anda inginkan muncul dan saat itu anda akan mengalami kerugian yang lebih besar.
Dari sini, sejak beberapa pekan lalu, Donald Trump mendesak digelarnya perundingan dagang dengan Cina untuk membahas berbagai permasalahan di bidang ini. Kubu nasionalisme ekonomi Amerika yang diwakili Trump mengira dengan menampilkan kekuatan dan tekad serius untuk terjun ke dalam perang dagang, dapat memaksa pemerintah Cina tunduk.
Perubahan perbandingan mata uang yuan dan dolar, semakin terbukanya pasar konsumen Cina di hadapan ekspor produk dan jasa Amerika, dan kesediaan Cina menurunkan secara bertahap surplus perdagangannya dengan Amerika, termasuk di antara tuntutan Washington yang akan disampaikan dalam perundingan dagang dengan Beijing.
Akan tetapi apakah pemerintah Cina mau mengabulkan tuntutan-tuntutan pemerintah Gedung Putih atau tidak, sampai sekarang masih belum jelas dan tetap menjadi keraguan banyak pihak. (HS)