Pembelaan Cina atas Penempatan Sistem Anti Rudal di Laut Cina Selatan
-
Jubir Kemenlu Cina, Hua Chunying
Juru bicara Departemen Luar Negeri Cina, Hua Chunying menilai tertolak protes Amerika terkait penempatan sistem anti rudal Beijing di Laut Cina Selatan.
Hua Chunying Jumat (4/5) seraya merilis statemen menyatakan, penempatan sistem anti rudal Cina merupakan upaya membela hak kedaualatannya di Laut Cina Selatan. "Upaya media Amerika untuk mencitrakan Beijing berupaya menjadikan Laut Cina Selatan sebagai wilayah militer tidak akan menghasilkan apapun," papar Chunying.
Amerika baru-baru ini mengklaim bahwa Cina secara rahasia menempatkan rudal cruise anti kapal dan rudal dari darat ke udara di Pulau Nansha di Laut Cina Selatan. Sementara itu, jubir kemenlu Cina terkait klaim Amerika ini mengatakan, Cina menempatkan sistem anti rudalnya demi menjaga kedaulatan dan integritas wilayahnya dan pulau Nansha serta sekitarnya milik Cina.
Statemen jubir kemenlu Cina dalam membela penempatan sistem anti rudal di Laut Cina Selatan merupakan indikasi dari eskalasi sensitifitas Beijing dan peningkatan pertahanan di wilayah ini oleh Beijing.
Kepemilikian kepulauan di Laut Cina Selatan yang menjadi isu kontroversial di hubungan Cina dengan sejumlah negara kawasan seperti Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam dan Vietnam, berubah menjadi lokasi aksi provokatif Amerika dengan mengobarkan tensi serta mengirim armada perangnya ke wilayah tersebut.
Pemerintah Amerika dalam koridor kebijakan mengendalikan Cina, dengan berbagai metode berusaha melibatkan Beijing dengan berbagai krisis sehingga Washington mampu membuat Cina menurunkan fokusnya di isu ekonomi.
Dengan demikian petinggi Amerika meyakini bahwa dengan mengobarkan krisis di kawasan bagi Cina termasuk kasus Laut Cina Selatan, dengan memprovokasi negara-negara yang memiliki friksi dengan Beijing soal kepemilikan sejumlah pulau di kawasan ini, mendukung kubu pro kemerdekaan di Taiwan dan menempatkan pasukannya di perbatasan Cina dalam koridor kerja sama keamanan dengan Jepang serta Korsel, negara ini mampu merusak laju cepat ekonomi Cina.
Sementara itu, pemerintah Cina mengingat kebijakan Gedung Putih untuk mengobarkan krisis di kawasan, berupaya menjinakkan pendekatan Amerika ini.
Chen Xiangmiao, ahli riset lembaga nasional laut Cina Selatan menyatakan, Amerika menempatkan militernya secara besar-besaran di kawasan dan mengacaukan perairan. Sementara Beijing meyakini harus melawan kondisi ini dan menempatkan peralatan pertahanan guna menjaga perairan di kawasan.
Cina memilih pendekatan damai dan dialog dalam melawan kebijakan Amerika yang ingin memprovokasi negara-negara yang mengklaim kepemilikan wilayah di Laut Cina Selatan. Cina juga memanfaatkan kapasitas organisasi regional termasuk ASEAN untuk meredam friksi dan upaya Beijing memperluas hubungan dengan Filipina dan Malaysia selama satu tahun lalu dapat dicermati dalam koridor upaya damai Beijing.
Di sisi lain, pemerintah Cina berusaha membentuk sistem pertahanan dengan menempatkan sistem anti rudalnya di Laut Cina Selatan dalam koridor menjaga kedaulatan wilayahnya. Upaya Cina tersebut dinilai Amerika sebagai upaya Beijing menjadikan Laut Cina Selatan sebagai zona militer.
Klaim Amerika terkait program Cina menjadikan Laut Cina Selatan sebagai zona militer dirilis ketika Gedung Putih dengan mengirim armada lautnya ke Semenanjung Korea dengan dalih program nuklir dan rudal Korea Utara, telah mengacaukan kawasan ini dan efek mental dari langkah Amerika tersebut juga berpengaruh pada negara kawasan termasuk Cina.
Selain itu, penempatan sistem anti rudal THAAD Amerika di Korea Selatan juga contoh lain dari aksi provokatif Washington di kawasan yang menuai protes negara kawasan termasuk Cina dan Rusia. (MF)