Penangguhan Bersyarat Manuver Perang Korea Selatan
https://parstoday.ir/id/news/world-i58732-penangguhan_bersyarat_manuver_perang_korea_selatan
Presiden Korea Selatan Moon Jae in mengatakan, penangguhan bersyarat manuver perang gabungan negara ini dengan Amerika tergantung pada pelucutan senjata nuklir Pyongyang.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 16, 2018 11:23 Asia/Jakarta
  • Presiden Korsel Moon Jae-in
    Presiden Korsel Moon Jae-in

Presiden Korea Selatan Moon Jae in mengatakan, penangguhan bersyarat manuver perang gabungan negara ini dengan Amerika tergantung pada pelucutan senjata nuklir Pyongyang.

Menurut Moon Jae in, selama Korea Utara komitmen dengan janjinya terkait pelucutan senjata nuklir, maka penangguhan manuver gabungan Korsel dan Amerika di Semananjung Korea dapat dipertimbangkan dan membantu rasa saling percaya.

 

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo di kunjungan terbarunya ke Cina menyatakan, Korea Utara harus menerima pelucutan senjata nuklirnya.

 

Statemen seperti ini dan klaim petinggi Korea Selatan dan Amerika dirilis di saat petinggi Pyongyang hingga kini belum memberikan komentar terkait mekanisme pelucutan senjata nuklir dan di butir kedua kesepakatan 12 Juni antara pemimpin Korut dan presiden AS di Singapura juga bukan saja tidak mengisyaratkan pembahasan seperit ini, bahkan menekankan langkah bersama.

 

Oleh karena itu, elut politik bukan saja menilai penekanan petinggi Korsel dan Amerika terkait pelucutan senjata nuklir Korut dan menjadikannya syarat untuk mengakhiri pengobaran tensi dengan negara ini sebuah kontradiksi untuk menerapkan perdamaian di Semenanjung Korea, bahkan mereka meyakini bahwa kedua negara ini berencana menerapkan represi politik dan syaraf kepada Pyongyang dan memaksanya menerima tuntutan sepihak Washington.

Manuver Gabungan AS-Korsel

 

Padahal menurut pandangan Korea Utara, isu kepercayaan yang ditekankan oleh Korea Selatan dan Amerika adalah masalah dua arah dan untuk merealisasikannya pihak-pihak yang terlibat konflik di krisis Semananjung Korea harus mengagendakan strategi langkah demi langkah.

 

Sene;imnya Korea Utara menghancurkan salah satu instalasi nuklirnya dan menekankan proses ini, namun dapat dibayangkan selama Amerika masih tetap mempertahankan peralatan logistik dan militernya di Jepang serta Korsel dan melanjutkan manuver gabungannya dengan negara-negara tersebut, maka Korut akan tetap merasa tidak aman.

 

Eric J Babbock, pengamat Jerman mengatakan, "Kita harus memperhatikan masalah ini bahwa agenda Amerika-Korut bukan saja satu bidang di proses pelucutan senjata nuklir. Kedepannya harus mencakup proses dua arah dan multilateral."

 

Meski Korut sepakat mengakhiri konflik dengan Korsel dan Amerika serta menggelar pertemuan bilateral di tingkat pemimpin kedua negara, namun ini bukan berarti pelucutan senjata sepihak Korea Utara, karena negar aini pada dasarnya menilai pengokohan kemampuan pertahanan dan defensifnya dimaksudkan untuk menghadapi manuver berulang Amerika dengan Jepang dan Korea Selatan di perairan sekitar Korut dan penempatan senjata canggihnya di negara-negara tersebut.

 

Oleh karena itu, klaim petinggi Korsel dan Amerika terkait pelucutan senjata nuklir Korea Utara hanya akan menciptakan gangguan di proses diakhirinya tensi antara kedua pihak.

 

Jay Ryeong pengamat politik mengatakan, "Selama Amerika Serikat tidak mengubah pendekatannya terhadap Korea Utara, negara ini masih akan tetap menjadi sebuah kekuatan nuklir."

 

Bagaimana pun juga pengalaman kesepakatan yang lalu antara Amerika dan Korut menunjukkan bahwa pada dasarnya Washington tidak berencana menagkhiri krisis nuklri Korut dan senantiasa berusaha menggagalkan kesepakatan tersebut melalui kerakusan dan interpretasi pribadinya atas kesepakata nuklir dengan Pyongyang. Mengingat kepribadian Presiden AS Donald Trump yang tidak dapat dipercaya, kasus ini sangat mengkhawatirkan Pyongyang. (MF)