Penolakan Korut terhadap Premanisme AS
-
Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un telah bertemu di Singapura pada 12 Juni lalu.
Kritik terhadap pendekatan Presiden AS Donald Trump atas Korea Utara mulai meningkat di tengah babak baru perseteruan antara Washington dan Pyongyang.
Senator Demokrat, Chris Coons mengatakan, "KTT Presiden Trump dengan pemimpin Korut Kim Jong Un di Singapura bulan lalu, tidak lebih dari sebuah pertunjukan televisi di mana kedua pihak saling berjabat tangan. Presiden – tanpa berkonsultasi dengan sekutu di kawasan – juga telah membatalkan latihan militer bersama dengan Korea Selatan, dan kita tidak mendapat apa-apa selain janji-janji kosong denuklirisasi dari Kim Jong Un."
Kritik ini dilontarkan setelah Amerika dan Korut sejak Ahad kemarin kembali memulai perang verbal, yang sempat meredam dalam beberapa pekan terakhir.
Seorang pejabat pemerintah Korut, menganggap permintaan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam perjalanannya baru-baru ini ke Pyongyang mirip perilaku bandit.
Pompeo setibanya di Tokyo setelah kunjungan tersebut, menanggapi pernyataan pejabat Korut dengan mengatakan bahwa permintaan AS sejalan dengan seruan masyarakat internasional dan menggambarkan perilaku dunia sebagai gangster.
Strategi Washington untuk memperoleh konsesi dari Pyongyang dengan tanpa memberikan konsesi apapun kepada negara itu, tampaknya telah membentur dinding.
Para pejabat Pyongyang sudah sering menekankan bahwa proses denuklirisasi di Semenanjung Korea harus dilakukan bersamaan dengan penghapusan sanksi Korut. Di sisi lain, AS menegaskan sebelum perlucutan senjata secara penuh dan dapat dikonfirmasi, maka sanksi-sanksi ekonomi terhadap Korut akan tetap berlaku.
Pyongyang menganggap pendekatan tersebut sebagai perilaku gangster. Ini adalah kata kasar pertama yang dipakai oleh pejabat Korut setelah pertemuan pemimpin kedua negara di Singapura.
Padahal, Trump cukup optimis tentang kesuksesan kebijakannya untuk menangani Korut dan memaksa negara itu menyerahkan senjata nuklirnya. Trump dalam banyak tweetnya, memperkenalkan dirinya sebagai pahlawan denuklirisasi Korut dan penyelamat umat manusia dari perang atom di Asia Timur.
Denuklirisasi Korut akan menjadi sebuah prestasi besar bagi Trump dan Partai Republik dalam menghadapi pemilu sela Kongres pada November 2018. Namun, jika rencana pelucutan senjata nuklir dan perdamaian antara Washington dan Pyongyang gagal terlaksana, maka ini akan merusak reputasi pribadi presiden dan juga berpotensi membuat kubu Republik kalah dalam pemilu November. Jika ini terjadi, Kongres akan dikuasai oleh partai pesaingnya.
Oleh karena itu, Trump – meskipun ada perbedaan yang tajam antara kedua negara – tetap optimis dengan pelucutan senjata nuklir Korut; sebuah fenomena yang dianggap oleh Senator Coons sebagai pertunjukan televisi. (RM)