Trump Mulai Frustasi Hadapi Korea Utara
https://parstoday.ir/id/news/world-i60145-trump_mulai_frustasi_hadapi_korea_utara
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai frustasi terhadap proses penyelesaian krisis di Semenanjung Korea, khususnya rencana pelucutan senjata nuklir dan rudal Korea Utara. Padahal, ia sudah bertemu Pemimpin Korut Kim Jong Un di Singapura pada Juni 2018 lalu.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 23, 2018 04:41 Asia/Jakarta
  • Presiden AS, Donald Trump dan Pemimpin Korut, Kim Jong Un.
    Presiden AS, Donald Trump dan Pemimpin Korut, Kim Jong Un.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai frustasi terhadap proses penyelesaian krisis di Semenanjung Korea, khususnya rencana pelucutan senjata nuklir dan rudal Korea Utara. Padahal, ia sudah bertemu Pemimpin Korut Kim Jong Un di Singapura pada Juni 2018 lalu.

Kendati ada beberapa kemajuan, termasuk kunjungan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo ke Pyongyang untuk menindaklanjuti kesepakatan bilateral, namun tampaknya ada hambatan serius yang dihadapi kedua negara dalam banyak hal.

Surat kabar The Washington Post menulis bahwa Trump frustasi dengan proses dan perkembangan pelucutan senjata Korut. Trump telah meminta agar ia diberi laporan setiap hari tentang perkembangan perundingan dengan Pyongyang dan meminta langkah-langkah lebih lanjut untuk membongkar program nuklir negara itu.

Trump mengaku kecewa atas pembatalan pertemuan dengan delegasi AS oleh para pejabat Korut dan kurangnya kepedulian Pyongyang untuk mempertahankan komunikasi. Dia menyatakan kemarahan tentang perundingan saat ini selama pertemuan tertutup di Gedung Putih.

KTT Singapura.

Presiden AS sejak awal menginginkan pelucutan senjata nuklir Korut dengan cepat, meskipun sekarang ia harus mengakui bahwa Washington tidak menetapkan batas waktu untuk perundingan dalam masalah itu.

Dalam wawancara dengan CBS beberapa hari lalu, Trump mengatakan ia benar-benar tidak terburu-buru tentang perundingan itu. “Maksud saya adalah apa yang seharusnya terjadi, tentu akan terjadi,” ujarnya.

Transformasi di Semenanjung Korea menunjukkan bahwa – terlepas dari klaim palsu Trump – Pyongyang belum mengambil langkah nyata terkait pelucutan senjata nuklirnya sebagaimana diinginkan Washington. Bahkan ada laporan bahwa Korut telah meningkatkan produksi bahan bakar untuk rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir, meskipun mengaku berkomitmen untuk pelucutan senjata.

Ini mengindikasikan bahwa harapan Korut dari perundingan dengan AS belum tercapai dan tidak tertarik untuk melanjutkan proses saat ini. Kim Jong Un menyadari bahwa AS dengan kebijakan agresif dan intimidatif, hanya mencari konsesi dari Korut tanpa harus memberikan poin apapun kepada negara tersebut.

Pada saat yang sama, Washington percaya bahwa sanksi dan perundingan harus berjalan bersamaan untuk menggiring Korut ke arah pelucutan senjata nuklir. AS bahkan menudung Korut telah melanggar sanksi PBB dengan bantuan Cina dan Rusia.

Mike Pompeo memperingatkan bahwa pelanggaran sanksi kemungkinan akan mengurangi tekad Korut untuk menyingkirkan senjata nuklir.

Pada dasarnya, Pyongyang tidak akan mau mengurangi atau menghancurkan kemampuan rudal dan nuklirnya tanpa memperoleh konsesi apapun dari Washington. Yang penting bagi Korut saat ini adalah penghapusan sanksi ketat yang telah memberikan banyak tekanan pada rakyatnya.

Trump baru-baru ini justru memperpanjang sanksi AS terhadap Korut. Langkah ini dipandang sebagai upaya Washington untuk memperoleh konsesi dengan cara menekan Pyongyang. Dengan demikian, nasib kesepakatan antara AS dan Korut semakin tidak jelas dan ada keraguan dari kedua pihak untuk melanjutkan proses saat ini. (RM)