Macron dan Penentangan Kesepakatan Dagang dengan AS
-
Trump dan Macron
Friksi dagang antara Amerika Serikat dan Eropa di era Presiden Donald Trump dengan kebijakan proteksionismenya secara praktis menyulut perang dagang dan menjadi salah satu friksi terpenting antara AS dan Eropa.
Pemerintah Amerika menerapkan tarif 25 persen dan 10 persen untuk impor baja dan aluminium dari Eropa. Kebijakan ini bukan saja menuai protes luas mitra dagang Amerika termasuk Uni Eropa, bahkan mereka berani melakukan langkah balasan dengan menerapkan tarif baru bagi sejumlah produk impor dari Amerika.
Selain itu, domain isu ini mulai melebar dan merembet ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta pengaduan terhadap Amerika. Uni Eropa sebagai mitra dagang terpenting Amerika, dengan volume perdagangan senila satu triliun dolar setahunnya, sangat tidak puas dengan kebijakan dagang Trump dan petinggi Eropa berulang kali mengkritik kebijakan tersebut.
Uni Eropa berusaha dikecualikan secara permanen dari tarif ekspor baja dan aluminium ke Amerika, namun langkah tersebut hingga kini belum menunjukkan hasil. Kepala Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker pekan lalu saat bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington mengungkapkan kekhawatiran dunia akan eskalasi tensi perdagangan antara Washington dan Brussels.
Di sisi lain, ada kesepakatan antara kedua pihak untuk menyelesaikan friski dangan di antara mereka. Trump mengklaim bahwa kesepakatan ini mencakup berbagai sisi. Juncker dan Trump sepakat menghindari penerapan terif timbal balik lebih besar selama perundingan dan mengambil langkah-langkah untuk merevisi WTO.
Juncker menyatakan tujuan utama Eropa adalah membuat tarif produk industri menjadi nol. Meski demikian kesepakatan Eropa dan AS tidak mendapat respon dari Perancis. Presiden Perancis Emmanuel Macron hari Sabtu (28/7) seraya mengkritik kebijakan perdagangan global Amerika mengatakan, "Kami tidak sepakat dengan perundingan untuk meraih kesepakatan luar perdagangan antara Uni Eropa dan Amerika."
Macron menjelaskan, perundingan ekonomi yang baik hanya dapat digelar ketika ada keseimbangan dua pihak dan tanpa ancaman. Statemen Macron ini mengisyaratkan pendekatan represif Trump yang senantiasa berusaha memaksakan keinginannya kepada pihak lain melalui tekanan dan ancaman.
Sejatinya seiring dengan friksi besar di isu perdagangan antara Eropa dan Amerika, klaim Trump terkait bahwa kedua pihak meraih kesepakatan mendasar sepertinya sangat jauh dari realita. Trump cenderung ingin meraih konsesi dari Eropa khususnya eskalasi ekspor negara ini ke benua Eropa. Trump juga sepertinya ingin menerapkan tarif bagi bagi ekspor otomotif dan suku cadang Eropa ke Amerika.
Sementara itu, Ketua Dewan Eropa Donald Tusk seraya memberi peringatan serius terkait meletusnya perang dagang antara AS dan Uni Eropa mengatakan, organisasi ini mengingat kebijakan destruktuf Trump, harus mempersiapkan diri untuk menghadapi skenario terburuk.
Sama seperti penekanan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, tampaknya tujuan Eropa saat ini adalah membeli waktu lebih banyak sehingga mampu meraih kesepakatan penuh perdagangan dengan Amerika. Mengingat perilaku Trump yang suka melanggar janji, maka tidak ada kepercayaan terhadap kesepakatan terbaru presiden AS dengan Juncker.
Mengingat penolakan serius Uni Eropa memberikan konsesi penting perdagangan kepada Amerika, dapat diprediksikan bahwa api perang dagang antara AS dan Eropa akan kembali menyala. (MF)