Bayangan Kelam di Hubungan Ankara-Washington
-
AS-Turki
Sebuah langkah mengejutkan, satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menjatuhkan sanksi kepada satu anggota lainnya serta anggota yang terkena sanksi menyatakan akan melakukan langkah balasan.
Sanksi dan ancaman ini terjadi bukan antara dua anggota kecil NATO, tapi Amerika sebagai anggota terbesar NATO mensanksi menteri dalam negeri dan kehakiman Turki. Alasannya adalah keduanya didakwa terlibat dalam penangkapan dan peradilan terhadap seorang pastur Amerika Serikat.
Turki baru-baru ini mengadili dan memenjarakan Andrew Craig Brunson, Pendeta AS dengan dakwaan terlibat di aksi teror dan bekerja sama dengan kelompok Fethullah Gülen. Keputusan Ankara ini memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump dan ia mengancam jika Turki menolak membebaskan pendeta ini, maka ia akan menjatuhkan sanksi kepada Ankara.
Meski vonis kurungan Brunson dari sel penjara diubah menjadi penjara rumah, namun Trump dalam sebuah instruksi merilis penjatuhan sanksi kepada Menteri Kehakiman Turki Abdulhamit Gul dan Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlüt Çavuşoğlu seraya mengecam keputusan Amerika menjatuhkan sanksi kepada petinggi Ankara karena penangkapan pendeta AS memperingatkan, "Langkah Washington menjatuhkan sanksi kepada petinggi Turki tidak akan dibiarkan tanpa balasan."
Tensi di hubungan Ankara-Washington tidak terbatas di vonis penjara seorang pendeta Amerika. Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan yang baru-baru ini memiliki wewenang lebih besar setelah amandeman konstitusi, mengaku khawatir bahwa dukungan terang-terangan dan terselubung AS kepada Gulen pada akhirnya akan berujung pada perubahan kebijakan di negara ini dan proses kegagalan kudeta tahun 2016 akan menjadi sempurna.
Sebaliknya Amerika khawatir atas kian kuatnya hubungan Turki dengan Rusia dan Iran serta konvergensi tiga negara dinilai sebagai perusak program jangka panjang Washington di kawasan Asia Barat khususnya terkait perang di Suriah. Oleh karena itu, Kongres Amerika melarang penjualan pesawat F-35 kepada Turki.
Keputusan ini diambil ketika Erdogan tanpa mengindahkan peringatan Amerika menandatangani pembelian sistem anti rudal S-400 dengan Rusia. Transformasi beberapa tahun terakhir khususnya setelah berkuasanya Trump kian menambah kekhawatiran sekutu politik dan militer Amerika atas sikap Washington yang tidak dapat dipercaya.
Mulai dari Barat Eropa hingga Asia Timur, sekutu Amerika berusaha mengurangi ketergantungannya kepada Washington dan meragamkan kebijakan luar negeri serta kerja sama perdagangannya. Pendekatan ini menuai respon pedas dan agresif Amerika Serikat.
Meski demikian, transformasi beberapa tahun tarakhir menunjukkan bahwa kebijakan tangan besi Amerika bukan saja efektif terhadap rival dan musuhnya, bahkan mayoritasnya diabaikan oleh sekutu tradisional Washington. Ketidakpedulian Ankara atas kian parahnya hubungan kedua negara menunjukkan proses bahwa jika hal ini berlanjut maka kerugian lebih besar akan merusak kerja sama dua negara berpengaruh NATO di kawasan penuh konflik Asia Barat. (MF)