Penolakan Korut terhadap Usulan AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i60934-penolakan_korut_terhadap_usulan_as
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan, Korea Utara tidak menyetujui usulan untuk mengurangi kemampuan nuklirnya hingga 60-70 persen.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 15, 2018 13:12 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong Un telah bertemu pada 12 Juni lalu di Singapura.
    Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong Un telah bertemu pada 12 Juni lalu di Singapura.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan, Korea Utara tidak menyetujui usulan untuk mengurangi kemampuan nuklirnya hingga 60-70 persen.

"Kami meminta perlucutan senjata Korut sebesar 60-70 persen, tetapi pemimpin mereka tidak setuju dengan itu," ujarnya.

Beberapa pengamat percaya bahwa penolakan itu disebabkan pengalaman buruk Korut di masa lalu, ketika Bill Clinton tidak memenuhi komitmen yang dibuat dengan Kim Jong-il.

Pemerintah Korut menolak permintaan AS dengan mengatakan perundingan dengan Washington seperti kanker dan gangster.

Perundingan AS dengan Korut tidak berjalan mulus dan Gedung Putih sangat prihatin dengan nasib pembicaraan ini. Statemen Pompeo menunjukkan bahwa AS telah mundur dari tuntutan denuklirisasi penuh oleh Korut dan tidak lagi mengejar posisi mereka di masa lalu.

Tingkat kepercayaan Pyongyang terhadap Washington kian rendah dan semakin tidak tertarik untuk melanjutkan perundingan bilateral. Kondisi ini muncul karena ancaman terus-menerus AS terhadap Korut, manuver militer gabungan AS dengan sekutunya di Semenanjung Korea, dan serangan verbal para pejabat Washington terhadap Pyongyang.

Kim Jong-un tampaknya telah belajar dari pengalaman Iran, di mana AS secara sepihak meninggalkan kesepakatan nuklir dan mereka adalah bukan mitra yang dapat dipercaya dalam perundingan. Menurut Senator Demokrat, Ben Cardin dari Maryland, argumen Iran bahwa AS tidak bisa dipercaya sudah terbukti dengan keputusan Trump keluar dari kesepakatan nuklir.

Penolakan AS untuk memenuhi komitmennya di bawah kesepakatan internasional telah menjadi penghalang besar bagi kemajuan perundingan di Semenanjung Korea. Komunitas internasional mengkritik penarikan AS dari kesepakatan nuklir dan pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB, yang terkait dengan perjanjian ini.

Negara-negara dunia sudah sampai pada kesimpulan bahwa meskipun sudah berunding dan menandatangani kesepakatan dengan AS, namun masih tetap menyisakan masalah yaitu; apakah negara itu akan memenuhi kewajibannya atau bakal bersikap seperti memperlakukan kesekapatan nuklir Iran, perjanjian iklim Paris, dan kesepakatan perdagangan.

Para pejabat Korut sekarang mulai waspada setelah menyaksikan sikap inkonsisten AS. Setelah mengambil langkah-langkah positif dan membebaskan beberapa warga Amerika, Pyongyang tidak melihat tindakan timbal balik dari Washington, dan kini sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak boleh kehilangan daya tawar di hadapan AS.

Dalam hal ini, Senator Bob Menendez mengatakan, "Kita tidak perlu terkejut dengan perilaku Korut. Keputusan ini menunjukkan bahwa pendekatan pemerintahan Trump dan tindakannya yang terburu-buru telah menuai kegagalan."

Kebijakan luar negeri Donald Trump tampaknya telah gagal, dan Korut sekarang mencari sebuah kesepakatan yang didasarkan pada pemenuhan komitmen secara timbal balik. (RM)