Geliat Eropa Hapus Ketergantungan dari Amerika
-
Emmanuel Macron
Pasca naiknya Presiden Donald Trump di Amerika Serikat, muncul konflik luas di antara Washington dan Uni Eropa terutama terkait urusan pertahanan dan peran serta urgensi Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO juga keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit, sehingga mendorong negara-negara Uni Eropa berpikir untuk memperkuat pengawasan dan mekanisme independensi Eropa di bidang pertahanan dan keamanan.
Upaya untuk membentuk pasukan mandiri Eropa, menyusun strategi global Uni Eropa dan membentuk lembaga-lembaga militer serta keamanan Eropa, akhir-akhir ini mengalami peningkatan. Jerman dan Perancis sebagai dua negara penting Eropa, memainkan peran kunci dalam proses ini dan mendesak agar kemampuan pertahanan Eropa yang independen dapat segera tercipta.
Langkah terbaru dalam hal ini dilakukan Presiden Perancis, Emmanuel Macron. Ia menyeru negara-negara Eropa untuk mewujudkan sebuah organisasi pertahanan bersama dan memperkuat solidaritas di antara negara-negara Uni Eropa.
Macron yang menuntut diakhirinya sikap bersandar Eropa kepada bantuan Amerika, menegaskan, Eropa harus mencapai "independensi strategi" di bidang pertahanan. Menurut Macron, untuk mencapai tujuan ini kerja sama harus diperkuat secara otomatis, sehingga jika sebuah negara diserang, akan tercipta solidaritas nyata untuk ikut intervensi.
Usulan-usulan yang disampaikan Macron pada kenyataannya adalah ide pembentukan sebuah sistem pertahanan bersama Eropa lewat Pasal 5 keputusan NATO tentang pertahanan kolektif. Pasal 5 itu menyebutkan, pertahanan kolektif yang dimaksud adalah, serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap seluruh anggota.
Pernyataan terbaru Presiden Perancis dapat dipahami terutama dengan memperhatikan semakin kerasnya sikap Presiden Amerika, Donald Trump terhadap NATO belakangan ini. Trump bahkan mengancam untuk menarik Amerika keluar dari NATO.
Secara implisit Trump dalam pesannya untuk sidang petinggi NATO terbaru di Brussels mengatakan, sudah saya katakan kepada negara-negara anggota NATO, jika mereka tidak memberikan uangnya, maka kami akan keluar dari organisasi ini.
Meski Presiden Amerika mengklaim bahwa statemennya bukan untuk melemahkan NATO dan organisasi ini tetap merupakan sekutu penting dan strategis Washington, namun jelas sikap Amerika sebagai salah satu anggota aktif NATO itu telah meningkatkan pesimisme Eropa terkait masa depan pakta militer ini.
Selain Perancis, Jerman juga menuntut penguatan pertahanan bersama Eropa. Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas pekan lalu dalam salah satu catatannya menekankan penguatan kerja sama militer dan upaya menciptakan "perimbangan" di hadapan Amerika.
Sembilan negara Eropa pada Juni 2018 lalu mendukung prakarsa Perancis untuk membentuk pasukan reaksi cepat. Uni Eropa pada Mei 2018 mengumumkan, mulai tahun 2021 hingga 2027, sekitar 20 miliar euro sudah dianggarkan untuk sektor pertahanan. Dana ini akan digunakan untuk mengembangkan teknologi baru militer.
Pemerintah negara-negara Eropa berkesimpulan bahwa sekarang sudah waktunya untuk mandiri dan saatnya untuk terlepas dari ketergantungan mutlak pada Amerika dalam menjaga keamanan Eropa, terutama karena Trump secara tegas mengatakan, Amerika sudah tidak bersedia lagi memberikan "tumpangan gratis" kepada sekutu-sekutunya dan menuntut mereka, bukan saja membayar biaya pertahanannya, bahkan Washington harus diuntungkan dari hubungan dengan mereka.
Langkah Eropa untuk mendapatkan independensi di bidang pertahanan dan militer yang salah satu tujuannya untuk mewujudkan kemampuan Eropa mengatasi krisis keamanan internal, semakin memantik ketidakpuasan Amerika, pasalnya jika hal ini tercapai artinya kapasitas Washington untuk melakukan intervensi dan mengatasi krisis Eropa akan menurun. Namun demikian, sepertinya Uni Eropa tetap bertekad untuk segera meraih kapasitas dan kemampuan pertahanan dan militernya sendiri secara independen. (HS)