Motif Kunjungan Menlu Jerman ke Turki
-
Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas
Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas bertemu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan untuk membahas sejumlah masalah bilateral dan internasional.
Selain bertemu presiden Turki, Maas juga berdialog dengan sejawatnya dari negara ini, Mevlüt Çavuşoğlu guna membicarakan sejumlah isu penting.
Sebelum mengunjungi Turki, menlu Jerman di hadapan wartawan mengatakan, tujuan lawatannya untuk memulihkan hubungan bilateral antara Berlin dan Ankara. Menurutnya, kunjungan tersebut juga penting bagi Turki yang akan memperkuat hubungan Ankara dengan mitra Eropanya yang sempat renggang itu.
"Turki bukan hanya tetangga besar saja, tapi juga mitra penting Jerman,"ujar Heiko Maas.
Tahun lalu, Presiden Turki menyampaikan statemen yang memicu protes keras dari pemerintah Jerman. Ketika itu, Erdogan menyebut Jerman dengan embel-embel Nazi yang disampaikan sebagai reaksi ketika menlu Turki tidak diberikan kesempatan pidato dalam sebuah kampanye pemilu di Jerman. Hubungan kedua negara memanas, terutama setelah beberapa warga Jerman ditangkap di Turki.
Hubungan Jerman dan Turki yang memanas tersebut berdampak terhadap berbagai aspek, terutama ekonomi. Padahal sekitar empat juta orang warga Jerman atau lima persen dari populasi negara ini diisi oleh orang-orang Turki.
Selain hubungan bersejarah kedua bangsa, orang-orang Turki di Jerman berharap pilpres akan dimenangkan oleh rival Erdogan. Tapi faktanya tidak demikian, karena Erdogan kembali memimpin Turki. Oleh karena itu, Berlin tidak bisa menunggu lama untuk menjalin kembali hubungan dengan sesama anggota NATO itu.
Selain itu, banjir pengungsi dari Timur Tengah menuju Eropa membuat Jerman melihat Ankara bisa diajak bekerja sama dalam mengatasi masalah tersebut.
Mengenai masalah ini, Analis Eropa, Gabriela Baczynska menulis, "Sampai saat ini begitu banyak pencari suaka memasuki Eropa yang telah menimbulkan masalah besar bagi tuan rumah. Kini negara-negara Eropa menghadapi pertanyaan besar, bagaimana menerima jumlah pengungsi yang begitu besar,".
Tampaknya, Turki juga melihat masalah ini sebagai peluang baginya untuk memanfaatkan masalah tersebut demi meningkatkan daya tawar dalam perundingan dengan mitra Eropanya, termasuk Jerman. Padahal sebelumnya, Turki tidak memiliki kemampuan untuk menerima para pengungsi tersebut. Oleh karena, Turki dan Jerman tengah mencari titik tengah untuk mencapai kesepakatan bersama.
Selain itu, bagi Ankara, kunjungan Menlu Jerman bisa menjadi jalan untuk meretas solusi menyelamatkan negaranya dari dampak destruktif kebijakan proteksionisme ekonomi Trump yang telah memukul nilai tukar Lira terhadap Dolar.(PH)