Momen Jabat Tangan Trump dan Macron Menjadi Viral
https://parstoday.ir/id/news/world-i64043-momen_jabat_tangan_trump_dan_macron_menjadi_viral
Presiden Amerika Serikat Donald Trump hari Sabtu, 9 November 2018 bertemu dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron di Istana Elysee untuk membahas keamanan di Timur Tengah dan Eropa. Pertemuan tersebut berlansung setelah Trump melancarkan kecaman keras tidak lama setelah mendarat di Paris pada hari Jumat , 8 November 2018,
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 11, 2018 14:00 Asia/Jakarta
  • Momen Jabat Tangan Trump dan Macron Menjadi Viral.
    Momen Jabat Tangan Trump dan Macron Menjadi Viral.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump hari Sabtu, 9 November 2018 bertemu dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron di Istana Elysee untuk membahas keamanan di Timur Tengah dan Eropa. Pertemuan tersebut berlansung setelah Trump melancarkan kecaman keras tidak lama setelah mendarat di Paris pada hari Jumat , 8 November 2018,

Wartawan Reuters Steve Holland dalam tweetnya pada hari Sabtu mengunggah foto jabat tangan Trump dan Macron. Foto tersebut menjadi viral di media sosial. Para netizen berkomentar bahwa usaha Macron untuk menekan tangan Trump sekuat tenaga adalah unjuk kekuatan presiden Perancis itu di hadapan presiden AS.

 

Trump berkunjung ke Paris untuk mengikuti upacara peringatan 100 tahun gencatan senjata yang mengakhiri Perang Dunia I yang menewaskan lebih dari 40 juta orang. Upaya yang diadakan di Arc de Triomphe itu akan dihadiri oleh puluhan pemimpin dunia.

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi keinginan Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk membentuk pasukan gabungan Eropa.

 

Menurut AFP, Trump menuliskan kicauan tentang kegusarannya setelah dia mendarat di Paris untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia I.

 

"Presiden Macron dari Perancis menyerukan agar Eropa membentuk militernya agar bisa melindungi diri dari Rusia, China, maupun AS," tulis Trump seperti dilansir Kompas.

"Sungguh keterlaluan. Namun mungkin Eropa bisa mulai membayar lebih banyak biaya NATO yang selama ini ditanggung AS," imbuhnya.

 

Sebelumnya dalam wawancara dengan radio Europe 1, Macron menyerukan agar dibentuk sebuah tentara Eropa "yang sejati" untuk menangkal ancaman dari Rusia, China, bahkan AS.

 

Macron menjelaskan Benua Biru harus mulai mengurangi ketergantungan kepada AS setelah Trump mengumumkan keluar dari perjanjian nuklir era Perang Dingin.

 

Kesepakatan bernama Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF) itu ditandatangani pada 8 Desember 1987 antara Presiden AS Ronald Reagan dan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev.

 

Mantan Menteri Industri, Ekonomi, dan Bidang Digital itu mengungkapkan, Eropa bakal menjadi korban jika AS serius keluar dari INF.

 

"Kami tidak akan bisa melindungi masyarakat Eropa kecuali kami memutuskan untuk membentuk pasukan Eropa yang tangguh," tutur Macron.

"Kami membutuhkan Eropa yang bisa melindungi dirinya sendiri dengan baik, tanpa harus bergantung kepada AS," lanjut presiden 40 tahun tersebut.

 

Dia menyerukan dibentuknya sebuah pasukan khusus gerak cepat dari sembilan negara Eropa, dimana pembentukannya bersifat mandiri dari NATO. Pasukan dengan jumlah lebih kecil itu bisa dikerahkan untuk misi gunung, mengevakuasi warga dari zona perang, maupun membantu penanganan bencana.

 

Proposal untuk membentuk komando gabungan itu terbilang sensitif di kalangan para pemimpin Eropa dalam mempertahankan kedaulatan wilayah mereka.