Peringatan Rusia Soal Ancaman Serangan AS ke Venezuela
-
Maria Zakharova
Perkembangan politik terbaru di negara kaya minyak Venezuela dan perseteruan kubu oposisi dengan pemerintah sosialis negara ini, memasuki fase sensitif. Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, Rabu lalu dengan dukungan Amerika Serikat dan sekutunya, memproklamirkan diri sebagai presiden interim negara itu. Langkah itu jelas merupakan kudeta terhadap pemerintah dan rakyat Venezuela.
Saat ini Amerika dan sekutu-sekutunya mendukung Juan Guaido untuk menumbangkan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro di Venezuela. Para pengamat meyakini apa yang dilakukan Amerika di Venezuela adalah model berbahaya yang jika dibiarkan oleh masyarakat internasional, maka ia akan menular ke negara-negara lain dan mengancam semangat demokrasi.
Masalah ini memicu reaksi keras Rusia sebagai pendukung Maduro. Dalam hal ini Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Selasa (29/1/2019) malam meminta negara-negara Barat untuk menghapus ide atau hipotesis terkait pentingnya intervensi militer di Venezuela.
Reaksi Moskow atas kemungkinan intervensi militer Amerika ke Venezuela muncul setelah mengamati bukti-bukti yang terjadi di lapangan. Pada jumpa pers Penasihat Keamanan Nasional Amerika, John Bolton yang digelar untuk membahas sanksi baru atas Caracas, muncul spekulasi penggunaan kekuatan militer untuk menumbangkan pemerintahan Maduro.
Dalam jumpa pers itu, Bolton mengumumkan sanksi perusahaan minyak Venezuela dan sebagaimana disampaikan sebelumnya oleh Presiden Amerika Donald Trump ia menegaskan bahwa semua opsi tersedia di atas meja terkait Caracas.
Beberapa jam setelah jumpa pers itu, foto Bolton tersebar di media sedang memegang secarik kertas bertuliskan pengiriman 5000 pasukan ke Kolombia. Publikasi foto itu menyebabkan spekulasi soal pengiriman pasukan Amerika ke Kolombia dalam waktu dekat, di media sosial.
Kolombia yang sebelumnya mengumumkan dukungan atas Juan Guaido diprediksi akan menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika untuk menyerang Venezuela.
Berdasarkan kesepakatan negara-negara benua Amerika, tidak ada satupun negara di benua ini yang diperbolehkan menempatkan pasukan di negara lain. Amerika jelas melanggar kesepakatan tersebut jika sampai menempatkan pasukannya di Kolombia.
Saat ini bisa dianggap kemungkinan intervensi militer Amerika ke Venezuela semakin menguat dibanding sebelumnya dengan maksud untuk menggulingkan pemerintahan Maduro.
Jelas hal ini memicu kekhawatiran Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova memperingatkan Amerika terkait segala bentuk langkah yang bisa merusak stabilitas di Amerika Latin terutama Venezuela.
Dalam pandangan Rusia, pemerintahan Trump sedang berusaha menjalankan kebijakan interventif di Amerika Latin dengan maksud melemahkan dan akhirnya menumbangkan pemerintahan sosialis Venezuela dan menaikkan pemerintahan boneka yang bergantung pada Washington. (HS)