Ketika Moskow Beri Peringatan Keras Washington Soal Intervensi Militer di Venezuela
-
Sergei Lavrof dan Mike Pompeo
Di bawah kepemimpinan Donald Trump, Amerika Serikat telah mempercepat upayanya untuk menggulingkan pemerintah kiri Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro dengan mengimplementasikan perluasan jangkauan propaganda dan perang sarafnya hingga sanksi ekonomi besar-besaran dan pada akhirnya menggelar ancaman serangan militer.
Dalam hal ini, Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada Rabu (01/05) dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi Fox News mengklaim bahwa jika perlu, Washington siap untuk memasuki perang dengan negara ini. Pompeo mengklaim bahwa langkah militer terhadap Venezuela adalah mungkin dan penting.
Sebelumnya, Menlu AS mengklaim bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro ingin meninggalkan Venezuela, tetapi Rusia telah mencegahnya. Tetapi bagaimanapun, sanksi AS telah melumpuhkan pemerintahannya.
Ancaman Amerika Serikat ini direaksi langsung dan keras oleh Rusia.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari Rabu dalam pembicaraan via telepon dengan Mike Pompeo, timpalannya dari Amerika Serikat memperingatkan dampak tindakan permusuhan Washington terhadap Venezuela.
Lavrov dalam percakapan telepon itu menyebut intervensi AS dalam urusan internal Venezuela adalah pelanggaran mencolok hukum internasional dan mengatakan bahwa langkah agresif AS terhadap Venezuela akan memiliki konsekuensi serius.
Krisis politik di Venezuela telah memasuki fase baru sejak 30 April, ketika Juan Guaido, pemimpin kubu oposisi, yang didukung penuh oleh AS, dalam sebuah pesan video menyerukan kepada rakyat dan angkatan bersenjata untuk melancarkan pemberontakan bersenjata melawan Nicolas Maduro. Namun, seruan tidak disambut oleh militer dan rakyat Venezuela, sehingga kudeta Guaido dan sekutunya gagal.
Guaido menyebut dirinya sendiri Presiden Venezuela pada 23 Januari, dengan dukungan nyata dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, sebuah langkah yang oleh pemerintah dan bangsa Venezuela disebut kudeta terhadap presiden terpilih, Nicolas Maduro.
Amerika Serikat dan sekutunya telah mengakui Guaido sebagai presiden Venezuela dan sejak itu Washington telah berupaya memprovokasi tentara Venezuela untuk bergabung dengan oposisi.
Masalah ini telah memicu reaksi keras oleh rival internasional Amerika Serikat; Rusia dan Cina. Selain dua negara ini, banyak negara, termasuk Iran dan Turki, telah mengecam pendekatan AS ini dan menekankan perlunya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Venezuela.
Washington di awal krisis politik di Venezuela membayangkan bahwa, seperti di masa lalu, terutama selama Perang Dingin, ia akan dapat menggulingkan pemerintah kiri Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro dengan kekerasan dan permusuhan, tetapi penentangan serius kekuatan internasional lainnya, terutama Rusia Dan Cina dan tindakan mereka untuk melindungi Maduro dengan mengirimkan pasukan mereka ke Venezuela kepada memberikan pesan kepada para pejabat AS bahwa periode unilateralisme dan langkah-langkah intimidasi Washington untuk mencapai tujuannya di negara-negara lain telah berakhir.
Dengan kegagalan pemberontakan militer baru-baru ini di Venezuela, Washington dihadapkan dengan kegagalan mencolok untuk menggulingkan Maduro dan untuk menjustifikasi masalah ini, AS mengklaim bahwa militer Rusia yang berbasis di Caracas telah mencegah kemenangan para perusuh pendukung Guaido. Dengan demikian, Amerika Serikat secara sengaja mengabaikan peran rakyat dan militer yang loyal kepada Maduro dalam menggagalkan kudeta hari Selasa, 30 April.