Sikap AS atas Langkah Iran Kurangi Komitmen JCPOA
https://parstoday.ir/id/news/world-i71687-sikap_as_atas_langkah_iran_kurangi_komitmen_jcpoa
Pemerintah AS selalu menyampaikan kekhawatiran atas langkah Iran mengurangi komitmennya dalam kesepakatan nuklir JCPOA, padahal AS sendiri secara sepihak keluar dari kesepakatan ini pada Mei 2018.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 08, 2019 14:45 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi mesin sentrifugal pengaya uranium.
    Ilustrasi mesin sentrifugal pengaya uranium.

Pemerintah AS selalu menyampaikan kekhawatiran atas langkah Iran mengurangi komitmennya dalam kesepakatan nuklir JCPOA, padahal AS sendiri secara sepihak keluar dari kesepakatan ini pada Mei 2018.

Iran mulai kemarin telah meningkatkan pengayaan uranium dari 3,67 persen ke level yang lebih tinggi. Deputi Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengatakan batas waktu 60 hari yang diberikan kepada Eropa sudah berakhir.

"Karena Eropa tidak mampu memenuhi tuntutan Iran dalam kerangka JCPOA, maka Tehran mengambil langkah kedua pengurangan komitmen nuklirnya," tegasnya dalam konferensi pers di Tehran.

Menanggapi keputusan Tehran meningkatkan pengayaan uranium, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran lebih baik berhati-hati. Para pejabat Washington lainnya mengeluarkan peringatan terhadap Tehran.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo dalam sebuah cuit di Twitter-nya menulis, "Iran akan menghadapi sanksi lebih lanjut jika benar melanggar batas pengayaan uranium. Perluasan program nuklir Iran terbaru akan mengarah pada isolasi dan sanksi lebih lanjut."

"Negara-negara harus mengembalikan standar lama tentang tidak ada pengayaan untuk program nuklir Iran. Negara Iran yang dipersenjatai dengan senjata nuklir, akan menimbulkan bahaya yang bahkan lebih besar bagi dunia," ujarnya.

Republik Islam Iran justru mengancam akan mengambil langkah ketiga dalam 60 hari ke depan jika tidak ada perubahan atas situasi saat ini.

Mike Pompeo (kiri) dan Donald Trump (kanan).

Selama ini Washington yakin bahwa Tehran tidak akan mengambil langkah apapun setelah AS keluar dari JCPOA dan juga keengganan Eropa untuk menjalankan komitmen kesepakatan. Mereka berpikir Iran akan terbuai dengan janji-janji Uni Eropa dan trioka Eropa (Prancis, Inggris, dan Jerman).

Namun, langkah terbaru Iran membuat para pejabat AS tersentak dan mereka hanya bisa mengeluarkan reaksi yang emosional. Tentu saja reaksi para petinggi Eropa sudah bisa ditebak.

Para pejabat Prancis, Inggris dan Jerman menyatakan keprihatinan atas keputusan baru Iran mengurangi komitmen nuklirnya. Mereka mendesak Tehran untuk menghentikan kegiatannya sesegera mungkin dan kembali ke keadaan sebelumnya. Mereka sama sekali tidak berbicara tentang komitmen dan janji-janjinya yang belum dipenuhi kepada Iran.

Pemerintahan Trump tidak memiliki pengenalan yang tepat tentang Iran dan mereka pun lebih memilih larut dalam ilusi ketimbang memperhatikan realita.

Mantan koordinator sanksi Iran di era Obama, Richard Nephew menuturkan, "Hal yang membuat saya terkejut dengan langkah terbaru Iran adalah bahwa ada orang-orang yang meyakinkan saya, jika kita memberi sanksi kepada Tehran karena kembali melanggar JCPOA, mereka akan terdiam. Kini terbukti bahwa orang-orang seperti kami yang selalu memperingatkan akan tindakan balasan Iran atau berbicara tentang keringanan sanksi agar Iran setia pada JCPOA, adalah tidak gila."

Pada dasarnya, pejabat pemerintahan Obama ini mengkritik kinerja Trump karena mengabaikan peringatan-peringatannya tentang tindakan balasan Iran.

Bagaimana pun, Republik Islam akan mengambil langkah demi langkah dan terukur dalam kerangka JCPOA.

Sekarang jika Eropa ingin mempertahankan kesepakatan nuklir, mereka harus segera mengambil tindakan efektif dan menerapkan mekanisme yang akan melindungi Iran dari dampak sanksi AS. (RM)