Kebingungan Trump Hadapi Resistensi Iran
Di tengah berlanjutnya perlawanan Iran terhadap tekanan AS, Presiden Donald Trump terlihat putus asa untuk mencapai apa yang disebutnya kesepakatan baik dengan Iran.
Dalam pernyataan kepada wartawan sesuai bertemu Perdana Menteri Pakistan Imran Khan di Gedung Putih, Senin (22/7/2019) mengatakan bahwa semakin sulit baginya untuk membuat kesepakatan dengan Iran.
Soal program pemerintahannya dalam berurusan dengan Iran, Trump menuturkan, "Saya hanya akan duduk dan menunggu. Mari lihat apa yang terjadi."
Sikap Iran tetap tidak berubah dan menolak perundingan dengan AS meskipun Trump menerapkan kebijakan tekanan maksimum, mengembalikan sanksi, dan bahkan mengancam serangan militer.
Padahal, Trump yakin bahwa Iran akan menyerah setelah AS keluar dari perjanjian nuklir dan menerima sebuah kesepakatan baru yang menurutnya, lebih baik dari JCPOA.
Perjanjian nuklir JCPOA dicapai antara Iran dan enam kekuatan dunia plus Uni Eropa setelah melakukan lebih dari 10 tahun perundingan intensif. Menurut para analis politik dan pakar nuklir, JCPOA adalah sebuah dokumen yang paling sempurna dan paling rinci di antara semua perundingan nuklir di dunia.
Ketua Komisi Intelijen DPR AS, Adam Schiff mengatakan, "Kita perlu menemukan jalur diplomatik untuk mengurangi ketegangan dengan Iran, tetapi masalahnya adalah mengapa kita keluar dari perjanjian nuklir ketika Iran menerapkannya."
Mantan Duta Besar Inggris untuk AS, Sir Kim Darroch dalam sebuah laporan ke London, menerangkan bahwa Presiden Donald Trump keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran dengan maksud menghina Barack Obama.
Pada waktu itu, Trump tampaknya berharap untuk mencapai kesepakatan lain dengan Iran dalam waktu singkat. Padahal, Tehran berulang kali menyatakan bahwa ia akan mematuhi ketentuan JCPOA dan dengan pihak yang tidak dapat dipercaya seperti pemerintahan Trump, tidak akan bernegosiasi.
Sikap Trump dan timnya telah mengubur harapan mereka sendiri untuk membuka sebuah perundingan baru dengan Iran.
Republik Islam mengadopsi kebijakan perlawanan maksimum untuk melawan kebijakan tekanan maksimum AS. Iran secara bertahap mengurangi komitmennya dalam perjanjian nuklir setelah AS menarik diri dan Eropa juga tidak bisa diandalkan.
Negara ini juga tidak ragu-ragu dalam menembak jatuh drone pengintai AS yang menerobos wilayah udara Iran.
Trump sekarang berada pada posisi yang sulit. Di satu sisi, ia tidak mungkin kembali ke perjanjian nuklir dengan Iran karena ini akan merusak reputasinya. Di sisi lain, resistensi Iran terhadap sikap AS telah menghilangkan harapan untuk mencapai sebuah kesepakatan baru.
Saat ini ada kekhawatiran di Washington dan di antara sekutunya bahwa posisi Iran akan semakin kuat di hadapan AS di masa depan. Hal ini pula yang membuat Trump semakin bingung dalam menyikapi perlawanan Tehran. (RM)