Agenda Rusia untuk Melawan Arogansi Barat
-
Presiden Vladimir Putin berbicara di Forum Ekonomi Timur Jauh ke-5 di kota Vladivostok, Rusia.
Pemerintah Rusia mengambil beberapa inisiatif dan tindakan untuk melawan arogansi Barat dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden Vladimir Putin dalam pidatonya di Forum Ekonomi Timur Jauh ke-5 di kota Vladivostok, Rusia pada 5 September 2019, mengatakan Moskow ingin memproduksi rudal-rudal baru setelah menarik diri dari Traktat Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF).
"Rusia mengkhawatirkan rencana AS untuk menyebarkan rudal di Jepang dan Korea Selatan. Penyebaran ini juga akan mencakup bagian tertentu dari wilayah Rusia," ujarnya.
Traktat INF melarang AS dan Rusia untuk melakukan produksi dan uji coba rudal nuklir jarak menengah dan rudal balistik. Namun, Washington telah meninggalkan perjanjian itu dan secara praktis memulai pengembangan rudal jelajah berbasis darat, rudal balistik jarak menengah, dan rudal jarak dekat.
Langkah Washington bertujuan menggiring Moskow ke arena perlombaan senjata baru dan berusaha memperlemah ekonomi negara itu.
Meski para pejabat Moskow menolak perlombaan senjata, namun mereka menekankan pentingnya untuk menciptakan perimbangan kekuatan persenjataan.
Setelah AS melakukan uji coba rudal jarak menengah pada Agustus lalu, Presiden Putin memerintahkan militer Rusia untuk mengkaji secara detail tindakan AS itu dan bersiap untuk menunjukkan reaksi yang setara.
Putin dalam pidatonya di Vladivostok juga menyampaikan kekhawatiran atas rencana AS untuk menempatkan rudal baru di Asia Timur dan Eropa.
Pada kesempatan itu, Putin juga mengusulkan pembentukan organisasi baru untuk melawan grup negara-negara industri G7. Menurutnya, Turki, India, dan Cina dapat bergabung dengan kelompok internasional yang mirip G7 ini.
Ia percaya bahwa partisipasi Beijing dan New Delhi berpengaruh untuk kerja sama internasional. "Kekuatan ekonomi baru seperti Turki juga bisa menjadi anggota di organisasi internasional baru ini," tambahnya.
Putin yakin bahwa periode hegemoni Barat atas dunia sedang berakhir, dan partisipasi Cina dan India di organisasi-organisasi internasional adalah sebuah keniscayaan.
Negara-negara anggota G7 masih menganggap dirinya sebagai pengendali dunia, tetapi tampilnya kekuatan-kekuatan baru di bawah BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan) telah menciptakan tantangan baru bagi Barat.
Prancis sendiri mengakui bahwa hegemoni Barat sedang meredup di dunia. Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pidatonya pada 27 Agustus lalu, mengakui bahwa hegemoni Barat berada di ujung tanduk.
"Sekarang kita hidup di penghujung hegemoni Barat atas dunia dan hal ini disebabkan oleh kesalahan-kesalahan Barat di masa lalu. Dunia menyaksikan munculnya kekuatan baru yang kita abaikan pengaruhnya selama bertahun-tahun," ungkapnya.
Pudarnya hegemoni Barat sudah tidak bisa ditutup-tutupi dengan memperhatikan realitas baru di kancah internasional.
Rusia pernah merasakan hal serupa selama dekade 1990-an, namun negara itu mulai menghidupkan kembali kekuatannya di bawah kepemimpinan Vladimir Putin. Rusia sekarang dianggap sebagai rival utama Barat di ranah politik dan militer.
Pada intinya, munculnya forum-forum baru seperti Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) dan BRICS, telah melunturkan pengaruh organisasi-organisasi buatan Barat seperti G7. (RM)